Si Micy ( Bunga Matahari Kuaci) - Part #1

Donnie DonneD
Karya Donnie DonneD Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 02 November 2016
Si Micy ( Bunga Matahari Kuaci) - Part #1

Mata selalu tertuju pada satu arah, mentari pagi yang ingin disambut layaknya kehangatan yang ia pancarkan. Fokus pada satu karunia Tuhan adalah hal terindah dalam hidup ini.

Aku adalah Bunga Matahari yang menanti mentari menampakkan diri diujung cakrawala. Terawat oleh seorang yang rajin dan pecinta tumbuhan. Tumbuh dengan banyak cerita darinya membuatku bertahan sampai saat ini. Bukan karena aku terawat dengan baik seperti tumbuhan lain di sekeliling, tapi rasa penasaran akan cerita-cerita majikanku yang setiap hari mencurahkan isi hatinya baik saat senang maupun saat sedih. Saksi bisu, tepatnya.

Entah kenapa selalu saja aku menanti saat ia curhat, lagi dan lagi. Berbagai kejutan cerita, mungkin itu yang membuatku rela menunggu. Terkadang aku merasa bangga dan sombong pada si Mawar atau si Jambu Air yang lebih lama tertanam di sudut rumah ini. Mereka kalah menarik untuk diajak ngobrol ketimbang aku, Bunga Matahari. Haha, imajinasiku selalu mengembara kemana-kemana setelah mendengarkan ceritanya, majikanku.

Aku adalah bunga Matahari yang setiap pagi selalu tertuju pada satu arah, sang pencerah dunia. Disirami setiap pagi untuk menyapanya dengan senyuman sumringah. Seperti majikanku hari ini, dibibirnya tersungging kebahagiaan yang teramat sangat. Aku tahu tanpa disuruh pun dia akan bercerita sebab keceriaan pagi ini.

“Kamu tahu, Micy. Tadi malam, ku mimpikan dia lagi. Kali ini aku duduk berdua menanti mentari pagi menyingsing. Saat itu juga ku beranikan diri menyatakan cinta padanya. Bersamaan sinar matahari menerpa pipinya, nampak sekali rona merah itu. Cantik sekali, Micy. Dan, ...”

Ceritanya selalu saja menggantung dan raut mukanya berubah drastis. Pasti kalian tahu maksudku. Semua perkataannya itu selalu membuatku penasaran. Untuk cerita tadi misalnya, entahlah. Dia tak melanjutkannya lagi, besok atau pun lusa, hanya dia yang tahu.

Aku bunga Matahari yang dinamai Micy. Entah nama yang kecowokan atau kecewekan, aku tak tahu. Micy. Yang jelas nama itu kekinian.

“Hey, Micy. Selamat pagi...!!!”

Suaranya kuyu layu, tak bersemangat. Kalian tahu kenapa? Aku tak tahu juga, apalagi kalian. Iya, kan?

Raut mukanya terselimuti mendung kesedihan, namun tak mau turun hujan. Seperti yang sudah-sudah. Tapi, aku selalu senang setiap hari dia mau menyapaku. Bukan menyapa si Jambu Air atau si Mawar ( kata orang yang terindah). Mereka hanya pelengkap taman rumah ini. Taman Micy.

  • view 198