Sang Pengabdi

dreamy~
Karya dreamy~  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Sang Pengabdi

Senja semakin mencekam. Menelan keindahan alam yang mempesona berubah menjadi mengerikan. Mayat terhampar bagaikan debu. Warna darah yang berceceran memusnahkan kilau senja mentari kala itu. Seorang anak kecil berdiri termangu. Menyaksikan ibunya yang tewas di tembak penjajah dan ayah yang diseret serdadu Belanda.

?Ibu, ibu, mari pulang. Hari telah malam. Bukankah ibu berjanji malam ini akan mengajariku alif, ba, ta, tsa? Ibu, cepat pulang ke rumah bu... "

Anak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika ibunya tak jua menjawabnya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Tiba-tiba terdengar suara keras memanggilnya.

?Hei, siapa kamu?!? bentak seorang jendral belanda kepadanya.

?A..aku..aku Abdullah hasyim. Sedang menunggu ibu.? Jawabnya. Sekejap saja anak itu di tampar oleh jendral itu.

? Hei bocah, wajahmu tampan, tapi namamu bodoh sekali! Ake benci namamu. Sekarang ku ganti namamu menjadi Van Rudolf Bomel. Awas! Jangan kau sebut lagi namamu itu, nanti kau akan ku bunuh!? ancam jendral itu.

Anak itu menangis ketakutan. Ia pun di paksa untuk ikut serdadu-serdadu Belanda itu ke markasnya.

?*****

Waktu terus berputar di bumi pertiwi. Sudah dua puluh tahun berlalu dari senja itu. Tanah Indonesia semakin merajalela. Banyak pekerja Rodi yang menjadi tahanan ketika mereka memberontak. Penjara penuh dengan orang-orang renta.

Hingga pada suatu malam, sang kepala sipir penjara yang tak lain bernama Van Rudolf Bomel itu, tengah memerikasa setiap kamar tahanan. Setiap tahanan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu melintas di hadapan mereka. Karena jika tidak, sepatu boot keras milik tuan Rudolf itu akan mendarat di wajah mereka.

Rudolf marah besar ketika ia mendengar suara dari seorang kamar tahanan. Seorang tua renta yang sedang khusyu bersenandung membaca ayat-ayat suci Al-Qur?an.

?Hei! Hentikan suara jelek mu itu!? bentak Rudolf. Tapi sang tua renta itu tetap saja meneruskan bacaanya. Rudolf pun bertambah berang. Ia menghampiri orang tua itu dan meludahinya dengan kasar. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyundut seluruh badan tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Namun tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.

?

Bibir yang kering milik sang tahanan menucapkan kata ?Rabbi, kuatkanlah aku..?. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak berkata, "Bersabarlah ustadz... insyaallah tempatmu di Syurga.?

Melihat kegigihan orang tua itu, Rudolf semakin menjadi. Ia menghampiri orang tua itu dan memaksanya agar memberikan buku yang sedang di bacanya itu.

?Haram bagi tanganmu yang berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!"ucap orang tua itu.

Tak ada jalan lain, akhirnya Rudolf mengambil paksa buku itu. Sepatu seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Rudolf. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ia merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari yang telah hancur. Setelah tangan tua itu tak berdaya, Rudolf memungut buku kecil yang membuatnya marah itu. Perlahan Rudolf membuka sampul buku yang telah lusuh. Ia pun mendadak termenung.?

"Hmm..aku seperti pernah mengenal buku ini..? Tanyanya dalam hati.

Perlahan Rudolf membuka lembaran pertama itu. Ia tambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan itu dahulu. Akhirnya Rudolf duduk di samping orang tua yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis Rudolf kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Rudolf rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, ia teringat dulu ibu dan ayahnya pernah mengajarinya mengaji membaca Al-Qur?an.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat, bahwa buku yang di genggamannya adalah Kitab Suci milik ayahnya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahu nya. Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini.

?Ayah..ayah..maafkan aku yang telah menyiksamu..maafkan aku ayah..? jerit Rudolf pada ayahnya. Cucran air mata deras pun tak dapat ia hentikan. Ayahnya pun berkata ?Anakku, berjuanglah di jalan kebaikan di bumi pertiwi ini. Lawan penjajah-penjajah itu." Selesai berpesan, sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah..

Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Kini Rudolf pun mengembalikan namanya menjadi Abdullah hasyim. Dan berjuang melawan penajajah belanda di Indonesia hingga akhirnya Indonesia merdeka.

?

Created by Dreamy~


Baca dan lihat juga foto dan tulisan dreamy disini :)

Tulisan Singa yang tersesat
Foto?Perbedaan Berani dan Nekat di Indonesia
Tulisan Bertemunya Alam dengan Canggihnya Teknologi
Tulisan Ada Monster di Rumah ku
Foto Ketika Teknologi menyatukan manusia
Tulisan Generasi Yang Tertidur
Tulisan pertama Akulah Impian itu
Tulisan Ayo Nulis!
Tulisan Ada Jin di Internet mu!
Tulisan Pemimpin muda cinta bahasa

  • view 208