KurinduITD- Melawan Diskriminasi Kerja bagi Difabel lewat Teknologi

Dimas Mumpuni
Karya Dimas Mumpuni Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 20 November 2016
KurinduITD- Melawan Diskriminasi Kerja bagi Difabel lewat Teknologi

Jika kita bertanya apa penyakit paling berbahaya di dunia ini?, banyak orang pasti menyebut jantung, sebagian lagi mengatakan kanker atau beberapa orang lain tidak tahu. Namun, jika coba melihat dengan kacamata luas. Penyakit terbesar di dunia ini adalah sebuah diskriminasi. Saya berpendapat diskriminasi adalah sebuah penyakit yang melekat pada hati manusia-manusia . Penyakit yang mampu memecah sebuah negara. Penyakit yang mampu membunuh jutaan orang dengan sikap kebencian yang melekat. Terkadang hal tersebut dikarenakan adanya manusia mempunyai keunggulan dalam hal tertentu. Entah itu keunggulan fisik, keunggulan mayoritas maupun keunggulan kecerdasan. Keunggulan tersebut menjadikan kita lupa bahwa sesungguhnya kita berasal dari sebuah sumber yang sama, ciptaan Tuhan. 

Diskriminasi yang telah melekat lama dan menjadi sebuah nature dari manusia akhirnya perlu dipandang sebagai sebuah penyakit serius yang perlu diberikan sebuah cara penyembuhan. Perbincangan mengenai diskriminasi sudah menjadi perbincangan klasik yang tak urung selesai. Perbincangan ini pun berujung pada wacana perubahan untuk menolak sebuah ungkapan diskriminasi. Langkah kecil terus dimulai dan diperjuangkan oleh berbagai pihak. Cukup banyak namun memang belum begitu terasa dikarenakan banyaknya kasus diskriminasi yang muncul dinegara ini. Mulai dari agama, ras, suku, seks dan beragam kasus lain. Niat baik untuk menciptakan sebuah kondisi ideal tanpa sebuah diskriminasi kencang terdengar saat ini.

Pergerakan ini adalah pergerakan gotong royong. Besarnya dan banyaknya kasus diskriminasi memerlukan kolaborasi banyak pihak untuk sedikit mengurangi borok yang melekat. Gerakan itupun perlu sebuah inklusifitas, bukan pergerakan eksklusif kaum elit saja. Gerakan ini perlu dari bawah dan perlu segera dimulai. Tak perlu teralu kompleks dan bernafas "wacana" saja. Gerakan ini harus merupakan gerakan konkrit menyelesaikan masalah. Lahir untuk menyelesaikan permasalahan besar, namun bergerak dengan langkah-langkah kecil. Alasannya mudah, kita sudah rindu akan Indonesia tanpa diskriminasi sekecil apapun itu.

Gerakan yang cukup saya lihat dalam hal penyelesaian masalah diskriminasi yang mampu dan menarik perhatian saya secara personal adalah gerakan untuk membantu masyarakat difable. Masyarakat ini adalah masyarakat minoritas yang mempunyai karunia menjadi "berbeda" dibanding masyarakat umumnya. Jika dibanding kasus diskriminasi lain, mungkin masyarakat golongan ini adalah masyarakat yang tidak bisa memilih  dan menolak sebuah keadaan. Mereka adalah kelompok unik yang mempunyai sedikit keterbatasan yang perlu dirangkul bersama. Namun, diskriminasi terhadap golongan ini masih sangat kuat.

Diskriminasi yang dimaksud bukanlah sebuah kalimat cemooh, ejekan ataupun bahasa sarcasm lain yang beredar di kasus diskriminasi lain yang ada di Indonesia. Diskriminasi yang terjadi adalah diskriminasi tanpa sadar. Saya rasa itu lebih berbahaya, karena masyarakat umum secara tidak sadar melakukannya. Ya, mungkin tidaklah salah tapi cukup menyakiti. Contoh paling nyata adalah diskriminasi penyandang keterbatasan fisik ini atau difabel di dunia kerja.

Sebagai orang awam mungkin melihat ada gap antara perusahaan dengan pencari kerja difable. Perusahaan akan selalu mencari karyawan yang berkualitas dan berperforma tinggi. Orang normal saja masih mempunyai permasalahan dalam hal masuk kedalam sebuah lapangan pekerjaan apalagi seorang difable yang memerlukan bantuan khusus. Tak nampak memang adanya diskriminasi disini namun berdasarkan data, dari 4.000 orang pencari kerja, ada 37 yang telah diterima dan ditempatkan. Pulau jawa masih lebih baik dibanding pulau lain di Indonesia yang memberikan  kesempatan yang  lebih kecil. Walau sudah ada ada peraturan standar PBB tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat (2013), yang mengisyaratkan perusahaan setidaknya memberikan 1% untuk kaum difabel, nyatanya realisasi masih jarang ditemui.

Belum banyak serapan tenaga kerja ini dikarenakan kurangnya pemahaman perusahaan maupun instansi pada mereka penyandang keterbatasan fisik. akibatnya, hanya sedikit perusahaan yang mampu menyediakan lapangan kerja bagi para difabel. Alasannya adalah kemampuan dan aksesbilitas kantor untuk memenuhi kebutuhan mereka. Baik dari segi biaya maupun fasilitas pendukung misalnya membetulkan kamar mandi agar kursi roda bisa masuk dan layak untuk penyandang disabilitas.

Memang cukup wajar jika perusahaan melakukan hal tersebut dengan alasan yang telah dijelaskan. Namun, apakah itu fair bagi seorang difabel yang mempunyai kemampuan, kemauan dan working attitude yang baik. Apakah fasilitas dan biaya menghambat mereka untuk berlari memberikan makna kepada masyarakat. ya, ini adalah sebuah diskriminasi kecil bagi mereka yang masih mempunyai toleransi tinggi di dalam masyarakat.

Pemerintah tidak mau diam saja. UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Difabilitas sedikit banyak telah membantu untuk mendorong perusahaan membuka lebih luas lapangan pekerjaan. Setidaknya sekarang sudah banyak instansi, seperti perbankan, BUMN dan perusahaan multinasional mulai berbondong-bondong menyediakan pekerjaan bagi difabilitas. Peraturan ini membawa angin segar bagi kaum difabel untuk diakui di dunia kerja.

Gotong royong pun bersambut manis, teriakan kerinduan pada Indonesia tanpa diskriminasi disambut hanyat oleh para generasi muda untuk berkontribusi menyelesaikan masalah tersebut. Dia bernama Ruby Emir, seorang pemuda yang tergerak hatinya untuk membuat sebuah solusi pada mereka para difabel untuk lebih mudah mendapatkan akses pada dunia kerja. 

Langkah kecil itu bernama Kerjabilitas, sebuah platform (mobile dan web) pencari kerja yang dikhususkan bagi masyarakat berkebutuhan khusus (difabel). Sedikit berbeda dengan platform perncari kerja pada umumnya, Kerjabilitas mendesain layanan yang ada menyesukaikan dengan calon penggunanya. Misalnya dengan menambahkan kompatibilitas screen reader untuk penyandang tuna netra dan memasangkan simbol-simbol tertentu untuk mudah dipahami oleh penyandang tuna rungu. Selain itu lowongan pekerjaan yang ditawarkan juga langsung menyasar kepada perusahaan penyedia kerja inklusi.

 

Harapan itu selalu ada. Seperti halnya gerakan gerakan yang telah dilakukan oleh para pemuda melalui gerakan nyata ini maka harapan bahwa Indonesia tanpa diskriminasi bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Pemuda dengan segala ambisi dan spiritnya adalah aset yang berharga negeri ini untuk membuat sebuah dobrakan-dobrakan pada kondisi statis yang ada. Teknologi adalah senjata bagi mereka untuk unjuk gigi bahwa inovasi itu sangat mungkin diciptakan. Mindset untuk menyelesaikan masalah yang beredar di masyarakat adalah modal untuk terus bergerak tanpa lelah dengan menempatkan empati di diri orang lain. Perwujudan menjadi aksi nyata lah yang akhirnya ditunggu.

Entrepreneurship adalah sebuah gaya hidup baru yang perlu dipilih. Entrepreneurship selain mengajarkan cara melihat peluang kemudian menyulapnya menjadi sesuatu yang bernilai. Dalam entrepreneurship seorang pemuda dituntut mencari permasalahan inti yang ada di masyarakat yang kemudian dicari solusi konkrit hingga pada ujungnya tampak dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Kerjabilitas adalah satu dari ribuan gerakan pemuda lain di bidang entrepreneurship dengan mengandalkan teknologi yang menjadi keunggulannya.

Pada akhirnya, seperti yang selalu diperjuangkan oleh Denny Ja selama ini yang tertuang di setiap karyanya. Indonesia tanpa diskriminasi itu bukanlah wacana atau utopia semata.Ragam diskriminasi yang ada di Indonesia harus diselesaikan bersama oleh berbagai pihak.  Sudah ada yang bergerak, yang dibutuhkan hanya lebih banyak tangan yang turun bergerak memberikan solusi pada permasalahan yang ada. Sudah cukup banyak pengritik, namun tak cukup banyak penggerak. Indonesia butuh lebih banyak penggerak seperti Ruby Emir dan pemuda lain di Indonesia untuk mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi pada setiap sektor yang ada. Tak perlu terlalu besar, cukup mulai dari hal kecil, menghargai sesama.

#LombaKurinduITD

 Terimakasih

Tulisan terinspirasi dari karya Denny Ja baik di blog, video maupun puisi.

Ruang tunggu bandara soekarno Hatta, 20 November 2016.

Dimas Ragil Mumpuni.

 

 

  • view 170