Buku-Buku Sulit #Kenalilah Jiwamu (8)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 19 Juli 2016
Buku-Buku Sulit #Kenalilah Jiwamu (8)

Sebagai seorang pencari, buku dulu begitu saya andalkan. Bahkan sangat. Selain lagu, dan pertemuan dengan orang-orang. Tentu dengan syarat, itu akan menutupi lubang di dalam dada saya. Bicara tentang lubang, sebenarnya dulu pernah saya ditanyai oleh seorang dosen. “Tuhan sudah sedemikian nyata, apa yang sebenarnya engkau cari?” kurang lebih seperti itu beliau bertanya. Saya terdiam, tak ada satu kata yang terucapkan.
 
Namun saya tahu ada sesuatu yang perlu saya genapi di dalam diri saya. Bagaimana saya tahu? Itu terasa. Itu benar-benar seperti lubang yang mengaga atau bahkan mungkin bisa disebut sebagai luka. Keduanya memang tak sama. Namun sedang mengisyaratkan hal yang kondisi yang hampir sama. Mengapa saya sebut lubang? Karena memang itu terasa mengaga dan butuh untuk ditutupi. Mengapa disebut luka? Sebab terasa ada goresan yang ada di dalam dada yang butuh untuk dibasuh dan ditutupi. Keduanya akan terasa “menjadi tertutupi” saat ada sesuatu yang saya tahu menggetarkan hati dan jiwa saya. Yang getarannya tak tertandingi. Yang tak butuh penjelasan panjang lagi, dan terasa tercukupi. Walau setiap hal yang menutupi selalu saya temukan “temporary”--kadang sesaat, kadang berhari-hari bahkan berbulan-bulan lamanya.
 
Nah, saat membaca buku, jarang sekali saya mencari asupan kognitif. Sebab pintar memang tak terlalu penting-penting amat bagi saya saat itu, bahkan mungkin hingga saat ini. Yang terpenting adalah “sebuah rasa” yang menutupi lubang di dalam diri saya. Yang terasa menggenapi, meringankan, dan menghidupkan kembali.
 
Itu mengapa saya dulu menjadi pengepul dan pengumpul kebijaksanaan. Secara tidak langsung. Hingga nantinya saya menyadari tentang ini. Pengepul dan pengumpul sebab kebijaksanaan itu milik orang lain. Yang dihayati dalam pengalaman orang lain--tentu para bijak, para guru dan orang arif--namun itu hakikatnya bukan milik saya. Kalau milik saya tentu itu sebab berasal dari perasan kaki yang melangkah. Menempuhi kehidupan sendiri. Menyelami masalah yang dialami sehari-hari.
 
Dari buku-buku yang saya baca ada yang kata-katanya langsung menancap di dalam benak saya. Langsung menggugah dan memberikan energi lebih untuk sedikit membuka mata dan persepsi saya. Namun ada juga buku-buku yang rumit, sulit, dan tak terbaca. Nasib buku-buku ini, teronggok namun rasa hati ingin menikmatinya. Rasa jiwa ingin mendengarkan senandungnya, namun apa daya, daya tangkap jauh di bawah rata-rata untuk bisa menangkap pesannya.
 
Ketahuilah Teman, buku-buku ini jauh lebih banyak dibandingkan yang terbaca, apalagi yang pesannya sampai dan diterima diri. Dan entah mengapa selalu buku-buku sulit ini, selalu yang mudah pergi. Dibawa atau dipinjam teman.
 
Hingga suatu masa di mana dia datang dalam kondisi kucel, kusam, dan berdebu, namun sungguh saat itu hidup sudah ‘ngucel-ngucel’ kita. Membuat kita jatuh, jatuh, jatuh, dan jatuh membaca diri kita. Di sanalah bacaan itu menjadi senandung yang indah. Kita sudah menemukan “kata-kata sang penulis” telah menjadi kata-kata kita. Kata-kata itu sedemikian hidup, kalimat-kalimatnya sedemikian menghidupkan, dan mereka semua hidup di aliran darah kita. Karena kita telah menebusnya dengan kesakitan dan kejatuhan.
 
Jadi, tak ada buku yang sulit saat kita bertemu dengannya, yang ada kita belum siap menerima pesannya saja. Bersabarlah, dan jatuhkanlah dirimu. Berharap mereka pun segera membuka dirinya membawakan pesannya untuk kita.
 
Gambar diambil dari sini
 
#Kenalilah Jiwamu
 
 

  • view 355