Melukai Perjuangan Para Pejuang PTN

Dwi Cheppy Dharmawan
Karya Dwi Cheppy Dharmawan Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Juni 2016
Melukai Perjuangan Para Pejuang PTN

Melukai Perjuangan Para Pejuang PTN

Hari ini adalah hari yang ditunggu banyak pemuda negeri ini. Mereka menunggu datangnya pengumuman SBMPTN, salah satu jalur seleksi untuk masuk perguruan tinggi negeri. Perguruan tinggi negeri (PTN) masih menjadi gengsi tersendiri bagi mayoritas masyarakat negeri ini.

Gengsi yang besar untuk masuk PTN terkadang bukan hanya dimiliki oleh calon mahasiswa, melainkan juga oleh orangtuanya. Bahkan dibeberapa kasus orang tua yang memiliki gengsi lebih besar daripada anaknya. Banyak cara ditempuh untuk memenuhi gengsi tersebut, mulai dari mengikuti bimbingan belajar, mengatur jadwal seketat mungkin, meningkatkan amal ibadah sampai membuka pintu khusus dengan uang.

Sebuah rahasia umum bahwa banyak PTN di negeri ini dapat dengan mudah dibuka pintu masuknya dengan uang. Cukup dengan menawarkan besarnya nominal angka kepada beberapa pihak maka akan ada suatu jaminan nama yang diinginkan masuk sebagai mahasiswa di PTN tersebut.

Memaksa masuk dengan menggunakan sejumlah uang sebenarnya adalah cara yang dapat melukai para pejuang untuk menjadi mahasiswa PTN. Mereka senang saat namanya dinyatakan lolos sebagai mahasiswa PTN, mereka akan bangga dengan pencapaian dirinya, bersyukur apa yang sudah dilakukannya membuahkan hasil manis dan itulah bayang semu yang harus mereka rasakan.

Bayang semu tersebut nantinya akan semakin jelas wujudnya saat pejuang itu telah menjadi pejuang bangsa  ini. Saat para pejuang mulai menjadi sosok yang menggilai kejujuran. Pejuang tersebut akan teringat akan kegembiraan dimasa lalunya. Kegembiraan tersebut akan berubah menjadi racun yang sangat menyakitkan bagi mereka. Saat mereka ingin menegakan kejujuran bagi bangsa ini tapi mereka tau bahwa posisinya saat ini diraih dengan cara tidak jujur.

Mengapa mereka akan merasa sakit? Mereka akan terluka saat mengingat seberapa besar perjuangan yang telah dilalu untuk mencapai impiannya dirusak dengan cara yang dibencinya. Sekaligus menjadi bukti ketidakpercayaan orang tua kepada usaha anaknya sendiri.  

Rasa yang dirasakan seperti memberi obat keras pada anak yang sedang berjuang melawan rasa sakitnya yang teramat sakit. Obat yang terlalu keras, mampu mengobati dalam waktu singkat namun menyakiti bagian lain dengan lebih parah diwaktu yang akan datang.

Sebuah rasa yang seharusnya sudah dipikirkan oleh mereka yang memaksa pintu lain terbuka bagi orang yang disayanginya.

 

Dilihat 117