Psikologi Tidak Belajar Jiwa#Kenalilah Jiwamu (1)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 05 Februari 2016
Psikologi Tidak Belajar Jiwa#Kenalilah Jiwamu (1)

Saat belajar Psikologi, dulu teman-teman lain Fakultas akan menyebut kami sedang belajar ilmu jiwa. Bahkan hingga kini saat saya sudah lama lulus dari Psikologi. Sejujurnya, dan kalau boleh jujur, Psikologi--paling tidak yang saya pelajari di bangku kuliah--tak pernah benar-benar "menganggap jiwa". Sebab yang kami pelajari adalah "behaviour" (perilaku). Sementara jiwa dianggap terlalu abstrak, sulit dilihat penampakannya, dan "tidak ilmiah".

Jadi saat mendapatkan materi pengantar Psikologi pun saya merasa "kecelik" (Jawa: salah duga, salah kira). Sebab sejak mendengar kata ini saya merasa?merasa ilmu ini akan?belajar tentang jiwa. Ditambah lagi imajinasi kalau belajar jiwa mesti melibatkan sunyi dan perenungan yang mendalam. Di tengah malam ditemani "senthir" (Jawa: lampu teplok) yang menyala redup.

Agh, ternyata saya "kecelik" luar biasa. Sebab ternyata, saya akan belajar dalam kerumunan teori dan kerumitan sistem ilmiah yang kompleks. Di mana saya, sebenarnya tak suka-suka amat. Walau "kecelik" namun dasarnya niat datang ke Psikologi untuk "rawat jalan", ya saya teruskan.

By the way,?tahukah Anda kalau yang masuk Psikologi itu ada dua golongan besar manusia?

Pertama, mereka yang benar-benar mau kuliah, mau dapat IPK tinggi, mau lulus, dan mau dapat kerja dengan ilmu mereka.

Sementara yang lainnya, adalah golongan para pencari obat. Golongan rawat jalan.

Sambil belajar, sambil berharap nemu obat bagi sakit mental mereka. Sambil baca-baca teori, mereka nyari teori yang pas. Yah, yang pas untuk bisa menjelaskan keadaan mereka. Sambil setengah hati mendengarkan dosen, berharap menemukan setitik jalan dari kebuntuan hidup yang dirasakan.

Haha...

...dan saya adalah golongan kedua ini.

Yang IPK-nya tak pernah tinggi-tinggi amat, yang kuliah juga tidak semangat-semangat amat, namun kalau ada bisik-bisik apalagi diskusi yang berkenaan dengan apa yang sedang dicari didudukinya lebih lama ketimbang sesi-sesi perkuliahan.

Saya masuk ke Psikologi dengan "seabrek masalah"--yang saya tak tahu harus bagaimana mengatasinya. Saya yang pemalu-lah, saya yang rendah diri, merasa bermasalah, peragu, pencemas, dan seabrek masalah yang lain.?

Nah, saat saya meneruskan perjalanan sesudah merasa?"kecelik" itu tadi, saya terpesona dengan sebuah definisi. Yah, definisi Psikologi itu sendiri. Konon katanya,?psychology??berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yang merupakan gabungan dua buah kata:?psyche?yang berarti jiwa dan?logos yang berarti ilmu. Sehingga per definisi, psychology adalah ilmu yang mempelajari jiwa dan gejala-gejalanya.?

Aha, ini sungguh menggairahkan. Sebab saya masih punya harapan besar terhadap keilmuan yang saya pelajari. Paling tidak per definisi--yang ini konon tak laku lagi. Nalar bodoh saya mengatakan, oke Psikologi sudah tak mau menyentuh jiwa sebab dia hanya fokus di "behaviour"(yang itu termasuk dalam ranah gejala-gejala jiwa).?Namun kalau definisi itu benar sungguh saya akan bertemu dengan jiwa saat mengenali dengan benar gejala-gejalanya.

Sebagaimana kalau hujan mau datang saya kenali dia dengan gejala mendung, awan hitam, dan angin yang bertiup kencang. Agh, kenapa tidak jiwa bisa saya pelajari dengan mengenali gejalanya. Walau seabstrak apapun, bukankah gejala-gejalanya lebih ada di permukaan dan lebih nyata.?

...dan hari itu pun, saya memulai perjalanan baru.?

Setiap kuliah, setiap dosen, setiap pertemuan yang terjadi di Psikologi adalah wahana dan sarana saya untuk mencari dan menemukan apa itu jiwa. Perjalanan yang tidak mudah, sebab saya harus mengobati kedahagaan yang panjang selama belajar teori-teori "perilaku". Sembari terus mencari obat bagi kesembuhan jiwa saya.

#jiwa #psikologi #kenalijiwamu

Gambar diambil dari sini

?

?

?

  • view 209