Pecahkan Cerminmu

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 27 Februari 2016
Pecahkan Cerminmu

"Untuk memandang masa lalu kau butuh cermin, Nak" demikian kata guru.

Helaan nafas beliau dalam, sebelum kemudian kalimat demi kalimat beruntun terucap dari mulut beliau.

"Cermin untuk kau berkaca melihat dirimu, wajah dirimu yang sebenarnya. Kaca cermin itu harus kau taruh di depan wajahmu. Tak boleh terlalu dekat. Namun ambillah jarak yang tepat dan sesuai agar semua yang kau butuhkan untuk kau kenali dapat nampak jelas terlihat."

"Dari sana kau akan kenali siapa dirimu yang dibentuk oleh jalinan ruang dan waktu. Waktu itu tak berbau, namun jejaknya jelas sekali terbaca. Kau hanya perlu jujur saat membacanya. Tak perlu malu untuk mengakui. Sebab begitulah adanya perjalananmu. Tak perlu juga kau teriaki agar semua orang tahu dan mengerti. Semua hanya perlu dilihat kembali."

"Penglihatan yang benar akan masa lalu akan membantumu menetapkan langkah kaki pada ruang waktu berikutnya, Nak."

Beliau terdiam sesaat sebelum kemudian berucap, "Kalau untuk mengetahui masa lalu kau butuh cermin, untuk mengetahui masa depan kau harus memecahkan cerminmu. Yang kau gunakan untuk berkaca mengenai masa lalu."

"Dipecahkan?" tanyaku.

"Yah, itu satu-satunya cara. Memecahkan ilusi cermin di mana kau temukan masa lalu. Tanpanya kau hanya akan menjadi penghikmat ke-"lampau"-an, namun tergagap dalam membaca ke-"kini"-an dan ke-"akan datang"-an. Berbekal pengetahuanmu tentang masa lalu, saat kau pecahkan cermin kau akan bertemu dengan gelapnya masa depan. Yang tak akan kau ketahui hanya dengan membaca masa lalu."

"Kehidupan adalah rangkaian sebab akibat. Bukan hanya satu rantai sebab akibat. Namun puluhan bahkan jutaan rantai sebab-akibat. Inilah yang membuat masa depan dapat terbaca dengan masa lalumu, namun juga tetap misteri. Sebab kelindanan ratusan ribu rantai sebab akibat."

"Hanya CahayaNya yang mampu menuntunmu membaca kegelapan masa depan. Dan agar kau mampu dituntunNya, maka singkirkan dirimu dari mengurusi semua hal. Tugasmu hanya memastikan bahwa kau menjalani apa yang sudah ditetapkanNya bagimu.Selebihnya, nikmati perjalananmu--yang diperjalankan olehNya, dengan DiriNya, menuju DiriNya. Bahkan lagi-lagi kau akan kehilangan identitasmu--sebab tak lagi kau kenali dirimu. Sebab semuanya ternyata hanya Dia."

Gambar diambil dari sini

# Di Kedalaman, Aku Mencarimu

  • view 80