Belajar Keberanian dari Wawan

Donie Hulalata
Karya Donie Hulalata Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Januari 2016
Belajar Keberanian dari Wawan

Sering kita mendengar kalimat persuasif yang berbunyi ?Think Out of The Box? di beberapa acara seminar motivasi. Jika ditelaah pesan yang terkandung dalam kalimat itu memang sangat menggugah hasrat kita untuk keluar dari zona nyaman. Karena berpikir di luar kotak bisa diartikan bahwa kita saat menjalani proses kehidupan yang penuh dengan masalah diharapkan dapat berpikir solutif dan kreatif. Bahkan terkadang langkah yang diambil merupakan pilihan yang menuntut kita berani mengambil risiko.

Risiko yang?nantinya dihadapi bisa saja menyangkut biaya, lingkungan, dan juga gesekan budaya. Ketika kita memutuskan untuk pergi merantau, dalam rangka keluar dari zona nyaman tadi, komponen biaya hidup di tempat perantauan akan berbeda dengan biaya hidup di tempat asal kita tinggal. Lingkungan di rumah juga tidak akan sama dengan lingkungan di tempat perantauan nanti. Belum lagi masalah budaya yang bisa saja sangat berbeda dari kebiasaan yang ada di lingkungan kita tempat tinggal sebelumnya.

Namun bagi seorang Kurniawan atau yang akrab dipanggil Wawan, ini merupakan pilihan hidup yang layak untuk dihadapi. Wawan adalah?seorang lelaki asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang aku kenal dari perjumpaan di Jakarta pada pertengahan bulan Oktober 2015 ini. Kami bertemu untuk tujuan yang sama yaitu menjemput rejeki dengan cara mengikuti tes seleksi menjadi pegawai BUMN.

Pada suatu kesempatan di rumah Allah yang berada di lokasi tempat tes tersebut, kami berbagi cerita mulai dari permasalahan seputar mahasiswa, kampus, dinamika politik di Indonesia, hingga Sosial Budaya. Maklum saja aku yang sejak 23 tahun lalu tinggal dan menetap di Pulau Jawa sementara Wawan yang sepanjang umurnya hidup di Pulau Sulawesi, mengalami bentukan karakter yang dipengaruhi budaya yang amat berbeda. Meskipun rasa syukur karena kita memiliki tujuan hidup yang sama sebagai seorang muslim, namun bentukan budaya ini rupanya menjadi hal menarik yang kemudian aku eksplorasi dari cerita si Wawan.

Wawan yang juga seorang kaka pertama dari dua adiknya ini memutuskan untuk pergi merantau, menjemput rejekinya sampai ke Jakarta. Alasan dia sangat kuat, ia ingin membuktikan bahwa setiap orang dapat mengubah kehidupannya jadi lebih baik meskipun harus pergi merantau jauh dari tempat asalnya. Hal ini ia ungkapkan karena menurutnya sebagian besar orang di Sulawesi Selatan masih memiliki pesimisme yang besar untuk melampaui kondisi hidup mereka sendiri.

Ia bercerita kalau orang-orang di Makassar selain masih membatasi dirinya dengan berbagai suku, mereka juga memandang bahwa orang-orang Jawa merupakan contoh ideal manusia sempurna dari sisi tujuan hidup dan simbol kesuksesan sosial. Orang-orang di Jawa dianggap yang paling pintar dan paling mandiri dalam hal menjalani kehidupan. Hal ini rupanya yang membentuk pemikiran bahwa mereka tidak akan bisa menandingi keunggulan orang-orang Jawa ini.

Mendengar penuturan itu dari Wawan, aku semakin tertarik mengulik apa yang ada di pikiran Wawan dan sebagian besar orang Makassar ini. Tanpa bermaksud untuk rasis, dari Wawan aku berusaha mengulik makna dari sikap pesimisme orang Makassar terhadap orang Jawa. Kemudian ia?menekankan bahwa sikap pesimisme itu ditanamkan sejak masih usia dini oleh orang tua mereka. Wawan menambahkan bahwa doktrin itu pun ia dapatkan juga dari keluarganya. Namun, ia juga tidak tahu pasti apa yang mendasari doktrin tersebut.

Penuturan Wawan selanjutnya rupanya diluar dugaanku. Bahwa ia menjelaskan kedatangannya ke Jakarta salah satunya sebagai upaya membantah pesimisme yang beredar di kota yang memiliki objek wisata Pantai Losari itu. Bahwa ternyata di dalam hati dan pikirannya ia tidak serta merta setuju dengan pemahaman bahwa orang Makassar dan orang Jawa berbeda dalam hal kemauan untuk menggapai suatu keinginan.

Dari bantahannya ini aku mengetahui bahwa Wawan adalah orang dengan pemikiran terbuka dan dirinya pun terbuka terhadap sesuatu yang baru. Ia mencotohkan dengan jelas, dorongan terbesar yang membutnya untuk membantah paradigma pesimisme itu, karena isu Masyrakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan segera terjadi. Ia memiliki pandangan bahwa jika era MEA sudah terjadi, Indonesia tidak lagi dipandang secara parsial seperti Jawa, Makassar, Sumatera, dll. saja. Namun di era MEA kita akan dilihat sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dari itu, Wawan harus menyamakan persepsinya dengan keadaan nyata sesungguhnya, bukan larut dalam paradigma pesimisme yang kental di Makassar itu.

Ia menjelaskan alasannya kepada keluarganya dan mendapat restu. Harapannya ia sudah memiliki pekerjaan sebelum era MEA datang. Kedua orang tuanya pun mendukung apa yang dipilih anak pertama mereka ini.?Maka bersambutlah niatannya itu dengan kesempatan untuk mengikuti tahapan seleksi karyawan BUMN ini di Jakarta.

Sesaat aku hanya berdecak kagum dengan penuturannya. Aku larut dalam rekaan di dalam pikiranku berdasarkan cerita yang ia tuturkan kepadaku. Di dalam pikiranku seolah sedang menyaksikan adegan-adegan dari cerita kesuksesan seseorang di perantauan. Bahkan aku sempat menyimulasikan judul cerita itu adalah ?Ayam Jantan dari Timur di Era Modern?. Karena aku benar-benar kagum akan?keinginan, kemauan dan semangatnya Wawan, kawan yang baru aku kenal ini.

Bagaimana tidak demikian. Aku menyadari usahaku untuk menjemput impian melalui pekerjaan ini belum seberapa besar dari yang Wawan lakukan. Mungkin saja aku bisa katakan bahwa visi kita untuk bekerja dalam rangka pengembangan diri, serta sedikit isu MEA ini memiliki kesamaan. Namun aku merasa malu dengan waktu, tenaga, dan biaya yang ia keluarkan untuk sampai di Jakarta.

Aku kemudian bersyukur atas apa yang Allah perlihatkan kepadaku dari si Wawan ini. Apa lagi aku belajar satu hal penting dari cerita Wawan ini; Berani mengambil keputusan. Ia secara tidak langsung membangunkanku dari kasur empuk di zona nyaman tempatku berada sebelumnya. Ia seolah-olah memberikan gambaran yang nyata kepadaku bagaimana tindakan ?Think out ofthe box? yang seharusnya dilakukan.

Pada akhirnya, kami menyudahi perbincangan inspiratif itu karena panggilan yang harus kami taati. Azan zhuhur saat itu seperti jalan Allah untuk melengkapi doa dan harapan yang kami lontarkan selama perbincangan tadi. Semoga Wawan diberikan keberkahan oleh Allah, begitu juga orang-orang yang melandasi hatinya dengan niatan yang ikhlas karena Allah. Amiiin (*)

---

Tulisan ini juga dimuat di Bukan Jurnal Sejarah.

  • view 163