Mengamati Pikiran # Kenalilah Jiwamu (3)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 14 Maret 2016
Mengamati Pikiran # Kenalilah Jiwamu (3)

Ada dua orang siswa meributkan kejantanan dan kebetinaan dua cicak yang nangkring di tembok. Salah seorang mengatakan kalau yang berwarna hitam dialah yang jantan, sementara yang putih adalah betina. Sementara siswa yang lain mengatakan sebaliknya. Yang hitam adalah betina dan yang putih adalah jantan. Mereka berdua berdebat, hingga melintas guru mereka. Bertanyalah mereka kepada guru tersebut,?Manakah yang jantan dan manakah yang betina??
?
Sang guru memandang sesaat ke atas melihat kedua cicak tersebut lalu menjawab,? Yang di sebelah jantan adalah betina, dan di sebelah betina adalah jantan.?
?
Kisah ini sedemikian populer di antara kami. Dulu.
?
Komik Zen--yang untuk membacanya bisa hanya 30 menit kurang. Namun untuk ?ngeh? bisa berhari-hari bahkan bertahun lamanya. Latihan koan [1] seperti itu, dulu mengasyikkan bukan hanya karena membantu saya mengenali banyak hal tentang diri, namun juga bisa untuk ?gaya?. Haha...gaya untuk tampak ?wah? dan ?membuat berkerut dahi orang lain.?
?
Lalu apa hubungannya dengan pencarian saya atas ?jiwa?.
Budha Zen dengan segenap metodenya membantu saya untuk melatih ?mengamati? aliran pikiran saya.
Sebagai seorang introvert--yang dibesarkan dengan pergaulan intens dengan buku-buku--saya terdidik secara tidak sadar menjadi ?pengamat? dibandingkan menjadi ?pelaku?. Apa saja diamati. Orang terduduk melamun diamati. Yang sedang asyik berbicara diamati. Seorang lelaki tanggung menyorongkan sumpit mie ke mulut kekasihnya, diam-diam pun saya amati. Perempuan muda yang hamil besar juga diamati.
?
Embun yang menitik, ayam jago yang berlarian mengejar betinanya, daun yang tertimpa angin, dan jatuh diamati. Saya terbiasa menjadi penonton dan mengamati semuanya dari pojokan diri. Melihat dan merasakannya sendiri. Dibandingkan dengan melihat konser musik yang bising, berbicara dengan banyak orang, saya lebih menyukai duduk terdiam sembari membaca buku dan melihat orang-orang yang melela di depan saya.
?
Nah, Zen meneguhkan kemampuan saya untuk semakin mengamati. Bedanya, Zen meminta saya untuk mengamati ?ke dalam? dan bukan hanya ? ke luar?. Tak hanya melihat orang tertawa terpingkal hingga terjungkal. Lihat yang di dalam juga tertawa sinis menertawakan dia yang terjungkal. Tak lagi hanya mengamati jatuhnya embun pagi. Namun coba simak ?jatuhnya? denting nada-nada di dalam pikiran dan emosi kita.
?
Akhirnya, saya menjadi pengamat yang baik pada buliran embun yang jatuh, untaian daun yang terbang, namun juga saya juga penyimak yang baik atas aliran pikiran saya sendiri. Walau semakin sering mengamati pikiran saya, saya semakin tahu betapa kusutnya jalinan berpikir saya. Tak jelas polanya, tak jelas rupanya. Tak jelas bentuknya, begitu sewrawut, dan ada waktu saya semakin capek. Melihat diri saya sendiri. Sementara untuk ?berdiri di ujung jarum? pun terus hanya menjadi konsep yang terus menggerus tanda tanya.
?
[1] koan: sepotong kata atau kalimat yang digunakan untuk melatih pengamatan diri untuk membantu sisw Zen mengalami pencerahan
?
(bersambung)
?
Gambar diambil dari sini
?
# Kenalilah Jiwamu

  • view 259