Tembang Pangkur di Sebuah Pagi # di taman itu (1)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2016
Di Taman Itu Aku MemperjuangkanMu

Di Taman Itu Aku MemperjuangkanMu


Kisah Pencarian Makna Cinta dan Kehidupan

Kategori Acak

205 Hak Cipta Terlindungi
Tembang Pangkur di Sebuah Pagi # di taman itu (1)

Aywa sumelanging driya

Dumeh ingsun tanpa rowang mung siji

Witing tan kogel atiku,

mring kakang tuwin sira?

Wis tegakna wae siro den anungkul

Atunggu kaki Biyasa

sukur yen sun nemu urip

?

Pagi ini, kembali kudengar gremeng-gremeng[1] tembang Pangkur[2] itu.

Di dada ini. Sesudah bertahun-tahun tidak kudengar.

Menyayat-nyayat rasanya.

Tembang penantian seorang kekasih. Yang menunggu.

Menunggu panjang dalam samudera ketidakmenentuan, ketidakjelasan. Menunggu seorang yang disayanginya pergi untuk mengabdi pada seorang Mahaguru Resi Abiyasa.

Duhai, Kekasih Jiwa...

Adakah dirimu masih hidup dalam masa pencarianmu?

Duhai, Kekasih adakah dirimu selamat selama engkau menjelajah seribu hutan, menjajaki seribu negeri untuk mencari penghidupan dirimu?

Duhai, Kekasih, Kekasih...

Hatiku terpaut dengan dirimu.

Jiwaku terpaut rindu karena menunggumu.

Di sini. Di tempat ini.

Tembang itu?

Kenapa rasanya akulah perempuan itu? Kenapa rasanya akulah yang menunggu dengan segenap jiwa? Kenapa rasanya akulah yang harus duduk berhari-hari memakan kecemasan ini? Mengunyah getir pahit perpisahan. Sebab menunggumu.

Duh, kenapa rasanya kau yang menjadi kstaria itu?

Arjunakah ksatria itu? Kelihatannya ya!

Tembang Pangkur itu seingatku berasal dari babak perjalanan Pandawa saat mengalami masa pengasingan di sebuah hutan. Karena kalah judi. Semua harus mengungsi di hutan. Yang tiada bertepi. Tembang Pangkur itulah gambaran gulananya hati seorang istri Arjuna.

Mungkinkah itu Sembrada adik Prabu Baladewa?

Benarkah? Apa aku dulu keliru menerimanya? Karena saking asyiknya belajar tembang, hingga tidak kuperhatikan detil apa yang dikisahkan tembang itu.

Peduli amat itu benar atau salah!

Toh, itu sudah lama. Saat aku duduk di bangku Menengah Pertama.

Tak mengapa siapakah yang diceritakan di sana. Tidak peduli juga apakah itu Arjuna ataukah Puntadewa. Sang Bima atau si kembar Nakula Sadewa. Atau ksatria yang lain. Tembang itu berkata seluruh perasaanku padamu. Tembang itu menghidupkan kembali rasa perih penantianku padamu.

...aku merasa akulah perempuan itu. Dan kau ksatria kesayanganku.

Kau mencari dan aku menunggu.

Di sana, kau berjalan. Pergi berkelana tanpa kejelasan kapan kembali.

Berjalan menapaki sesuatu. Pergi menjauh hanya dengan sebuah ketegasan kata, ?Kita tak bisa bertemu lagi. Tolong jangan hubungi aku lagi.?

...dan di sini aku duduk menanti. Mendalami diri. Menemani pengharapanku padamu. Menepis rasa takut itu. Galau yang datang. Rasa sepi yang mendulang kecemasan yang dalam. Gundah yang perlahan mulai merintih, menggoyahkan lembaran-lembaran cintaku padamu.

Duh, Kekasih?

Di sini aku menunggu?

Akankah kau mengerti kalau aku menunggumu?

Duhai, Kekasih...

Adakah dirimu mengerti akan kerinduan pertemuan denganmu? Adakah kau memahami kau benar-benar berarti? Hingga tiap detik cahaya ingin diusung hanya untuk dapat mengusir gelap diri. Tapi di mana cahaya? Saat wajahmu saja tak dapat kutatap lagi. Saat kata-katamu membisu dipasung diammu. Saat wangi tubuhmu menghablur bersama guyuran kesal terakhirku padamu.

Ah, Kekasih?

Mataku sudah sayu menatap langit. Hari-hariku muram. Langit biru tak lagi mampu menawar rasa sakitku. Pedih. Bingungku. Tak tahu arah, tak tahu harus bagaimana. Tak tahu lagi ke mana arah untuk kembali pulang ke tempat semula. Aku terjebak di sini...

Terombang-ambing di lautan luas. Asing. Serasa hilang.

Aku terpuruk?

Kepalaku penuh. Tidak berat. Tapi penuh. Tidak pusing tapi membuat pandanganku menjadi tertutup. Hingga hanya bisa melihat satu ruang saja.

Rasa sesak mengiris-iris dadaku. Sedih. Menggeliat. Membuatku terkapar mengingatmu. Mengapa kau pergi? Mengapa kau putuskan untuk pergi? Mengapa kau memutuskan untuk tidak menemuiku lagi? Tidak adakah yang berarti dari semua kenangan-kenangan kita? Pembicaraan-pembicaraan pencarian kita tentang hidup, Tuhan, agama, kebenaran, tentang pendidikan, anak dan sekolah? Ingatkah kau?

?

Ah, aku rindu saat-saat bersamamu...

Saat-saat aku bisa dekat denganmu. Mencuri-curi pandang binar matamu yang lembut. Wajah polos yang luar biasa.

Dari bulir-bulir keindahan wajahmu, kulihat keindahan-keindahan Tuhan.

Keindahan suci yang agung.

Kepolosan murni yang tak ada persangkaan.

Duhai, Kekasih...

Mengapa kau pergi?

Tidak siap untuk menerimaku? Menerima hubungan yang lebih dekat? Atau karena memang kau memang tidak pernah bersungguh-sungguh padaku dulu? Atau aku saja yang terlalu ge-er merasakan seluruh perhatianmu? Terlalu melebih-lebihkan semua yang pernah terjadi pada kita selama ini? Karena selama ini hubungan kita memang hanya teman? Semua ini tidak terasa istimewa bagimu?

Ah, atau karena rasa cinta itu?

Tahukah kau rasa itu hadir begitu saja?

Tak pernah pula aku memintanya...

?Rindu yang sudah lama Hamba tidak merasakannya. Rindu yang membuat bergetar. Rindu yang diselubungi rasa takut. Oh, Tuhan air mata ini jadi saksi kerinduan ini. Kerinduan ini...?

Rasa rindu sederhana yang membuatku menengadahkan ke langit. Menatap bintang dan melantunkan doa kecil, ?Tuhan, lindungilah perempuan kecilku...?

Duhai, Kekasih...

Aku berlayar di samudera ketidakmenentuan.

Kekasih, Kekasih...

Mengerti dirimu di sana?!

Mengertikah dirimu?

?

?

?

?

[1] gremeng-gremeng = bersenandung? yang terdengar lirih

[2] Pangkur adalah nama sebuah tembang/lagu Jawa.

  • view 204