Laut, Nelayan dan Buton Tengah

Duliaman
Karya Duliaman  Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 Juni 2018
Laut, Nelayan dan Buton Tengah

Selamatkan Laut Kita, Selamatkan Nelayan kita!
Oleh:
Duliaman

Lihatlah laut kita. Hamparan anugerah yang begitu luas lengkap dengan segala isinya dan semuanya itu dititipkan kepada kita sang Khalifah di muka bumi. Ya, dititipkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi yang lain seperti pemenuhan kebutuhan protein bagi tubuh. Olehnya, mesti dikelola secara berkelanjutan demi kepentingan generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Anugerah yang begitu luas itu sudah diakui dunia internasional di waktu lampau tepatnya tahun 1982 melalui United Nations Convention on the Law of Sea (UNCLOS) dan pengakuan tersebut berakhir dengan rativikasi oleh pemerintah Indonesia dengan Undang-Undang No. 17 tahun 1985. Sesuai UNCLOS 1982, total wilayah laut Indonesia 2,9 juta KM² dan memiliki kurang lebih 17.504 pulau serta panjang garis pantai 95.161 KM yang merupakan terpanjang garis pantai ke 2 di dunia setelah negara Kanada. Data tersebut ada sebelum pulau Simpadan dan Ligitan direbut oleh negara Malaysia. Begitu luar biasa bukan anugerah yang dititipkan itu?
Tulisan sederhana ini tidak akan membahas soal laut dalam cakupan luas, namun penulis akan mencoba sedikit menguraikan bagian terkecil dari potensi laut yang karenanya kebutuhan ekonomi masyarakat utamanya nelayan kecil bisa terpenuhi, juga karenanya kebutuhan protein masyarakat (khususnya masyarakat Sulawesi Tenggara) secara umum bisa juga terpenuhi. Olehnya, penting bagi kita untuk mengetahui lebih jauh salah satu potensi laut itu termasuk habitat, alat dan bahan penangkapan maupun pemanfaatanya. Apa yang sedang dibahas ini? Yang sedang dibahas adalah soal ikan di laut. Ikan merupakan salah satu pangan dasar bagi manusia agar terus bertahan hidup. Bila ini tidak terpenuhi dalam jangka panjang, maka akan berpengaruh terhadap produktifitas seseorang. Yang paling merasakan itu semua apabila terjadi adalah mereka nelayan kecil yang tinggal di wilayah pesisir. Mengapa? Sebab nelayan kecil memiliki banyak keterbatasan dari berbagai aspek. Dari aspek sosial, mereka dianggap bukan apa-apa sementara dari aspek ekonomi mereka dianggap lemah. Padahal lewat tetesan keringat mereka kebutuhan protein kita bisa terpenuhi. Hemat penulis, para nelayan kecil yang ada di seluruh wilayah pesisir Indonesia lebih khusus lagi di Sulawesi Tenggara layak dianggap sebagai pahlawan. Ya, Pahlawan dibidang bahari oleh karena jasa mereka tidak bisa dinilai dengan apapun.
Ikan dan nelayan, merupakan dua hal berbeda namun tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ikan habitatnya di air (laut) baik diperairan dalam (ikan pelagis) maupun diperairan dasar (ikan demersal), sementara nelayan merupakan sebuah pekerjaan yang bertumpu pada mencari ikan (di laut) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Olehnya, penting dalam penangkapan ikan maupun pemanfaatannya harus dilakukan dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan maksudnya dalam penangkapan atau pemanfaatan sumber daya ikan mesti memperhatikan keberlanjutan ekologi di antaranya seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun maupun ekosistem hutan mangrove. Sebab, bila ekologi tidak diperhatikan (penangkapan secara deskruptif) maka akan berdampak semakin berkurangnya stok ikan yang ada di laut. Ketiga ekosistem tersebut merupakan rumah bagi ikan, di jadikan tempat untuk mencari makan, tempat untuk berlindung maupun tempat untuk kawin (memijah) bagi sesamanya. Selain ikan, terdapat juga banyak makhluk hidup lain yang mendiami ekosistem tersebut dan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam siklus rantai makanan. Olehnya, bila rumah mereka (ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove) di rusak, maka kerugian yang sangat besar tidak bisa terhindarkan. Pada akhirnya akan berdampak pada kondisi seorang pahlawan bahari (nelayan kecil) akan semakin mengkhawatirkan lagi sebab mereka sudah susah menangkap ikan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Banyak cara bisa dilakukan guna menyelamatkan laut kita yang di dalamnya terdapat banyak potensi diantaranya seperti ikan. Penggunaan alat tangkap ramah ingkungan merupakan salah satu cara yang bisa dipakai guna meminimalisir kerusakan lingkungan. Alat tangkap itu diantaranya pancing, dan jaring. Umumnya nelayan kecil banyak memanfaatkan kedua alat tangkap tersebut dalam menangkap ikan sebab selain efisien, modal yang dikeluarkan untuk membelinya masih bisa dijangkau. Selain itu, alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan potasium, sianida, dan bahan peledak (bom ikan) wajib dihindari sebab efek kerugian yang ditimbulkannya sangat besar baik bagi lingkungan maupun kepada masyarakat.
Penegakan hukum serta pengawasan juga memiliki peran yang sangat besar dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. Pemerintah daerah khususnya yang membidangi kelautan dan perikanan harus mengambil bagian dalam pengelolaan itu bersama penegak hukum serta masyarakat. Bila semua pemangku kepentingan sudah memiliki komitmen yang sama dalam pengelolaannya, maka sudah bisa dipastikan kerusakan sumber daya pesisir dan laut bisa diminimalisir.
Kasus Bom Ikan
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya sehari setelah hari raya Idul Fitri (tanggal 7-7-2016), wilayah perairan laut Buton Tengah tepatnya di Desa Lolibu dihebohkan dengan pemandangan yang tidak elok. Tidak elok karena masih dalam suasana lebaran mestinya dijadikan momentum untuk saling maaf memaafkan diantara sesama kaum muslimin/muslimah, tiba-tiba terdengar suara bom di laut yang sontak mengagetkan masyarakat. Juga tidak elok karena menurut masyarakat setempat, ternyata pelakunya di duga adalah orang yang dianggap tokoh di wilayah tersebut. Di desa itu, sebagian besar masyarakatnya adalah seorang pahlawan di bidang bahari. Setiap hari pahlawan bahari itu ditemani pancing, dan jaring serta sampan untuk pergi melaut mencari ikan demi untuk menafkahi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Ikan menjadi tumpuan utama bagi mereka untuk terus bertahan hidup bersama anggota keluarga tercinta. Apa hendak dipetik dari kejadian itu?Kesadaran Kolektif
Hendaknya kejadian diwaktu lalu dijadikan pelajaran berharga untuk menata masa depan. Laut beserta potensi didalamnya adalah anugerah yang dititipkan kepada kita, olehnya wajib untuk selalu dijaga, atau dikelola dengan baik demi kepentingan masa kini dan masa depan. Memang benar, bahwa ikan yang ada di laut mesti dimanfaatkan, namun bukan berarti bisa dimanfaatkan dengan sesuka hati tanpa memperhatikan keberlanjutannya. Bukankah menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak (bom ikan) bisa menghancurkan segalanya? Bukankah merusak lingkungan itu adalah salah satu bentuk kezaliman? Ikan juga ingin hidup aman dan nyaman bersama lingkungannya. Bila sudah demikian adanya, maka ikan akan berlimpah di laut, dan senyum manis dari nelayan kecil akan terus terpancar sebab setiap kali pergi melaut selalu membawa hasil tangkapan yang memuaskan. Oleh karenanya, kesadaran kolektif dari kita semuanya adalah merupakan sebuah keharusan agar sumber daya ikan yang sudah disediakan secara gratis itu tetap lestari. Tanpa sebuah kesadaran yang utuh dari kita, bukan tidak mungkin ikan hanya akan menjadi sebuah cerita dalam buku-buku pelajaran atau sebuah dongeng yang akan diwarisi kepada generasi masa depan Buton Tengah khususnya di Desa Lolibu.
Penulis adalah Peminat Sosial dan Lingkungan

 

 

 

  • view 61