Tukang Benah-Benah Pikiran #Kenalilah Jiwamu (4)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 15 Maret 2016
Tukang Benah-Benah Pikiran #Kenalilah Jiwamu (4)

Sebab kebodohan saya, di awal-awal mengamati pikiran, saya kedodoran luar biasa. Sebab yang terjadi saya menjadi pengamat sekaligus menjadi tukang ?dandan-dandan? (Jawa: memperbaiki). Ditambah lagi saat itu saya sedang ?menyukai? seseorang yang tidak menyukai saya. Tahukan rasanya? Saat kau menyukai seseorang dan orang itu tak menyukai Anda? Tidak nyaman-lah, banyak pikiran yang keluar masuklah, dan setiap yang negatif yang masuk secara serius saya benahi. Berpikir positif begitu kata orang Psikologi.
?
...dan hasilnya sungguh luar biasa. Saya semakin cemas, jauh dari tenang dan jauh dari positif. Sebab semakin berusaha menjinakkan pikiran negatif menjadi positif itu sungguh luar biasa sakitnya. Ini perjuangan yang besar untuk tetap membuat wajah yang kita sukai menjadi tetap baik--walau yang dirasakan dalam benak takut bercampur marah yang luat biasa. Mengapa dia menolak saya? Mengapa sih kemarin ngomong begitu? Mengapa sepertinya dia semakin menjauh? Nanti kalau ketemu bagaimana? Nanti kalau harus mengerjakan tugas bagaimana? Pertanyaan yang bergulir datang dan saya sibuk membuat penyangkalan atau mencari jawaban.
Sungguh di awal-awal pencarian atas pemahaman jiwa, saya berhadapan sendiri dengan diri saya. Saya disuguhi pemandangan yang ?aduhai? tentang diri, yang semakin melihatnya semakin marah dan jengkel rasanya.
?
Kehidupan saya saat itu mirip yang digambarkan sebuah tembang anak-anak di Jawa,
?
Eh, dayoh? t?ka, eh, g?lar?n klasa
Eh, klasan? b?dhah, eh, tambal?n jadah
Eh, jadah? mambu, eh, pakakna asu,
Eh, asun? mati, eh, buwaka kali
Eh, kalin? banjir, eh buwanga pinggir
?
Terjemahan bebas

Eh, tamunya datang, eh bukalah tikar
Eh, tikarnya berlubang, eh, tamballah dengan jadah
Eh, jadahnya basi, eh, berikan sama anjing
Eh, anjingnya mati, eh, buanglah di kali
Eh, kalinya banjir, eh, buanglah di pinggir
?
Seorang yang kedatangan tamu, yang kemudian menggelar tikar, namun menemui tikarnya robek. Berusaha menambal tikarnya dengan jadah (makanan yang terbuat dari campuran beras ketan dan kelapa, yang dideplok untuk membuatnya). Ternyata menemukan jadahnya basi, akhirnya dia mengurusi basinya jadahnya tadi. Dicarinya anjing agar jadahnya tidak sia-sia dan mubadzir. Saat mencari anjing ternyata menemukan anjingnya mati. Urusannya menjadi beralih pada anjing, agar bangkai anjing itu tidak mengganggu. Saat mau membuang ternyata kalinya banjir, sehingga dia hanya membuang bangkai anjingnya di pinggir kali.
Yang seharusnya mengurusi tamu malah jauh pergi ke kali untuk mengurusi bangkai anjing. Sungguh ajaib aliran pikiran manusia itu. Memikirkan satu hal yang lainnya terbawa tanpa putus-putus dan sepertinya tak mampu dibendung dan dihentikan.
?
...dan dengan cara yang begitu itu--yang membuat hari demi hari saya larut menjadi pengamat yang bodoh. Yang merangkap menjadi komentator dan tukang benah-benah, Sibuk rasanya membenahi pikiran, namun yang terjadi adalah sahutan yang panjang. Yang terjadi adalah rangkaian aliran yang mengalir tak putus-putus. Saya pun kecapekan luar biasa. Hari-hari yang tidur pun sepertinya saya masih membawa masalah hingga ke alam mimpi.
?
Agh, semakin sulit saja rasanya berdiri di ujung jarum...
?
(bersambung)
?
?
Gambar diambil dari sini
?
#Kenalilah Jiwamu

  • view 126