Pinanglah Aku #Tentang Jiwa (2)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Agama
dipublikasikan 29 Februari 2016
Pinanglah Aku #Tentang Jiwa (2)

Allahuma sholi wa saliim wa tasliim wa barik 'ala Nabiyyina, wa Rasulina wa nuri Muhammad wa af'alihi, wasifatihi, wadzati, wahaqiqati, wa ala alihi washohbihi ajmain.

Konon ketika Tuhan hendak menciptakan manusia yang pertama kali, Tuhan membutuhkan media untuk Dia mengejawantahkan segenap maksud dan tujuannya itu. Maka diutuslah malaikat Jibril untuk menemui tanah, agar mau dibawa ke Hadirat-Nya.

Sesampainya di bumi, tanah yang merasa berbangga hati?sebab tahu Rencana Tuhan--itupun pura-pura tidak peduli dan tak mau didekati, "Aku tidak mau di bawa ke Hadirat-Nya."

Malaikat Jibril heran dan bertanya-tanya,"Bisa-bisanya kau menolak permintaan Kekasihmu?

Dia memintamu untuk datang ke Hadirat-Nya. Ada apa kau ini?"

?Kau makhluk. Diminta untuk menghadap, namun engkau berlagak luar biasa. Ada apakah dirimu ini??

Permintaan dan pertanyaan Jibril pun hanya sambil lalu. Tanah yang rendah itu semakin menjadi-jadi ketidakpedulinya. Dia tetap bersikeras tetap tidak mau untuk ikut dengan malaikat Jibril dan meminta Jibril untuk pulang. Ke Hadirat-Nya.

Malaikat Jibril dengan hati penasaran pun datang menghadap-Nya dengan tangan kosong.

Dalam desiran suara yang tak terdengar oleh kata, Tuhan pun bertanya, "Di mana tanah yang Kuminta untuk kau bawa kesini?"

Jibril kemudian bercerita tentang penolakan tanah itu. Tuhan pun tersenyum,"Kembalilah pada tanah. Tanyakan apa kehendak sebenarnya?"

Dengan patuhnya, Jibril as kembali lagi ke bumi dan bertanya pada tanah apa yang sesungguhnya dikehendakinya.

Dengan tersenyum tanah kemudian dia berkata,

"Aku mau dipinang oleh-Nya dan dianugerahi

dengan mahar yang Agung."

?

"Apa?" Jibril kembali bingung. Kemarin berani menolak, sekarang tanah kembali meminta mahar.

Kembalilah Jibril di hadapan-Nya kemudian menyampaikan pada Tuhan.

Sembari tersenyum Tuhan kemudian bersabda,

"Ya, Aku berkenan meminangnya dalam Pinangan Cahaya. Dan untuk pernikahan ini Aku berkenan memberinya mahar sholawat kepadanya. Kalau tanah nantinya membaca dengan ketulusan hatinya, maka dia akan sepenuhnya menjadi Cahaya. Katakan pada tanah tentang Ketetapan-Ku ini."

Jibril dengan bersungut-sungut lalu bertanya, "Mengapa Engkau dengan mudah memberikan tanah apa yang dimintakannya? Dia itu materi rendah, hina, bau, kotor, berperangai kasar. Mengapa Engkau yang Suci Lagi Indah berkenan memberinya mahar yang begitu agung?"

Dengan tatapan mesra Tuhan menatap pembantunya yang setia ini?yang ?kebingungan dengan maksud semua ini. Kemudian bersabdalah Dia,

"Wahai, Jibril, sesungguhnya tanah mengerti benar ketika dia Ku gunakan sebagai bahan untuk menjadi media pengejawantahan bagi Ciptaan-Ku yang terbaru--manusia, dia akan mengalami begitu banyak kedukaan, kesedihan, ketidakmengertian, dan kebingungan."

"Nur-Ku begitu sempurna dan dia tahu akan mengalami kesulitan untuk terus-menerus mengikuti-Nya. Itulah mengapa dia memohonkan mahar dan Ku perkenankan sholawat menjadi maharnya. Sebab dengan membacanya dia akan melihat langsung Hakikat Nur-Ku yang itu akan membuatnya tersinari dengan Nur-Ku. Yang akan membuatnya terbebas dari kesedihan mendalam dan ketakutan yang mencekam."

Setelah itu Jibril as kemudian memberitahukan ketetapan Tuhan pada tanah.

Dengan perasaan bahagia laksana pengantin, tanah bersedia dipinang dalam Suntingan Cahaya-Nya. Tanah yang berbahagia itu pun rela untuk menjadi media Pengejawantahan Diri-Nya.

Tuhan lalu menutupi Diri-Nya dengan Tirai Kegaiban.

Selama 40 hari lamanya.

?

#Tentang Jiwa (2)

Gambar diambil dari sini

?

  • view 139