"Siapakah Penunggu Dirimu?" #Kenalilah Jiwamu (6)

Duma Rachmat
Karya Duma Rachmat Kategori Psikologi
dipublikasikan 22 Maret 2016

??Sopo sing manggon nang awakmu? (Siapa yang mendiami dirimu?)?? begitu kurang lebih pertanyaan dan pernyataan Pak Damardjati Supadjar. Saat kuliah Filsafat Manusia. Semua terdiam dan tak ada yang bisa menjawabnya.

Pertanyaan yang aneh. Memang siapa yang mendiami diri? Memang apa pentingnya mengenali itu semuanya? Semua orang terperangah, sebab sampai saat itu mungkin baru beliau yang bertanya tentang hal itu.

Beliau kemudian berkisah tentang Serat Madurasa. Tentang pentingnya mengenali siapa tamu dan siapa penunggu rumah. Penjelasan yang padat, namun tak satu pun yang tertangkap. Terlalu cepat, terlalu banyak yang melompat. Terlalu jauh melintas kemampuan logika anak awal kuliahan.

Namun sungguh itu ?berkesan?. Ini penanda. Ini potongan puzzle yang saya cari-cari. Tentang jiwa.

Hingga beberapa saat perburuan buku Serat Madurasa itu menjadi begitu penting. Mengobrak-abrik semua tempat yang ada bukunya. Dari Social Agency, Gramedia, Shopping, hingga akhirnya saya menemukannya di Toko Buku Gunung Agung. Di sebelah utara Tugu.

Membuka Serat Madurasa, seperti mendengar kakek saya berkisah. Saya memahaminya namun ada beberapa kata yang tak benar-benar akrab. Keseluruhannya menggunakan bahasa Jawa. Kalau Anda pernah membaca Penjebar Semangat--majalah berbahasa Jawa--hah, itu mirip-mirip bahasanya seperti itu.

...dan sebagaimana pemula, saya terlalu ?cepat? bosan dengan hal-hal yang tidak mengasyikkan dalam anggapan saya. Saya langsung berusaha mencari apa yang dikatakan oleh Pak Damardjati pada waktu itu. Saya bolak-balik, dan saya menemukan.

RASANING? manungsa? warna-warna? :? lara,? kapenak,? bungah,? susah, dhemen, gething, legi, pahit, linu, pegel, asin, wangi...... kehe tanpa wilangan. Iku kabeh rasa kang lunga teka, lire : ora ana, ora manggon. Rehne lunga teka, kena diumpamakake dhayoh. Dadi manungsa kedhayohan? ing sajroning atine sadina-dina. (E, dayohe teka).

Rasanya manusia beraneka warna: sakit, enak, bahagia, susah, suka, jengkel, manis, pahit, linu, pegal, asin, wangi...banyaknya tak berbilang. Itu semua rasa yang datang dan pergi, yang semuanya itu sejatinya tidak menetap. Itu semua datang-pergi, bisa diumpamakan tamu. Jadi manusia mendapatkan tamu dalam kehidupannya sehari-hari. (E, dayohe teka)

Rehne? ana? kang? lunga? teka,? iya? ana? kang? tansah? manggon,? ajeg? anane (yaiku kang duwe omah) kang nekseni sawarnane kang lunga teka mau. RASAKNA? (ematna)? bedane? kang? ajeg? anane? karo? kang? teka,? ing? sajrone melek utawa turu. Yen rada katemu karo sing ajeg anane mau, cekelan kang kenceng.? Gandhulana? kang? kukuh,? etutna,? aja? nganti? kelangan? lari.? Yaiku kang wajib kok tut saiki lan mbesuk. Marga yaiku kang tuduh marang rahayu lan kang perlu kok lakoni, tur ora tau luput. Yaiku kang tukang ngajak : eling, bener, rahayu, nikmat, mumpangat ing donya lan akherat.

Disebabkan ada yang datang dan pergi, sesungguhnya ada yang selalu menempati (yaitu yang menunggui rumah) yang menjadi saksi semua hal yang datang dan pergi. Rasakan, amati dengan seksama, lalu bedakanlah mana yang ?ajeg? dan yang ?datang-pergi?--di setiap jagamu dan tidur. Peganglah erat-erat, ikuti, jangan sampai kehilangan. Dia itulah yang wajib engkau ikuti, sekarang hingga nanti. Dia itulah yang akan memberi petunjuk menuju kebahagiaan dan yang perlu kau jalani--tidak pernah luput. Dialah yang senantiasa mengajak pada : keingatan, benar, kebahagiaan, kenikmatan, manfaat dunia dan akhirat.

Sampai di sini saya mulai memahami apa yang dikatakan Pak Damar--beberapa saat sebelumnya. Kalau kita tak pernah mengenali pokoknya maka kita akan hilang di sebaran. Kalau kita tak pernah mengenali ?penunggu?nya setiap hari kita hilang dan kehilangan. Hilang sebab dibawa oleh jutaan tamu yang datang dan pergi. ?Serta akan semakin kehilangan diri kita yang sesungguhnya. Inilah mengapa kesedihan begitu panjang dirasakan. Itulah mengapa serasa hidup itu berayun laksana pendulum. Yang melela dari satu ujung beralih ke ujung yang lain. Kapan habisnya? Kapan selesainya? Saat mati? Apa perlu sampai demikian?

Lalu bagaimana mencari pokoknya? Mencari penunggu rumah diri kita? Mencari titik pusat dalam diri agar tidak kehilangan dalam pusaran hari? Serat Madurasa melanjutkan pembicaraannya:

Kepriye? enggone? nggoleki?? Yaiku? kang? ora? gampang,? awit? kudu? tlaten ngruruh? sangkaning? ririh,? sarana? taberi? ngrasakake,? nandhing-nandhing? lan niteni, kanthi titi, surti, ngati-ati.

Bagaimana caranya mencari? Itu adalah perkara yang tidak mudah, sebab harus telaten menelusuri dari mana asalnya, dengan tetap telaten mengamati, dibandingkan dan ditandai dengan teliti, jeli dan hati-hati.

Fiuhh...kalimat terakhir itu. Ternyata ini hanyalah potongan puzzle yang lain. Setelah berdiri di atas jarum, ini potongan puzzle yang lain.

Baiklah...

(bersambung)

#Kenalilah Jiwamu

?

Dilihat 293