Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 13 Maret 2016   03:17 WIB
Berdiri di Ujung Jarum #Kenalilah Jiwamu (2)

Setelah saya mengenali Psikologi--bahwa dirinya tidak akan mengajari saya secara langsung terhadap jiwa--maka pencarian pun berlanjut dengan cara yang nonformal. Tuhan pun mengirimkan utusan-utusanNya untuk mengajari. Salah seorang yang dikirimnya bernama Mas Dwi.
?
Pria aneh yang kemudian saya kenal dengan nama A.H. Dwijuwono. Pria dengan penampakan tak rapi, kucel, dengan bau badan yang khas yang nantinya akan membayangi perjalanan saya hingga beberapa tahun sesudah pernikahan saya. Sungguh penampilannya jauh dari isi kepalanya. Mungkin rambutnya yang kadang acak-acakan tak berminyak rambut itu sudah menjadi isyarat bahwa ada banyak kepala, banyak pikiran yang acak-acakan sebab pertanyaan-pertanyaannya.
?
Bak Socrates dengan ?Maijetike Tekhnic?-nya membongkar habis-habisan pikiran anak-anak muda. Laksana Dementor dia menghisap jiwa-jiwa muda yang baru datang dengan ?plonga-plongo? di Psikologi.
?
?Ngapa kowe kuliyah nang Psikologi??
(Kenapa kamu kuliah di Psikologi??)
?
atau pertanyaan
?
?Nggoleki apa kowe nang Psikologi??
(Mencari apa kamu di Psikologi??)
?
Pertanyaannya itu seberat tas yang ditentengnya. Yang kalau mau sedikit mengintip isinya buku-buku, catatan pribadinya, dan kadang beberapa potong baju. Mengapa demikian berat pertanyaan yang cukup singkat ngomongnya itu. Sebab banyak yang datang ke Psikologi bukan dengan ?kesiapan untuk ditanya?, namun mereka menyiapkan diri untuk mendengarkan saja,
?
Bagi orang lain mungkin pertanyaan-pertanyaan itu hanya mengusik beberapa saat. Namun tentu bagi beberapa orang yang lain, itu mirip bekas gigitan nyamuk. Semakin digaruk semakin terasa gatalnya. Benar-benar menyebalkan!
?
Kalau saya sendiri, saya datang dengan kesiapan untuk mencari ?kesembuhan? bagi kondisi saya. Tentu pertanyaan itu membuka peluang dialog panjang saya dengan Mas Dwi di hari-hari berikutnya.
?
Selain pertanyaan dan pemikirannya, dari dia--Tuhan membantu saya menemukan sebuah tulisan. Yang tertumpuk di sela-sela dokumen di Psikomedia--badan pers mahasiswa tingkat fakultas.
?
?Berdiri di Ujung Jarum?. Tulisan itu saya temukan begitu mempesona saat saya membacanya pertama kali. Untaian kalimatnya begitu
mengalir, walau secara konsep saya bingung. Bagaimana bisa orang mengalami sebenar-benarnya rasa sakit yang dialaminya? Menghayati sepenuh hati. Sepenuh jiwa.
?
?Orang gila!?
?
Yah, pasti dia sudah tak waras lagi.
?
Berani menghadapi kecewanya sepenuh hati.
?
Saat marah, berdirilah benar di ujung rasa kemarahan. Saat Anda sedih jangan menghindar. Rasakan saja, hayati saja. Alami dengan sepenuh hati.
?
Saat Anda kecewa, terima rasa kecewa Anda yang entah sebab karena penolakan atau harapan yang tak kesampaian. Terima saja. Tak usah menghindar. Tak usah berlari dalam bayang atau imajinasi. Apalagi membaliknya dengan memikirkan yang menyenangkan.
Memikirkan yang membuat semangat.
?
Apa ini tidak gila?!
?
Ah, namun bahasanya begitu mempesona. Bahasa-bahasa para penutur Zen. Yang hingga bertahun-tahun kemudian sari perasaan para pejalannya masih bisa saya nikmati.
?
Hingga akhirnya jiwa saya tersandung jatuh dan cinta padanya. Mau tidak mau, tahu tidak tahu, itu dibaca berulang kali agar mengerti dan memahami. Namun berulang kali dibaca semakin tak tahu. Semakin didalami, semakin tak mengerti. Bagaimana itu bisa dilakukan? Bagaimana bisa itu dijalankan? Sementara diri ini tetap saja kesakitan dihantam perasaan marah, takut, dan kecewa.
?
Hari-hari yang terpenting yang pernah saya lalui sejak itu.
Tak mudah untuk mempelajarinya. Agar diri bersedia sepenuh hati berdiri di ujung jarum.
?
(bersambung)
?
Gambar diambil dari sini
?
#Kenalilah Jiwamu

Karya : Duma Rachmat