Lengkapnya belajar diluar 'fullday school'

Dwi Cheppy Dharmawan
Karya Dwi Cheppy Dharmawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Lengkapnya belajar diluar 'fullday school'

Kami adalah sebuah kelompok mahasiswa yang senang berkumpul. Kami berkumpul hanya karena punya suatu kesamaan, yaitu mengobrol. Perbincangan kami sering seputar lingkungan sekitar seperti kondisi kampus, mata kuliah, film, game, olahraga sampai berita dimedia dan beberapa khayalan lainnya. Tak jarang kami membicarakan orang-orang hebat dikampus, kami membahas bagaimana cara yang bisa mereka raih untuk menjadi hebat. Beberapa  kali diantara kami mencoba menggali informasi bergantian kepada mereka yang dianggap hebat. Tujuannya simple, kami juga ingin hebat melebih mereka, namun ketika tau beberapa hal dari kehebatan mereka kami terkadang berpikir 'ahh gak mungkin gw begitu, susah banget'. Sampai ada suatu ketika salah seorang teman hebat yang kami kepoin menganggap ada trick yang sebernya kami lebih kuasai daripada dia. Dia bilang kepada kami "enak ya jadi kalian, bisa belajar langsung dari guru terhebat".

Kami bingung kenapa dia sampai bilang begitu, siapakah guru terhebat yang dia maksud. Memang beberapa dari kami berasal dari sekolah unggulan didaerahnya bahkan juga  ditingkat nasional tapi belum pernah mendengar salah satu guru kami adalah yang terbaik. Selain itu teman kami itu juga berasal dari sekolah unggulan level nasional. Jadi siapa sih guru terhebat yang dia maksud? 

Pertanyaan itu langsung dia jawab dengan penuh keyakinan, begini katanya "kalian tuh bisa belajar langsung dari pengalaman, khususnya setelah pulang sekolah" dan dia melanjutkan " Gak kaya aku, yang kerjaannya belajar mulu diruangan, pulang sekolah harus les ini dan itu, terus sampe rumah udah capek dan pengennya istirahat aja deh, begitu-begitu aja tiap hari dan dikit banget pengalaman baru, cuma nambah pengetahuan baru". Kami memang sudah beberapa kali diskusi dengan dia, jadi beberapa kebiasaan kami waktu SMA dia tau. Kebiasaan kami aktif di ekstrakulikuler, ikut komunitas diluar sekolah, bahka yang sekedar main-main saja. Baginya dapet pengetahuan baru memang penting, tapi kalau kita punya pengetahuan tanpa pengalaman-pengalaman lainnya ya membosankan. Selain itu dia juga bilang "ada pengetahuan yang bisa kita kuasain dengan ngalamin dulu suatu hal'. 'ya, kamu emang bisa tau suatu hal dengan baca, liat, atau denger, tapi kalau punya pengalaman yang berkaitan dengan yang dipelajari pasti lebih tau" begitu tutupnya

Percakapan dengan teman yang memiliki IPK 4,00 sampai lulus itu membuat kami melahirkan banyak pikiran mengenai gagasan "full day school". Mungkin teman kami bukan orang yang mengalami 'fullday school' tapi kegiatannya saat SMA sepertinya sedikit menggambarkan seperti apa nanti rasanya menjadi anak fullday school. Berdasarkan ceritanya dan beberapa diskusi, kami jadi membayangkan seperti apa dampak sistem fullday school tersebut.

Fullday school adalah sebuah gagasan dimana seorang anak akan bersekolah dengan jumlah jam yang sama seperti pekerja kantoran dengan tujuan menjaga aktifitas anak agar tetap dalam pengawasan dan positif. Tujuan yang sungguh mulia sebenarnya, tapi ada sisi gelap yang seharusnya juga diperhatikan dari gagasan tersebut. Saat anak sudah berada disekolah seharian pasti fisiknya lelah saat sampai dirumah, kemudian ingin segera istirahat dan kuantitas serta kualitas bersama keluarga kemungkinan jadi berkurang.  Bukankah kualitas pendidikan di lingkungan keluarga itu sangat penting? kalau seperti ini kondisinya, kapan anak bisa bercerita mengenai seperti apa kondisinya termasuk 'harinya'. Selain itu semakin terbatasnya kesempatan anak untuk mendapatkan pengalaman baru berdasarkan passionnya masing-masing, karena sekolah pasti akan kesulitan untuk memenuhi semua passion peserta didiknya. Bagaimana juga kalau sang anak merasa tertekan atau tertindas disekolah dan dia harus bertahan lebih lama disekolah sementara semakin sedikit kesempatan dia cerita kepada orangtuanya? 

Sepertinya kami perlu diskusi yang semakin mendalam ya tentang gagasan ini, mungkin perlu juga dari sudut pandang psikologi sebagai background pendidikan kami.. Semoga kami masih punya waktu ditengah proses kejar wisuda

  • view 135