Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 16 Juni 2018   22:07 WIB
LDC, PESISIR DAN LAUT

LDC, PESISIR DAN LAUT
Oleh:
Duliaman

Apakah LDC itu? Mungkin pertanyaan tersebut menjadi salah satu yang muncul di benak kita ketika baru pertama kali mendengar namanya. Meskipun demikian, sebenarnya LDC (Langkoe Diving Club) sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) sebab kiprahnya dalam memberikan kontribusi positif pada pembangunan daerah di Sultra sudah begitu lama terasa. LDC merupakan salah satu wadah untuk mengasah kepemimpinan, kreatifitas, peduli lingkungan, riset, serta mengasah kemampuan positif lainnya bagi generasi muda bangsa yang menempuh pendidikan di Universitas Halu Oleo (UHO) tepatnya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
LDC lahir dan datang dengan keunikannya sendiri sebab sampai hari ini kedudukannya berada di lingkungan kampus namun bersifat tidak terikat (independen) dalam tindakan yang diambilnya. Keadaan itulah yang membuat LDC lebih mengutamakan kemandirian dalam setiap langkahnya dalam memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian seperti apa langkah LDC dalam konteks kekinian?
13 November tahun 1998 merupakan awal berdirinya LDC di Sultra. Nama Langkoe pada LDC, diambil dari bahasa masyarakat suku Bajo yang tertuju pada salah satu jenis ikan yang khas di Sultra yang memiliki nilai ekonomis tinggi namun keberadaanya di alam sudah semakin kritis (hampir punah) yaitu ikan Napoleon (Cheilinus Undulatus). Oleh sebab itu, pengambilan ikan Napoleon sebagai ciri di LDC segaligus untuk mengampanyekan di masyarakat bahwa mendesaknya penyelamatan salah satu jenis ikan ini. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mengapa harus nama Langkoe yang berasal dari masyarakat suku Bajo yang diambil? Ini juga menandakan bahwa masyarakat suku Bajo merupakan representasi dari masyarakat wilayah pesisir di Sultra bahkan Indonesia yang merupakan pahlawan bahari.
Dinamika yang dihadapi sejak awal kelahirannya sampai hari ini kian membentuk LDC menjadi semakin mantap dan solid sehingga kontribusinya benar-benar dibutuhkan dan dirasakan oleh masyarakat Sultra utamanya di wilayah pesisir dan laut. Di tahun 2016 ini tepatnya di bulan November, LDC akan memasuki umur 18 tahun. Ini menandakan bahwa LDC sudah akan memasuki fase baru yang tentu dengan tantangan baru pula. Kalau LDC diibaratkan adalah seorang manusia, maka umur 18 tahun itu sudah memasuki usia dewasa. Dimana pada usia itu biasanya seseorang baru lulus dibangku SMA/SMK dan akan menghadapi realitas pilihan yang berbeda diantaranya apakah akan melanjutkan studi di bangku pendidikan yang lebih tinggi atau melaju di pelaminan (menikah). Begitu pula dalam konteks LDC, memasuki usia dewasa ini harus mampu mengambil langkah-langkah yang lebih progresif lagi sehingga keberadaan LDC sesuai dengan tuntutan zaman kekinian.
Dalam memberikan langkah kontribusi yang dilakukan oleh LDC, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang handal dalam bidang pesisir dan laut utamanya yang berbasiskan riset bawah air (penyelaman) menjadi pondasi utama yang sangat mendasar. Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan membutuhkan SDM yang siap untuk menggarap potensi didalamnya. Termasuk di wilayah Sultra sebagian besar wilayahnya adalah laut dengan kandungan potensi yang sangat luar biasa. Olehnya itu, LDC merupakan salah satu ruang yang bisa diakses oleh generasi muda yang berbasiskan keilmuan perikanan dan kelautan untuk mengasah seluruh kemampuanya sehingga kedepan diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata di bidang perikanan dan kelautan di Sultra bahkan Indonesia.
LDC yang berbasiskan riset bawah air(penyelaman) dimana wilayah peisisir dan laut merupakan habitat utama dalam mengaktualisasikan kemampuanya memiliki peranan besar dalam memberikan data ataupun informasi yang berkaitan dengan kondisi dunia perikanan dan kelautan di Sultra. Kurang lebih 18 tahun, LDC menyelami potensi bawah air di Sultra khususnya di ekosistem terumbu karang (coral reef) sehingga dianggap penting data ataupun informasi yang terkoleksi tersebut untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan oleh stakeholder terkait di masa kini. Dalam konteks perjalanannya, LDC tidak hanya memfokuskan diri pada kajian ataupun riset di ekosistem terumbu karang (coral reef), namun juga ekosistem lain (mangrove dan lamun) turut menjadi fokusnya sebab rantai ketiga ekosistem tersebut saling kait mengait yang tidak bisa di cerai pisahkan.
Masifnya pembangunan di daratan akibat dari kebutuhan manusia yang semakin besar, berdampak sangat signifikan terhadap kesehatan ekosistem sumber daya pesisir dan laut. Dimana kondisi ekosistem pesisir dan laut semakin mengkhawatirkan seiring berputarnya waktu. Olehnya itu, LDC selalu turut mengambil bagian dalam upaya meminimalisir dampak negatif pembangunan di daratan terhadap ekosistem pesisir dan laut melalui sosialisasi, pendidikan, ataupun kajian lapangan.
Sebagian besar wilayah Sultra adalah lautan dan mengandung potensi yang sangat besar yang bisa menopang bahkan memandirikan ekonomi masyarakat serta daerah. Pengelolaan serta pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan yang berkelanjutan belum digarap secara serius di daerah ini. Pertanyaan yang mesti kita jawab adalah apa sebabnya ini terjadi? Kondisi kekinian membuat kita semua harus berpikir ulang bahwa potensi di daerah ini bukan hanya di daratan namun ada juga di lautan. Potensi sumber daya pesisir dan laut yang besar ini sudah semestinya menjadi agenda utama pembangunan daerah dalam konteks kekinian dan di masa depan. Olehnya itu kerjasama semua stakeholder baik itu dunia Perguruan Tinggi, NGO, maupun pemerintah sebagai pembuat kebijakan (policy maker) sangat dibutuhkan. Olehnya itu, pembangunan perikanan diharapkan bisa menjadi lokomotif andalan bagi pembangunan daerah ini.
Wakatobi adalah salah satu kabupaten yang ada di Sultra yang lebih mengedepankan potensi pesisir dan laut sebagai basis pembangunan daerah. Meskipun diakui bahwa pemerintah daerah setempat masih memiliki kekurangan dalam menggenjot potensi daerahnya, namun kini daerah tersebut di anggap seksi di mata dunia sehingga tidak heran setiap tahun ribuan orang dari berbagai belahan dunia datang berkunjung ke daerah tersebut. Tentu potensi pesisir dan lautnya lah yang menjadi andalan dalam membangun daerahnya. Hal ini bisa menjadi referensi secara kolektif bagi Sultra dalam penataan pembangunan daerah kedepan sebab sebagian besar wilayahya adalah lautan.
Di usia yang ke 18 tahun ini, LDC sudah seharusnya menjadi ruang bersama untuk memperoleh informasi ataupun data yang berkaitan dengan kondisi kekinian potensi pesisir dan laut di Sultra. Dalam acara miladnya yang ke 18 ini, LDC mencoba membuat kegiatan seminar pembangunan perikanan yang bertema 'Tak Biru Lagi Lautku'. Kegiatan menarik tersebut akan dilaksanakan hari Selasa, tanggal 15 November 2016 di gedung kuliah FPIK. Pemateri yang diundang dalam kegiatan tersebut diantaranya: Sekda Sultra, Ketua DPRD Sultra, Bupati Wakatobi, dan Dekan FPIK UHO. Nampaknya ini akan menjadi kegiatan menarik untuk kita diskusikan bersama. Kita tunggu saja.
Penulis adalah Peminat Sosial dan Lingkungan Sultra

 

 

Karya : Duliaman