Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 31 Mei 2016   16:38 WIB
Tempo Hari

Dua hari yang lalu, kita berjumpa (lagi). Setelah hampir cukup lama aku tak menemukan cantik itu. Jelas, sikapmu terhadapku banyak kelainan, bisa kukatakan abnormal. Tapi yasudah, aku tak ingin bercerita tentang acuhmu.

Di parkiran kampus aku menyapa sekedar bertanya.

“mau kemana?", walau sebenarnya kutahu tujuanmu adalah pulang.

Kamu terlihat buru-buru kala itu. Di atas motor aku hendak pamit pulang dan bilang “duluan”, kau mengangguk tanpa senyum.

Langsung kuingat satu hal sederhana namun penting. Aku yang tanpa ada apa-apanya ini, aku yang bukan siapa-siapa ini, aku yang nekat dan hanya bermodalkan niat mendekati berusaha mendapatkan perhatianmu kembali, layaknya beberapa hari sebelum hari ini.

Apakah kau tahu? Laki-laki akan selalu lebih awal menyukai dan merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan. Kemudian bersama masa, perasaan perempuan mengikut, bisa menyukai, bisa juga jadi membenci, menghindar jauh.

Dalam hati aku berdialog dengan diriku sendiri, kalau (dulu), dalam hubungan rumit ini akulah yang duluan dengan lancang menaruh harap padamu. Barang tentu kamu tak boleh dan tak akan mendahuluiku. Jika saat itu sudah tiba, kamu bisa melangkah cepat tapi jangan tergesa-gesa agar bisa sejajar denganku. Bila sejajar saja tak cukup buatmu, jangan berupaya untuk melewatiku. Asal tahu saja, berada didepanku itu tak akan mudah. Aku yang lebih dulu menyukaimu, aku berada paling depan soal mencintaimu, tak perlu repot-repot sejajar apalagi melewati rasaku. Kamu belakangan saja, di belakangku. Karena itu sudah cukup menjadi kekuatanku.

Tak lama aku telah sampai di kosan, kuhabiskan waktu sekira lima menit saja.

Karya : Amrullah Mahmud