Lapangan. sebuah cerita. sebuah rasa, sebuah awalan.

Donny Wicaksono
Karya Donny Wicaksono Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Juni 2016
Lapangan. sebuah cerita. sebuah rasa, sebuah awalan.

Tulisan ini didedikasikan kepada mereka yang peduli akan rasa ikatan gotong royong dan persaudaraan yang ada dalam masyarakat dan kepada mereka yang telah mengambilalih fungsikan pengunaan lapangan dengan beralasan kepentingan pribadi maupun beberapa kelompok agar mereka tahu bahwa lapangan tidak hanya sekedar tanah kosong.

Lapangan kami

Lapangan dekat rumah. Di lapangan aku mengenal mereka, teman main ketika kecil, di lapangan aku lihat banyak warga berkumpul, bercengkerama, di lapangan aku lihat banyak pedagang menjajakan jualannya dan mendapatkan untung lebih hari itu karena banyak anak-anak yang belu. Di lapangan pula aku mengenal bagaimana mereka para anak muda mulai menentukan jalan mereka sendiri. Lapangan yang ada di tiap gang atau di dalam satu rt memang punya daya tariknya tersendiri apalagi ukuran lapangan itu besar, rasanya jadi ingin main terus disana dan menikmati waktu bersama orang-orang sekitar terutama tetangga-tetangga gue tersendiri.

Entah emang karena gue yang tinggal di pinggiran kota atau di daerah yang deket dari kota dan pusat, gue ngerasain banget bagaimana kurangnya lahan main buat anak-anak yang ada di sekitar lingkungan gue. Kegelisahan gue akan kurangnya lahan untuk bermain anak semakin tambah setelah gue amatin banyak anak-anak yang engga cuma di lingkungan gue, mereka bermain di pinggir jalan bahkan jalan raya yang merupakan salah satu akses penting untuk menghubungkan jalan raya ke jalan kecil. Ditambah lagi kita tau kalau anak sekarang lebih seneng pergi ke warnet atau rental ps daripada main dan bersosialisasi dengan anak-anak sepanteran mereka.

Kalau mereka punya wadah, punya tempat untuk bermain, berkumpul dan mengenal teman-temannya yang lain dan engga kejerumus ke hal-hal negatif pasti mereka akan lebih memilih main bersama teman-teman mereka di lapangan dekat rumah mereka. Mau itu lapangan basket, lapangan voli, lapangan bulu tangkis, yang penting ada tanah kosong dan udah di semen rata itu udah termasuk lapangan dan bisa dipakai buat menunjuang aktivitas mereka dan menyalurkan energy-energi mereka yang sangat-sangat banyak karena kita tahu, anak kecil itu susah capek. Kalau mau buat mereka capek ya biarin mereka sepuasnya sampai capek.

Sayangnya, tempat yang harusnya bisa mereka jadikan sebagai media untuk menyalurkan energi mereka atau bahkan memunculkan potensi mereka, harus terhalang oleh keinginan orang dewasa. Iya, orang dewasa yang ada di sekitar mereka dan mempunya kepentingan dengan lahan kosong itu. Entah buat bangun rumah, buat parkir mobil, atau sekedar dibiarkan kosong tak beurus dan menjadi lahan buat orang buang sampah sembarangan atau sarang tikus dan teman-temannya. Hal-hal besar termasuk masalah-masalah yang besar selalu berasal dari masalah kecil yang di anggap remeh dan disepelekan seperti apa yang ada sekarang.

Giliran anak terlalu sering bermain di warnet ketimbang belajar di rumah, yang disalahkan pemerintah, kenapa masih membuka game online, kenapa masih membolehkan warnet itu dibuka. Come on! Anak-anak itu energinya banyak, rasa penasarannya tinggi dan rasa mau mencobanya itu kuat. Anak-anak belum paham mengenai bagaimana mereka harus menyalurkan energi dan rasa keingintahuan mereka. Yang terjadi pada mereka adalah hasil dari lingkungan.

Beruntungnya gue waktu kecil masih bisa ngerasain banyak lapangan-lapangan deket rumah gue. engga deket rumah gue juga sih. Waktu gue kecil, ketika waktu udah mulai masuk jam 4, tandanya udah mulai waktu untuk melancong ke tempat lain buat cari lawan untuk diajak tanding bola atau sekedar liatin pertandingan-pertandingan liga bocah yang ada di kisaran RW gue sampe ke beberapa RW terdekat. Memang udah hal yang lazim dan rada street soccer ketika gue dan yang lain lagi asik main bola di lapangan deket rumah terus ada anak-anak entah darimana mereka berasal terus ngajakin ngadu bola atau sekedar latihan biasa. Dan biasanya, emak-emak yang rumahnya deket lapangan akan ikut keluar untuk sekedar cari udara segar atau duduk-duduk dipinggir lapangan buat bawelin anaknya yang lagi main bola suruh main yang bener dan nyuruh pelan-pelan kalau nendang.

Kalau lagi sial, biasanya di sebrang lapangan, ada penjaga yang suka tiduran di kursi santai depan rumahnya. Kalau kita main bolanya rada berisik dan gaduh, pasti Bapak penjaga langsung ngambil senapan angina ke dalem rumah dan ngarahin senapan anginnya ke bola yang lagi kita mainin sambil marahin kita untuk main pelan-pelan. Rada greget emang.

Suasana sore hari di pinggiran lapangan, ditemani sepotong senja yang cahayanya mulai perlahan kian meredup dan suara sorak sorai anak-anak yang menikmati apa yang mereka mainkan serta penjaja makanan yang berhenti sejenak untuk menawarkan makanannya pada kami, menjadi euphoria tersendiri kalau memang ketika sore hari, menghabiskan waktu dengan bermain di lapangan dekat rumah akan semakin mengakrabkan hubungan antara gue dengan teman yang lain dan antara tetangga satu dengan tetangga yang lain.

Jempol kaki bengkak, tulang kering sakit, muka kucel, kaki kotor memang seperti menjadi saksi bisu tersendiri atas rutinitas yang kami lakukan tiap sore dan selepas melepas keringat, kita selalu sempatkan untuk berbincang-bincang sejenak atau menceritakan banyak hal yang masih dalam obrolan anak-anak dengan imajinasi yang masih luas tak terbatas dengan saling unjuk gigi atas pengalaman-pengalaman yang pernah kita rasakan. Kami pun baru siap pulang ketika satu persatu teriakan dari orang tua kami mulai memanggil kami dari kejauhan dan menyuruh kami untuk pulang guna melanjutkan aktivitas kami baik itu mengaji atau sekedar nonton film kartun yang ada di tv karena masa anak-anak kami begitu bahagia, dari jam 5 atau setengah 6 sore, masih banyak acara kartun atau acara-acara lucu yang mendidik dan menghibur yang bisa di tonton sampai jam 7 atau setengah 8 malam jadi ketika kami masih kecil, kami belum mengenal tayangan yang lebay, tamu acara yang di bayar untuk berpura-pura, mengenal sinetron yang tak kunjung usai atau mengenal acara-acara pembodohan.

Ketika malam tiba pun, lapangan deket rumah gue engga kunjung sepi malah ketika malam, aktivitas yang dilakukan di lapangan ini makin ramai. Entah anak-anak muda di sekitaran yang kumpul untuk cerita-cerita atau bermain catur atau kartu atau sekedar silaturahmi, dan bagi gue yang masih anak-anak dulu, ketika malem datang artinya mainan tetap berlanjut walaupun besoknya masuk sekolah. Kalau udah malam, mainan yang kita mainkan engga cuma bola, kadang main gambaran, kadang main gundu, main galaksin, petak jongkok, petak umpet, dan benteng. Permainan dipilih berdasarkan suara terbanyak yang ada. Semakin malam suasana di sekitar lapangan pun makin hidup, lampu-lampu depan rumah di sekitar lapangan mulai dinyalakan dan lampu yang ada di lapangan pun turut dinyalakan, seolah-olah kita, para anak-anak yang bermain adalah superstar yang sedang bertanding dalam sebuah pertandingan resmi dan ditonton oleh banyak orang.

Anak-anak cowok biasanya mendominasi lapangan entah buat main galaksin atau petak jongkok, kalau anak cewek mainnya di pinggir lapangan, main karet, atau main petak gunung. Kalau anak ceweknya lagi banyak yang muncul, kita main bareng cowok cewek main galaksin atau main benteng. Bagi kami yang kala itu masih anak-anak, bermain dengan teman sebaya adalah hal yang sangat amat menyenangkan meskipun suka ada sedikit perselisihan, perdebatan dan air mata karena merasa dicurangi, itu bukan masalah karena selain kita tumbuh bersama, kita juga sehat bersama.

Ketika anak-anak sibuk bermain dengan permainannya sendiri, para ibu-ibu, bapak-bapak atau anak muda yang kumpul juga turut saling bercerita dan tertawa bersama menceritakan banyak hal yang kami para anak-anak belum paham yang bisa gue lihat saat itu adalah suasana kebersamaan yang hangat dan kelekatan yang dekat. Tak jarang para ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak muda menceritakan pengalaman-pengalaman mereka atau sekedar membagikan tips-tips yang mereka tahu untuk membantu tetangga lain yang sedang mengalami kesulitan atau sedang sakit. Persaudaraan terlihat sangat kokoh meski ketika pagi menjelang siang, warga-warga disini sibuk dengan urusan mereka masing-masing tapi ketika sore dan malam adalah waktu bagi mereka untuk berkumpul bersama tetangga yang lain di lapangan terdekat dari rumah mereka. Lapangan yang ada di dekat rumah tidak hanya berarti sebagai sebuah tempat untuk berolahraga tapi juga bermakna dalam menyatukan warga satu sama lain.

Ketika momentum tertentu seperti 17agustusan atau tahun baru, lapangan memiliki perannya tersendiri sebagai pemersatu warga karena biasanya seluruh warga dari hulu sampai hilir berkumpul di lapangan untuk merayakan momen setahun sekali tersebut. Pada momentum inilah kedekatan semakin terasa dan semakin kuat. Semakin terasa ikatan gotong royong dan kebersamaan ketika pada saat-saat seperti ini. Tidak peduli usia, jenis kelamin, pendidikan, status ekonomi, pekerjaan, semua bisa berkumpul dalam satu momentum dan menikmati momentum ini dengan bersama-sama dan penuh suka cita.

Sayang, sekarang ini memang lapangan di sekitar perumahan warga sudah sulit ditemui terutama di pinggiran kota seperti sekarang. Entah karena kepentingan, karena ego atau karena kesepakatan yang telah dipilih oleh orang dewasa, mereka rela mengorbankan salah satu tempat yang menjadi saksi bagaimana kebersamaan dan gotong royong tersebut dibentuk. Sebuah tempat yang menjadi asal muasal bagaimana seorang anak bisa belajar adaptasi dengan lingkungan sekitar dan pelan-pelan mengenal potensi yang mereka miliki. Sebuah tempat yang bisa menjadi salah satu sarana untuk bertukar cerita, pendapat, pengalaman atau informasi yang diperlukan.

Memang salah satu tanda Negara yang ekonominya sedang berkembang adalah warganya mampu membeli barang mewah(CMIIW) atau memiliki mobil pribadi. Entah dengan langsung lunas atau dengan cicilan berapapun itu, kalau memang niat memiliki mobil harus siap juga menyiapkan lahan parkirnya dirumah, jangan selalu markir di depan rumah karena jalanan juga merupakan hak yang dimiliki oleh setiap orang yang lewat. Jangan beralasan tidak sempat bangun garasi karena uangnya kepakai buat cicilan mobil atau rumahnya sudah tidak muat untuk dibuat garasi. Nasihat yang gue ambil dari emak gue adalah, ketika lo bangun rumah nanti atau beli rumah nanti, selalu siapin tempat atau ruangan untuk garasi karena suatu saat lo ga akan sadar dan secara tiba-tiba lo diberikan kemudahan untuk bisa membeli mobil karena emak gue selalu nasihatin gue kalau namanya hidup itu harus selalu ada peningkatan baik secara materi ataupun non materi dan semuanya harus dipersiapkan sebelum saat itu tiba.

Sekali lagi bersyukurlah gue karena ketika gue kecil, gue belom mengenal game online yang berlebih atau kecanduan main ps karena waktu yang gue punya saat itu, gue gunain untuk main bersama temen-temen gue deket rumah ataupun temen gue yang berasal dari gang sebrang. Waktu gue lebih banyak gue habiskan untuk mengeluarkan keringet daripada mengeluarkan uang.

  • view 119