Aku Hanya Ingin Belajar

duhitatri nabhas
Karya duhitatri nabhas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2016
Aku Hanya Ingin Belajar

Takdir terkadang memang aneh. Aku menginginkan itu, tapi Tuhan memberikanku yang ini. Terkadang ku berpikir, jika aku terlahir dari keluarga kaya mungkin aku tak akan melakukan perjuangan sekeras ini. Namun, aku yakin Tuhan menginginkanku melakukan perjuangan keras ini karena aku mampu.

Aku hanya anak kecil yang memiliki keinginan sederhana. Apakah sederhana? Mungkin tidak. Mungkin keinginanku terlalu berlebihan dan tidak masuk akal. Untuk keluargaku.

"Kamu itu sadar diri, Nak. Kamu itu siapa? Siapa orang tuamu? Kamu tidak usah neko-neko.Ngerti gak?! Sudah berapa kali ibu bilang. Bagaimana bisa ibu menyekolahkanmu di sana?"

Ibu masih terus memarahiku sambil memukulkan ranting kecil ke badanku yang kecil ini. Ia masih sama dengan sebelumnya, menolak keinginanku yang sudah kusampaikan berkali-kali. Aku merasakan sakit, bukan karena ranting kecil yang ibu pukulkan ke pantatku. Aku sakit melihat kekhawatiran ibuku, kecemasan, ketakutan. Aku tahu dengan kondisi keluarga yang tidak memiliki segalanya, mustahil bagi ibu untuk mengabulkan keinginanku belajar di sekolah tahfidz itu. Sudah berulang kali aku sampaikan keinginanku pada Ibu, tapi Ibu tetap menolak mengabulkan inginku ini. Aku tahu, orang tuaku tak sanggup menyekolahkanku di sana. Namun, tekadku masih kuat. Aku masih tetap pada keinginan besarku, belajar di sekolah tahfidz itu. Aku ingin seperti mereka yang begitu dengan indahnya melantunkan ayat-ayat Allah. Dan aku sudah melakukan hal yang tak pernah mereka tahu. Iya, keluargaku tak pernah tahu apa yang telah aku lakukan.

"Aku ingin belajar di sekolah tahfidz itu, Bu. Aku punya uang. Aku punya uang untuk membiayai pendaftaran dan sekolahku nanti. Aku sudah menabung selama dua tahun ini, Bu."

Ku coba ungkapkan apa yang telah aku persiapkan untuk mencapai keinginanku. Yah, aku telah mengumpulkan uang selama dua tahun ini dari hasil membantu orang berjualan buah dan apapun yang mampu menghasilkan uang. Kau tahu tiang rumah yang terbuat dari bambu? Aku lubangi bambu tiang itu dan aku tabung uang di dalamnya selama dua tahun ini. Aku ceritakan semua pada ibu, ayah, kakak dan keluargaku.

Ibu terdiam, menangis, dan memelukku. Ia tidak percaya dengan apa yang telah anaknya yang selalu meminta sekolah dan sekolah ini lakukan. Bersama ayah dan kakaku, aku membuka tabunganku. Masya Allah begitu banyaknya uang yang telah aku kumpulkan rupanya. Uang itu mampu membiayai sekolahku nanti selama enam bulan. Keluargaku begitu bahagia dan tidak percaya. Kedua orang tuaku langsung menyetujui dan merestuiku untuk belajar di sekolah tahfidz itu. Aku begitu bahagia. Begitupun dengan keuargaku. Keluargaku mengantarku melakukan pendaftaran ke sekolah itu. Muhammad Ramadhan kini mampu belajar di sekolah tahfidz. Bahagia rasanya diri ini. Mereka juga turut bahagia tanpa mengingat, bagaimana biaya setelah enam bulan nanti? Aku pun tak tahu.

?

  • view 188