PRA (Pulang)

Amrullah Mahmud
Karya Amrullah Mahmud Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2016
PRA (Pulang)

Hari terakhir tiba, setelah lelah kurang sehari dari sepekan penuh kami bertingkah layaknya warga lokal. Bangun bersambut fajar tanda subuh menjemput sebelum kemudian berladang mengadu nasib demi rupiah penghidupan. Para petani berangkat ke pematang masing-masing, para peternak yang membiarkan ternak mereka mandiri. Kadang terlintas pertanyaan seperti ini, dilepas di tengah-tengah hutan dan bagaimana cara sapi-sapi itu tahu arah jalan pulang?. Aku sadar, kami semua akan pulang hari ini setelah tadi sore kami selesaikan Pleno Desa sebagai puncak acara.

                Malam yang temaram ini, seperti biasa kami berkumpul di ruang tamu keluarga yang amat luas milik empu rumah. Duduk berbaris membentuk beberapa shaf siap mendengar arahan ataupun pesan kesan Kepala Desa. Ketua Panitia dan Steering ditemani Puang Desa mengambil tempat di depan, kami bersilah berhadapan. Aku sendiri tidak terlalu fokus dengan obrolan malam terkahir ini, aku memilih sibuk mengingat-ngingat kejadian lucu seminggu terakhir sebagai penghibur diri karena besok jika aku sudah bangun maka di Makassarlah aku membuka mata, kadang batin tak bisa menerima kenyataan. Ah, kesibukan kampus akan menggerogoti lagi. Lamunanku buyar seketika mendengar tangisan perpisahan dari para Panita spesialis dapur. Ada Koordinator Logistik disana sedang memeluk erat istri Pak Desa. Waktunya perpisahan.

                Tadi, Kepala desa menyampaikan rasa terima kasihnya yang amat kepada kami. Katanya, Desa ini jarang-jarang didatangi oleh banyak orang seperti ini. Gerombolan kegiatan yang kami laksanakan hampir melibatkan sekira 60 mahasiswa. Jumlah yang kontras ketika memasuki sebuah kampung. Ada juga beberapa masyarakat yang meminta untuk kami tetap tinggal beberapa hari lagi dengan alasan yang sama, meramaikan desa. Bahkan, mahasiswa yang melakukan KKN pun tak serame ini. Beliau juga berpesan agar kami dapat membantu persoalan-persoalan yang sedang dihadapi wilayahnya. Tentu kami tak berjanji bisa menyelesaikan semuanya, tapi setidaknya kami bisa berbuat suatu yang sederhana dengan memulainya dari hal-hal kecil. Itu yang disampaikan salah satu Panitia Pengarah dalam pernyataan perpisahannya. Kembali memastikan kalau kami ini datang dengan tujuan memang untuk sedikit meringankan beban penduduk disini walau pada kenyataannya disini kami juga tak sedikit merepotkan warga karena rumah mereka berganti-ganti dari satu Dusun ke Dusun yang lain kami tempati untuk istirahat.

                Semua sudah beres. Mulai dari acara packing barang bawaan, berfoto bersama dengan tuan rumah dan para peserta serta acara pamitan yang dibumbui dengan linangan air mata dari Panitia perempuan. Ah, mengapa wanita begitu mudah mengeluarkan air matanya?.

                Aku menuruni anak tangga rumah dan bersiap kembali menggunakan kedua kakiku berjalan melewati medan naik turun. Kami mulai berjalan setelah beberapa ransel dan barang-barang dinaikkan keatas mobil pick-up. Aku berjalan tak terlalu di depan tapi lebih memilih melangkah pada bagian tengah barisan, sedikit di belakang ada beberapa Peserta lainnya. Jika aku jadi kau maka akan kau rasakan juga sensasi yang sama. Jelas iklim disini jauh berbeda, disini cuacanya sedang cerah jadi aku bisa menonton parade bintang bersinar begitu memesona memanjakan indera. Rembulan yang sepotong seolah memandu arak-arakan peserta karnaval di langit hitam. Pemandangan seperti ini rupanya bersetia menemani perjalanan terkahir kali ini.

                Lima jam kemudian atau sekitar jam tiga dinihari. Tibalah kami di Makassar lagi.

  • view 302