“Dilema Pencari” #Kenalilah Jiwamu (7)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 08 Mei 2016
“Dilema Pencari” #Kenalilah Jiwamu (7)

“Buku apa itu, Dum?” demikian seorang kakak kelas bertanya. Kami kebetulan mengambil mata kuliah yang sama. Beliau mengulang dan saya mengambilnya sebagai mata kuliah wajib. Saya duduk di belakang, demikian pun beliau. Entah kami bersampingan atau duduk depan-belakang. Namun beliau melihat saya, mengeluarkan buku yang tidak ada hubungannya dengan kuliah.
 
Saya mengantuk, mendengarkan dosen bicara di depan. Saya pun ‘nyambi’ biar tidak mengantuk. Mendengarkan kuliah sambil mengintip-intip buku tentang Rabiah Al-Adawiyah--Mahabbah Cinta Rabiah Al-Adawiyah. Saya sedang gandrung dengannya. Dengan ungkapan puisinya--yang sepertinya tak jauh-jauh dari apa yang saya rasakan.
 
Buku itu pun saya berikan kepada beliau. Dibukanya buku tersebut. Dibacanya beberapa lembar. Dicermatinya dan beliau pun berkomentar kurang lebih begini,”Sik kayak begini tidak ada dalam Islam. Islam itu tidak begini.”
 
Sebagai pengetahuan, Rabiah Al-Adawiyah, dikisahkan di sana tidak menikah dan hidupnya dipenuhi dengan ibadah kepada Allah. Selain itu ungkapan-ungkapan sikap Rabiah pun tampak “melankolis”, “mendayu” dan membelai rasa.
 
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu
mengungkapkan tabir Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu
 
Saya pun terguncang. Ini pencarian saya, mengapa dia menjadi begitu mencampuri. Saya marah dalam diam. Saya kesal bercampur gundah. Sebab sebenarnya saya tidak siap disalah-salahkan. Saya tidak siap untuk tidak diterima. Saya butuh diterima dan “tolong” jangan dianggap ini berbeda.
 
Saya pun galau luar biasa. Sebab sebagai seorang pencari, apapun akan saya terima asalkan itu memenuhi sebuah syarat--”menambal lubang di dalam hati saya”. Syarat yang tampak mudah namun sesungguhnya sangat tidak mudah. Buku-buku saya cari dan saya beli. Kalau tak menemukan “kalimat” yang menggenangi hati, buku itu saya tinggalkan. Orang-orang pun sama. Mereka saya datangi, namun kalau kalimatnya hanya sepenggal kalimat yang masuk ke sistem kognitif saya, namun tak menuangi jiwa saya itu pun hanya akan menjadi angin lalu. Musik-musik saya pantau frekuensinya, berharap ada yang sama dengan nada frekuensi di dalam diri. Menambal lubang hati. Yang entahlah bagaimana saya harus menambalnya. Harus menutupinya. Semua hal dilakukan agar dia terasa tertutupi. Jadi tak peduli itu dari Kejawen, Budha Zen, filsafat, komik, novel ala Musashi atau Taiko, puisi-puisi cinta Rumi yang dari semenjak awal membacanya kadang tak benar-benar memahaminya, yang penting menutupi lubang di dalam hati. Tak peduli itu itu tertulis di punggung seorang penjual batagor, atau tertulis di secarik kertas tak berarti, kalau itu menyesap di hati, tentu akan dipegangi.
 
“Mbak, bagaimana kalau saya tersesat?” akhirnya saya mengeluhkan kegalauan saya pada Mbak Luluk. Dia pencari yang sama. Memiliki kegalauan yang sama.
 
“Mbuh, yo...?! Mung nek bener sik digoleki Allah, muga Allah dewe sik maringi dalan kanggo awak e dewe.
(Tidak tahu ya...?! Namun apabila benar Allah yang dicari, semoga Allah sendiri yang akan menganugerahi jalan buat kita).”
 
Agh, perkataan itu. Walau tentu tak mudah, akhirnya semua ini datang untuk menanyakan ulang siapa yang sebenarnya dicari dalam setiap kegudahan diri. Siapa yang sebenarnya di-antu-antu (Jawa: diharapkan) kehadirannya dengan setiap langkah pencarian diri. Siapa sih yang sebenarnya diinginkan untuk dikenali.
 
Semoga benar ini hanya tentang diriNya.
 
(bersambung)
 
#Kenalilah Jiwamu
 

  • view 180