Dialektika pemuda dan politik

Duliaman
Karya Duliaman  Kategori Politik
dipublikasikan 13 September 2018
Dialektika pemuda dan politik

Dialektika Pemuda Dan Politik
                        Oleh:
                    Duliaman


Pemuda adalah aset yang paling penting dan mendasar bagi kemajuan suatu bangsa. Betapa tidak, masa depan suatu bangsa kedepan sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia(pemuda). Apabila kualitas pemudanya baik, maka masa depan suatu bangsa akan semakin baik. Namun jika sebaliknya, maka ini menjadi boomerang yang menakutkan bagi suatu bangsa sebab kondisi ini akan membawa kehancuran yang begitu dahsyat. Dalam romantisme sejarah, Bung Karno selaku proklamator kemerdekaan negara Republik Indonesia sangat membanggakan pemuda dalam mengambil peran-peran perubahan. Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Itulah pekikan pidato Bung Karno yang begitu memukau. Tentu yang dimaksud Bung Karno adalah pemuda yang berkualitas dan berjiwa petarung bukan pemuda yang menjadi sumber masalah sosial. Pertanyaan yang muncul kemudian bagimana peran pemuda di zaman now?
Sejatinya pemuda dalam konteks kekinian, harus mengambil peran besar dan positif dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan negara Republik Indonesia yang sudah diwarisi oleh para pejuang dahulu. Sebab dengan begitu, pemuda masa kini telah berkontribusi nyata dalam penyelesaian berbagai persoalan yang sedang dan akan dihadapi oleh bangsa ini. Namun demikian, pemuda masa kini juga diperhadapkan dengan berbagai persoalan seiring dengan perkembangan era digital yang begitu cepat. Ujaran kebencian atau hate speech adalah salah satu soal yang menjadi pemicu konflik yang dapat berefek negatif terhadap kondisi sosial kita. Hedonisme juga tidak kalah hebatnya, sebab kondisi ini akan menumpulkan daya kreativitas pemuda yang berefek kepada produktifitas pemuda semakin menurun. Oleh karena itu kesadaran mendasar oleh pemuda untuk mengambil peran perubahan harus terus digelorakan diseantero negeri ini agar menjadi sebuah platform pemikiran dan gerakan dalam mengisi kemerdekaan.
Pemuda dan Politik
Pemuda dan politik ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dicerai pisahkan. Meskipun tidak bisa digeneralkan, pemuda yang memilih jalan politik untuk memberi sumbangsih positif kepada masyarakat adalah keputusan yang luar biasa, sebab dijalan politik segala sesuatu yang berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat dibicarakan dan menjadi kebijakan yang pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat. Hal ini menandakan bahwa dunia politik memberi peran yang sangat besar untuk perubahan. Kalau kita kembali melihat sejarah, bapak proklamator, Bung Karno memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) di usia yang masih muda yaitu 26 tahun. Lain halnya Bung Hatta, diusia 25 tahun beliau mendirikan organsisasi Perhimpunan Indonesia. Dan ditangan mereka berdua, Indonesia diproklamirkan menjadi bangsa yang merdeka tepatnya tanggal 17 Agustus tahun 1945. Itulah realitas sejarah yang tidak bisa dibantah. Hal ini menunjukan bahwa pemuda dan politik adalah dua hal berbeda namun bila disatukan akan menjadi jalan untuk meretas perubahan.
Dalam era millenial ini, kita juga dapat menemukan banyak pemuda yang masuk dalam dunia politik. Hal ini menjadi angin segar bagi perpolitikan Indonesia. Sebab ditengah krisis kepercayaan publik terhadap politisi selaku pelaku politik dan partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi, pemuda memilih masuk dunia politik untuk memberikan kontribusi positif bagi negeri ini. Ini keputusan besar yang harus diapresiasi, sebab pemuda yang masuk dalam dunia politik jumlahnya sangat sedikit ketimbang pemuda yang apolitik.
Pendidikan Politik
Dunia politik di era kekinian, mengalami berbagai persoalan serius yang mesti diurai untuk mencari jalan solusi. Money politic(politik uang) adalah salah satu masalah yang kerap terjadi saat suksesi politik. Suara masyarakat dibeli dengan rupiah demi kelanggengan kekuasaan politik. Imbas dari money politic adalah masyarakat sebagai pemilik hak suara tidak memiliki kekuatan dan wibawa apa-apa lagi. Selain itu, politisi yang main money politic bila menduduki kekuasaan politik pasti akan mencari jalan untuk mengembalikan modal besar yang sudah dipakai. Efek akhirnya adalah masyarakat dilupakan dan kinerja politisi tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Dan pemilik suara menyesalnya lama. Situasi seperti ini, haruskah dirasakan terus menerus oleh masyarakat?
Hadirnya pemuda dalam dunia politik sejatinya membawa harapan baru untuk wajah politik kita. Pendidikan politik menjadi arah baru yang mesti menjadi jalan tengah untuk mengembalikan wibawa masyarakat selaku pemilik suara. Pemuda harus mampu memberikan langkah solutif atas kerumitan jalan politik yang tengah terjadi saat ini. Suara masyarakat harus dikembalikan seutuhnya untuk menentukan pilihan politik sesuai nuraninya bukan karena tekanan money politic.
Buton Tengah dan Perubahan
Buton Tengah adalah salah satu daerah otonom di Sulawesi Tenggara yang usianya masih muda yaitu empat tahun. Undang-Undang No 15 Tahun 2014 tentang Pemekaran Kabupaten Buton Tengah menjadi dasar lahirnya daerah ini. Dalam perjalanannya, mengalami berbagai macam dinamika yang membuat daerah ini butuh kaum muda yang ikut masuk dalam sistem politik guna mengambil bagian dalam peran-peran perubahan. Realitas inilah yang menjadi dasar penulis ikut pertarungan dalam pentas politik pemilihan anggota DPRD Kab. Buton Tengah tahun 2019 ke depan. Perubahan tidak hadir dengan hanya menunggu, namun harus dijemput dengan ikut terlibat dalam sistem politik. Ini akan menjadi bagian dari ikhtiar penulis dalam memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan daerah. Ruang parlemen daerah khususnya di Kab. Buton Tengah, menjadi wadah yang tepat untuk menyuarakan suara perubahan. Buton Tengah butuh pemuda yang mampu mengurai persoalan yang tengah dan akan dihadapi oleh masyarakat. Selain itu, masuknya pemuda (Buton Tengah) dalam pemilihan anggota DPRD tahun 2019 ke depan membawa angin segar bagi konteks politik lokal, sebab ditengah dunia politik yang nampak suram efek dari sebagian politisi yang terlibat perkara hukum di satu sisi dan sebagian pemuda yang apolitik disisi yang lain ternyata masih ada pemuda yang berani hadir untuk memberikan kontribusi dalam dunia politik. Selain itu, dunia politik yang ada saat ini butuh regenerasi yang bisa menguatkan kepemimpinan politik di masa yang datang.
Menutup tulisan singkat ini, penulis mengutip kalimat Kang Emil yang saat ini baru di lantik sebagai Gubernur Jawa Barat, bahwa “negeri ini butuh pemuda pencari solusi bukan pemuda pemaki-maki”. Semoga kita sepakat.
Penulis adalah Pemuda Kecamatan Lakudo Kab. Buton Tengah

 

 

 

  • view 15