Rindu Itu #Kenalilah Jiwamu (5)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 17 Maret 2016
Rindu Itu #Kenalilah Jiwamu (5)

Dengan pengalaman dan pemahaman ala kadarnya saya terus mengamati diri saya. Hari demi hari, bulan demi bulan. Bahkan tahunan. Saya tidak tahu apakah ini akan bener-benar mengantarkan saya pada pemahaman mengenai jiwa.
?
Namun yang jelas itu kebutuhan real yang ada di depan saya. Hidup saya tak berantakan amat, namun kesedihan yang melanda bisa membuat saya terombang-ambing di samudera ketidakmendentuan. Saya tak berkekurangan secara materi, namun secara batin saya kesepian dan butuh untuk dikenali. Saya ingin hidup saya lebih tenang, lebih damai, lebih semeleh dan sedalam samudera. Saya ingin belajar ?sesuatu?--yang terasa seperti menghisap madu sari bunga asoka--sebagaimana kenangan indah di masa kecil saya. Manisnya sakdulit (Jawa: cuma sedikit), namun rasanya ?sak langit? (Jawa: setinggi langit). Menghisapnya sih sederhana, namun dampaknya melambungkan hati.
?
Saya tak butuh pintar-pintar amat. Namun saya berharap saya menemukan penutup bagi lubang kerinduan saya. Yang saya saja tak mampu mendefinisikannya selain dengan resah dan gundah.
?
Jujur keluarga saya pernah mengalami perjalanan yang berat di akhir saya SMA. Tak mudah bagi seorang introvert--yang biasa aman dan nyaman di rumah--seperti ingin pergi jauh dari rumah. Tak mau pergi jauh, namun ada kenyataan yang ingin ditolak untuk menjadi bagian dari diri.
?
Di Psikologi, saya mengenali kondisi saya disebut depresi. Kesedihan yang berkepanjangan. Yang kalau dalam diri saya timbul-tenggelam. Artinya kadang terlupakan dengan aktivitas, namun akan merajang ketika bertemu dengan pematiknya. Itulah mengapa saya berharap banyak pada Psikologi pada saat itu untuk membantu menemukan jalan bagi ?kesembuhan? saya.
?
...dan semenjak remaja, saya sering menemukan momen-momen kerinduan yang saya tahu benar itu terasa romantis namun sunyi. Laksana terpanggil, selaksa dirindui oleh sesuatu atau seseorang. Saya berusaha keras memahaminya. Saya berusah mengerti ?kerinduan macam apa ini?. Hingga akhirnya menyerah untuk menerjemahkan dalam kata dan memberi label secara sederhana ?saya kangen pasangan hidup saya? atau ?saya sedang dikangeni seseorang?. Padahal sejujurnya rasa itu terlalu kompleks dan terlalu dalam hanya untuk dibahasakan seperti itu.
?
Agh...
?
Kerinduan yang kemudian saya berhasil bahasakan sesudah saya bertemu dengan Rabiah Al-Adawiyah (semoga Allah senantiasa merahmati beliau)--seorang sufi perempuan di Basrah. Pertemuan secara literalis itu membantu saya menilai pengalaman-pengalaman hidup yang tak terjelaskan saat itu. Walau tentunya kalau pada posisi sekarang untuk menilai kondisi tersebut, tentu saya melihat ada banyak jalinan sebab dan faktor.
?
Perempuan suci Rabiah berhasil mengatakannya untuk saya.
?
Kerinduan ?romantis? macam apa itu.
?
Kerinduan tentang keberakaran, Tentang Rumah dan Siapa yang Tinggal. Tentang Kenangan Rindu yang ditanam tentang Rumah. Tentang asal-usul keberadaan kita di muka bumi. Tentang jawaban semua pertanyaan-pertanyaan yang seperti tidak memiliki ujung pangkal jawabannya: ?Mengapa ada duka cita??; ?Mengapa ada dendam dan air mata?? ?Mengapa selalu terasa rindu dengan sesuatu yang benar, baik dan indah??
?
Ini kerinduan eksistensial untuk memahami asal-usul diri. Bukan hanya yang terjawab dengan ?nama ayah? dan ?nama ibu? atau berasal dari keluarga raja, ratu, cendekia, atau durjana. Ini kerinduan untuk menemukan hakikat diri--dari mana saya berasal, ?siapakah? sebenarnya saya ini, mau apa saya datang ke muka bumi ini, dan ke mana semua ini akan dipulangkan.
?
Dengan ini saya menjadi semakin memahami, mengapa kata ?rumah?, ?pulang?, ?rindu?, ?dirindui? , ?cinta?, dan ?dicintai? menjadi begitu punya kesan mendalam di kedalaman jiwa saya. Melebihi kata yang lain. Hingga hari ini.
?
Putaran-putaran kata dan ingatan manis tentang ?rumah? telah membantu saya bertahan untuk menghadapi kondisi depresi saya.
?
...dan hari-hari bersama Rabiah Al-Adawiyah membuat saya berkumpul dalam gulatan perenungan yang semakin mendalam bersama guru-guru di masa lampau. Ruhnya mengajari dalam ungkapan literalis yang terkadang bahasanya susah saya mengerti, namun hati saya sepertinya jauh lebih memahami. Kerinduan saya untuk semakin memahami ?jiwa pun semakin menggunung. Semakin tak tahu harus bagaimana diarahkan.
?
(bersambung)
?
Gambar diambil dari sini
?
#Kenalilah Jiwamu

  • view 166