Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Enterpreneurship 16 Juni 2018   20:12 WIB
Pemuda Kekinian

  • PEMUDA KEKINIAN
    Oleh:
    DULIAMAN

Pemuda adalah aset yang paling berharga bagi suatu bangsa sebab baik buruknya suatu bangsa di masa depan juga tergantung pada kualitas pemudanya. Sejarah telah mencatat bahwa pemuda sudah begitu banyak memberikan kontribusi yang begitu memukau yang melahirkan perubahan besar. Pada era kekinian, tantangan yang dihadapi oleh kaum muda begitu sangat dinamis, misalnya terjebaknya kaum muda pada kegiatan tidak produktif (hedonis). Semua masalah yang dihadapi saat ini dibutuhkan penanganan yang serius oleh seluruh stakeholder yang berkepentingan. Tidak hanya itu, kaum muda kekinian juga mengalami "kebingungan" soal dunia kerja dimana ruang untuk bekerja semakin rumit disatu sisi sementara jumlah tenaga kerja disisi yang lain semakin meningkat. Maka tidak mengherankan fakta dilapangan menunjukan masih membludaknya tenaga kerja yang mencari peluang untuk bisa bekerja. Pertanyaan yang muncul kemudian apa jawaban untuk mengurai persoalan tersebut? Tulisan sederhana ini hanya akan membahas secara singkat salah satu soal yang masih terus dialami kaum muda yaitu bagaimana agar bisa terserap di dunia kerja.
Berbicara soal pemuda tentunya akan melahirkan definisi yang luas dan beragam. Namun demikian, pemuda yang dimaksud penulis pada tulisan ini adalah pemuda yang sudah memasuki fase untuk bekerja misalnya lulusan Perguruan Tinggi. Bisa terserap di dunia kerja tentunya sudah menjadi cita-cita atau harapan bagi setiap pemuda. Dan itu sudah menjadi kodrat manusia, sebab tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan dirinya untuk tidak memliki pekerjaan atau menganggur. Kalaupun ada yang berpikiran seperti itu, sudah bisa dipastikan yang bersangkutan memiliki problem pada mindset dan mentalnya. Namun demikian, keinginan untuk bisa terserap di dunia kerja pada faktanya tidak selalu berkorelasi dengan kondisi di lapangan. Ruang kompetisi yang dihadapi oleh kaum muda untuk mendapatkan pekerjaan begitu sangat dinamis, sehingga tidak mengherankan banyak kaum muda yang tidak bisa terserap di dunia kerja.
Jumlah pencari kerja di Indonesia sampai saat ini terus mengalami peningkatan. Hal ini menandakan bahwa lapangan kerja yang tersedia sudah tidak memadai untuk menampung jumlah para pencari kerja. Menurut data BPS tahun 2014, jumlah pencari kerja/pengangguran menurut tingkat pendidikan pada tahun 2013 yaitu tidak sekolah 1,05%, tidak tamat SD 6,46%, tamat SD 18,12%, SMP 22,76%, SMA/SMK 43,11% (sekitar 3,2 juta jiwa), Diploma 2,53% (sekitar 187.000 jiwa), S1 5,97% (sekitar 441.000 jiwa). Data diatas menunjukan jumlah tenaga kerja yang belum terserap masih sangat banyak, tentu angka-angka tersebut masih mengalami peningkatan seiring bergantinya tahun.
Persoalan untuk bisa terserap di dunia kerja yang dialami oleh kaum muda adalah menjadi hal klasik saat ini. Meskipun stakeholder terkait baik itu pemerintah, NGO, maupun dunia usaha sudah mengeluarkan langkah-langkah solutif untuk mengurai persoalan tersebut namun kuantitas dari pencari kerja belum menunjukan tanda-tanda perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi alternatif untuk menjawab persoalan tersebut. Jawaban yang paling memungkinkan untuk menjawab kerumitan tersebut adalah penciptaan lapangan kerja (job creator). Untuk menciptakan lapangan kerja, maka dibutuhkan kerja sama yang baik diantara stakeholder baik itu pemerintah sebagai policy maker, NGO, termasuk pemuda yang nantinya akan menjadi pelaku.
Pemerintah saat ini, sudah begitu menyadari akan pentingnya menumbuhkan semangat wirausaha kepada segenap anak bangsa khususnya kaum muda. Hal ini bisa dilihat dari program pemerintah seperti Gerakan Kewirausahaan Naional (GKN) dibawah naungan Kemenkop dan UKM, Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), atau Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dibawah naungan Kemenristekdikti. Kesemua program-program yang digulirkan oleh pemerintah tersebut memiliki semangat yang sama yaitu menumbuhkan semanagat wirausaha kepada para pemuda. Terlepas dari plus dan minusnya, langkah-langkah yang diambil pemerintah tersebut perlu diapresiasi. Tentunya untuk mendapatkan peluang itu, maka harus dijemput melalui proposal usulan. Peluang yang sudah ada didepan mata tersebut tidak boleh dilewatkan begitu saja, kalau tidak dimanfaatkan maka itu sayang seribu sayang.
Dalam konteks kekinian, pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia usaha adalah sebuah keniscayaan. Perubahan besar yang sedang dirasakan dunia saat ini sungguh 'memaksa' kita untuk bersahabat dengan teknologi. Itu artinya kita tidak bisa menghindar dari perubahan yang sedang dan akan terus berlangung di masa yang akan datang. Contoh kasus, kemunculan teknologi yang begitu masif di negara maju sejalan dengan menjamurnya jumlah pelaku usaha oleh warga negaranya yang kebanyakan di gandrungi oleh kaum muda. Ini bisa dilihat seperti di Amerika Serikat, menyusul juga Cina dan India yang saat ini mempertontonkan kejutan ekonomi yang ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu memukau. Bagaimana dengan kita Indonesia?
Positivity
Pada konteks Indonesia, terkhusus lagi kaum mudanya masih memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengambil peran sebagai 'pemain' dalam dunia usaha. Tren perkembangan teknologi yang sedang berlangsung saat ini, juga sejalan dengan mulai menjamurnya pelaku dunia usaha yang dipelopori oleh kaum muda. Realitas soal itu bisa dilihat dengan munculnya toko berbasis internet seperti buka lapak, ojek berbasis on line (go jek), dll. Meskipun pelaku usaha yang dimaksud secara hitungan kuantitas belum terlalu banyak, ini adalah prestasi yang cukup membanggakan. Pemuda kekinian tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu maupun masa yang sekarang, mau tidak mau harus kita mengambil bagian menjadi pencari solusi untuk menjawab kerumitan yang sedang kita alami. Terlepas dari berbagai persoalan yang sedang terjadi, berpikir positif adalah langkah awal untuk maju. Peran kaum muda dalam menangkap peluang untuk membuka lapangan kerja, adalah salah satu langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurai persoalan klasik ini. Meskipun pertarungan di dunia usaha begitu dinamis, namun yakinlah bahwa semua itu bisa dihadapi dengan gagah perkasa. Bukankah disetiap kesempitan selalu ada kesempatan? Begitu juga dalam dunia usaha, kalau cepat mengambil tindakan paati selalu ada jalan. Persoalan sekarang adalah tinggal kemauan, mau apa tidak memasuki dunia usaha? Ini sebenarnya tantangan terberatnya, melawan diri sendiri. Salah satu penyakit yang selalu menggerogoti adalah soal "gengsi". Meskipun demikian, tentu apapun hambatan dan rintangannya kalau kita mau pasti banyak jalan untuk mewujudkan cita-cita membuka lapangan kerja. Sekali lagi, kemauan adalah faktor kunci untuk mengambil tindakan nyata. Menutup tulisan singkat ini, saya akan mengutip pernyataan Kang Emil, Walikota Bandung bahwa "Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi bukan pemuda pemaki-maki". Saya sependapat dengan Kang Emil, bagaimana dengan anda?
Penulis adalah Peminat Sosial

 

 

Karya : Duliaman