Lembu Suro Menggugat

Unity Diversity
Karya Unity Diversity Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 Maret 2018
Lembu Suro Menggugat

Entah itu mitos atau historis di masa lalu, Lembu Suro sudah menjadi bagian dari “Legend Of Java”. Kalimat yang keluar dari mulut sosok Lembu Suro, “Oyoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku, Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung”, dengan terjemahan ,“Ya, orang Kediri besok bakal ketemu pembalasanku yang berlipat ganda yaitu Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi rata, Tulungagung akan jadi danau”.

 

Sumpah ini keluar karena sebab akibat, Lembu Suro merasa ada ketidakbenaran dari tindakan terhadap dirinya, yang mengakibatkan dirinya lenyap didalam perut bumi, dan sesuai mitos, lokasi itu saat ini berada di kawah Gunung Kelud. Dari catatan yang ada pada literasi lama, tidak disebutkan bahwa Lembu Suro tewas akibat ditimbun didalam perut bumi, hanya saja literasi tersebut menyebutkan, tempat yang dulu konon adalah sebuah lobang raksasa dan sangat dalam ini, sekarang berwujud kawah Gunung Kelud. Berbeda dengan catatan yang berstatus literasi baru, disitu disebutkan, bahwa Lembu Suro tewas akibat tertimbun bebatuan.

 

Dalam literasi lama, Lembu Suro terpaksa “mukso” atau lenyap dari kehidupan “real”, dan kemungkinan besar yang dimaksud ialah perpindahan dari dunia alam nyata. Raga atau bentuk fisik kemanusiaan seorang Lembu Suro memang sudah tidak eksis lagi dipermukaan bumi, tetapi bentuk non fisik dan tidak nyata dari Lembu Suro ,tetaplah hidup.

 

Perbedaan versi ini bisa dipahami sebagai pandangan dalam situasi atau kondisi tertentu menurut pemahaman berdasarkan jaman, apabila manusia ditimbun bebatuan didalam lobang raksasa dan dalam, pastilah ia akan tewas, ini merupakan pemahaman ilmiah berdasarkan keterbatasan manusia untuk bisa bertahan hidup. Berbeda dengan versi lainnya yang menyatakan Lembu Suro hanyalah “mukso”, karena pandangan tersebut menyatakan bahwa sosok Lembu Suro memiliki kemampuan lebih dibanding manusia normal atau pada umumnya, dan ia dapat bertahan hidup walaupun kondisi raga atau bentuk fisiknya tidak dapat lagi eksis. Ini hanyalah 2 argumen berdasarkan pemahaman yang semuanya dapat dibenarkan dan tidak ada yang dapat disalahkan satu sama lain, karena kedua argumen ini punya dasar yang sama-sama punya pondasi kuat untuk dijabarkan. Ruang supranatural tetap diberikan tempat dalam mitos atau historis dari sosok Lembu Suro, walaupun ada 2 versi yang berbeda.

 

Kembali pada sumpah yang dicetuskan Lembu Suro, sumpah ini kalau dibaca sepintas tidak ada yang aneh, tetapi kalau dipahami betul-betul, ada sesuatu yang mungkin kurang tepat. Lembu Suro menyalahkan orang yang telah mencelakainya dan membuat dirinya keluar atau berpindah dari dunia nyata, karena sumpah itu ditujukan lebih besar jangkauannya, ketimbang hanya segelintir orang yang melakukannya berbanding skala jumlah orang Kediri, Tulungagung dan Blitar secara keseluruhan. Yang melakukan kesalahan terhadap Lembu Suro bukanlah semua orang Kediri, Tulungagung dan Blitar, tetapi sebagian kecil.

 

Memang, apa yang diperbuat segelintir orang ini, hanya tertuju pada 1 orang, yaitu Lembu Suro, tetapi dampaknya, Lembu Suro menyatakan secara absolut dan mutlak ,bahwa semua orang Kediri, Tulungagung dan Blitar bersalah terhadap dirinya. Berdasarkan teori matematika, jelas ini tidak seimbang, antara angka 10 (asumsi) dibanding angka 1.000 (asumsi), karena jelas sekali, kalau angka 10 dikurangi angka 1.000 hasilnya minus 990 (asumsi), ini hitungan rugi atau jauh melampaui batas angka yang mendapat pengurangan. Ada kerugian 990 dari hitungan matematika tersebut.

 

Di jaman sekarang, kejadian matematika tersebut kerap terjadi juga, dimana kesalahan yang dibuat segelintir orang berakibat fatal bagi lebih banyak orang. Semisal, konflik yang melibatkan 2 kubu yang berbeda pandangan, anggaplah kubu A yang jumlahnya 10 orang berseteru dengan kubu B yang cuma 1 orang. Pihak kubu B ,dalam hal ini dipersepsikan sebagai korban dari konflik dengan kubu A, tidak terima atas kejadian tersebut dan berniat membalas dendam. Ujung-ujungnya, kubu B yang semula hanya 1 orang saja, mengumpulkan massa yang sependapat ,dan akhirnya kubu B yang berjumlah 1000 orang mendatangi seluruh warga kubu A yang lokasinya tidak jauh dari mayoritas pendukung kubu B. Terjadilah konflik dan membawa korban. Sebagian besar pendukung kubu A yang berstatus korban dari kubu B, tidak tahu apa-apa dari kejadian atau peristiwa sebelumnya yang melibatkan perseteruan kedua kubu. Jumlah kubu A yang menjadi korban sejumlah 100 orang, sedangkan yang bersetru dengan kubu B secara langsung hanyalah 10 orang.

 

Ini yang dinamakan “Black Revenge”, dimana balas dendam membawa korban jauh lebih besar dari titik awal mula konflik. Konflik terjadi karena adanya ketidakpuasan dari salah satu kubu ,dan akhirnya menjadi penderitaan bagi salah satu kubu yang sebenarnya lebih besar dari segi angka korban.

 

Balas dendam dan apapun istilahnya, kurang tepat dalam tatanan keberagaman. Karena bagaimanapun juga, sedikit banyak yang namanya balas dendam, pasti ada pihak yang dirugikan, entah itu fisik atau non fisik maupun materiil maupun non materiil. Dalam kehidupan yang beragam, berbeda pandangan adalah hal yang lumrah dan wajar, karena mustahil dari ribuan orang yang hidup dalam 1 lingkungan bisa sependapat satu sama lain, pastilah perbedaan itu ada.

 

Memang, bila mengacu pada kisah Lembu Suro ditimbun dengan bebatuan di dalam lobang raksasa yang dalam, kesalahan terletak pada Putri Dyah Ayu Puspasari Cs yang berupaya keras menggagalkan keberhasilan Lembu Suro saat menyelesaikan “PR”nya. Tetapi perlu diingat, yang membuat kesalahan tersebut adalah Putri Dyah Ayu Puspasari Cs bukan orang lain diluar ruang lingkupnya. Jadi tepatnya, walaupun dari sisi agama manapun, balas dendam itu tidak dibenarkan, setidaknya Lembu Suro membalaskan dendamnya kepada Putri Dyah Puspasari Cs, bukan malah orang lain yang tidak tahu apa-apa, apalagi dendam sosok Lembu Suro ini ditujukan bagi orang-orang yang jauh dari jaman dimana ia hidup. Inilah “sumpah untuk masa depan”, dimana masa atau jaman Lembu Suro hidup, justru tidak mendapat “efek” apapun, melainkan orang-orang dimasa depan atau jauh berbeda jamannya. 

 

Suatu kesalahan yang ditimpakan pada keturunannya, sangatlah tidak elegan, karena bagaimanapun juga, keturunannya tersebut tidak tahu apa-apa perihal peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Bila dibuat logika, keturunan dari Putri Dyah Ayu Puspasari Cs juga tidaklah sebanding jumlahnya dengan keturunan dari orang-orang yang hidup dimasa atau jaman yang sama. Logika inilah yang menjadi titik kritik terhadap sumpah dari Lembu Suro, karena perbandingan jumlahnya saja sudah tidak sepadan, karena sudah jelas lebih banyak keturunan “non” Putri Dyah Ayu Puspasari Cs, entah itu 1 banding 100 atau 1 banding 1000 dan seterusnya. Tetapi kenapa sumpah itu ditujukan dengan skala yang lebih luas, dalam arti, entah itu keturunan Dyah Ayu Puspasari Cs atau bukan. Inilah kritik yang jelas argumennya, karena berdasarkan pemahaman secara logika.

 

Putri Dyah Ayu Puspasari yang berstatus putri Prabu Airlangga dikisahkan sosok yang “super cantik” dan banyak yang tertarik untuk menikahinya. Entah itu fakta atau sekedar dibesar-besarkan, tetapi dalam literasi lama, tidak dijelaskan, apakah memang Putri Dyah Ayu Puspasari benar-benar super cantik atau ada suatu kepentingan politik untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaan. Tetapi yang jelas, Prabu Airlangga membuat suatu sayembara yang sangat istimewa, yaitu hadiah special bagi siapa saja yang berhasil memenangkan sayembara, bakal mendapatkan Putri Dyah Ayu Puspasari, dan tentunya sebagai permaisuri tidak sekedar istri, karena pada waktu itu, seorang raja bisa lebih dari 1 istri.

 

Menatap dimasa depan, andai saja Putri Dyah Ayu Puspasari bersedia menjadi Ratu di Kerajaan Kahuripan menggantikan Prabu Airlangga, kemungkinan 99,99% sejarah tidak akan mengenal kerajaan Jenggala dan Dhaha, ini fakta, dari kesinambungan antara statusnya dengan undang-undang dasar Kerajaan Kahuripan yang mengatur sistem pemerintahan di masa itu. Tetapi takdir berubah drastis, kala Putri Dyah Ayu Puspasari memproklamasikan dirinya sebagai pertapa di Goa Selomangleng yang selanjutnya orang menyebutnya sebagai “Dewi Kilisuci”. Dugaan ditolaknya mentah-mentah tahta Kerajaan Kahuripan oleh Putri Dyah Ayu Puspasari, akibat “Tragedi Pengkhianatan” yang sudah dilakukannya terhadap Lembu Suro.

 

Pembelahan Kerajaan Kahuripan tidak saja merubah peta kekuasaan secara geografis, tapi juga “Poleksosbudhankamnas”. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada berada di naungan “Negara Kesatuan Kerajaan Kahuripan”, terpecah menjadi 2 kerajaan. Kerajaan-kerajaan pecahan Kerajaan Kahuripan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kerajaan Jenggala, di sebelah utara ,sangat kuat di sektor ekonomi karena “Pusat Perdagangan Lintas Sungai” yang terletak di Sungai Porong (sekarang Sidoarjo) termasuk dalam wilayahnya. Sedangkan Kerajaan Dhaha yang terletak di Kediri, sangat kuat di sektor pertanian dan perkebunan ini, selain itu di sektor Yudhagama atau “Kemiliteran” juga sangat solid dan sangat disegani, baik kawan maupun lawan. Terpecahnya Kerajaan Kahuripan ini ,ternyata sangat berdampak buruk, akibatnya, kedua kerajaan ini pada akhirnya perang saudara, sekaligus menandai bubarnya Kerajaan Jenggala dan Dhaha.

 

Terlepas benar tidaknya sumpah Lembu Suro bahwa daerah Kediri, Tulungagung dan Blitar bakal luluh lantak dihajar Gunung Kelud, kita jelajahi waktu seiring riwayat keganasan gunung yang terletak diperbatasan Kediri, Blitar dan Malang ini. Dari catatan sejarah yang pernah ditorehkan gunung ini, pada tahun 1586, sekitar puluhan ribu orang tewas akibat keganasannya dan di masa itu, Kerajaan Majapahit sudah redup ,tak lagi menunjukkan taringnya. Diduga, kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kejadian luar biasa yang lain, bukan akibat dampak langsung dari keganasan Gunung Kelud, melainkan diperkirakan akibat bencana kelaparan. Muntahnya air kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, diduga berdampak rusaknya tanaman disekitarnya dan minimnya cadangan pangan yang sanggup mencukupi kebutuhan masyarakat pada masa itu. Disamping bangunnya Gunung Kelud dari tidurnya, letusan tersebut menandai masa purnabhakti Kerajaan Majapahit dengan beragam konflik yang mengiringinya.

 

Apapun hasil dugaan berdasarkan penelitian, eksistensi kawah berupa danau di Gunung Kelud ini, sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusannya. Berdasarkan sumber yang kredibel, diperkirakan lontaran air dari danau Gunung Kelud ini, bisa mencapai radius sekitar 30an lebih kilometer. Air panas bercampur magma ini, dipadukan dengan ratusan juta ton material padat bakal terlontar, apabila Gunung Kelud mengamuk.

 

Adapun catatan sejarah yang berhasil digali para sejarahwan, Kerajaan Majapahit dinyatakan bubar pada tahun 1478, tetapi ada catatan lain yang menyatakan kemungkinan pada masa itu ada 2 versi Majapahit, yang pertama Kerajaan Majapahit di era keemasan dengan segala kesuksesannya ,dan yang kedua hanyalah sisa-sisa pengaruhnya di wilayah yang dulunya merupakan kekuasannya. 2 versi ini masih diperdebatkan, karena bukti otentik yang menjelaskan secara pasti masih menjadi misteri.

 

Di abad 20 atau tepatnya di tahun 1919 dalam catatan sejarah Pemerintahan Hindia Belanda, yang dimana jaman tersebut sudah jauh berbeda dari masa purnabhakti Kerajaan Majapahit, sekitar 5.000an orang lebih tewas akibat dampak langsung dari meletusnya Gunung Kelud ,dan sejak itu juga muncul ide untuk melakukan pembangunan terowongan di lereng Gunung Kelud yang berkettinggian sekitar 1.700an meter tersebut. Terowongan-terowongan dibangun dalam upaya mengurangi volume air di kawah Gunung Kelud, serta mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih. Terowongan pengalir air dari kawah berhasil dituntaskan di tahun 1926 dan masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia di masa itu, kembali lagi membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera dan fungsinya menjaga volume air kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.

 

Jauh di tahun 1919 atau sekitar 1.000 tahun sebelumnya, kehadiran Sungai Sarinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M, dan disitu diceritakan tentang pembangunan bendungan serta sungai buatan yang dimulai pertama kali pada 804 M.

 

Riwayat lain juga tercatat, sebagaimana terjadi di tahun 1990 atau tepatnya pada 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990, dan kali ini Gunung Kelud memuntahkan 50 jutaan meter kubik material vulkanik. Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik dan proses normalisasi baru selesai pada tahun 1994. Pada tahun 2007 Gunung Kelud kembali berulah tetapi hanya berupa letusan bertipe freatik bukan eksplosif sebagaimana letusan-letusan sebelumnya. Selain itu, letusan ini menghasilkan suatu lava berbentuk kubah yang menyebabkan hilangnya danau kawah. Di tahun 2014, kembali Gunung Kelud mengamuk dan menunjukkan aktiftasnya dengan menebar debu vulkanik hingga ratusan kilometer.

 

Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Kalaupun sumpah Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dicermati adanya simbol-simbol dalam sejarah lisan sebagai kode mitigasi bencana. “Belive It Or Not”, di masa sekarang atau tepatnya diabad millennium ini, tercatat 11 sungai yang eksis di Kediri, di Tulungagung ada Bendungan Wonorejo, dan di Blitar sebagian besar merupakan kawasan tanah datar diantara bendungan di Tulungagung dan sungai di Kediri. Bila dikoneksikan dengan sesumbar Lembu Suro “Ya, orang Kediri besok bakal ketemu pembalasanku yang berlipat ganda yaitu Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi rata, Tulungagung akan jadi danau”, nampaknya ada benarnya juga dari pandangan geografis jaman sekarang.

 

Mengacu pada literasi  lain yang menyatakan bahwa Dyah Ayu Puspasari adalah sosok yang cantiknya luar biasa, lalu kita bandingkan dengan situasi dan kondisi saat ini pada umumnya, apabila ada seorang wanita yang cantik, sangat mudah tentunya memilih pasangan. Karena kodrat kecantikannya, akan memiliki daya magnet yang luar biasa terhadap laki-laki manapun yang melihatnya. Jadi, bila itu terjadi “jaman now”, tanpa sayembarapun, laki-laki pasti akan tertarik untuk melamarnya untuk dijadikan pasangan hidup semati dalam tatanan kehidupan berumah tangga.

 

Tetapi, apa yang terjadi dalam riwayat Dyah Ayu Puspasari, tidak terjadi jaman sekarang, tetapi di jaman dulu, yang jaraknya ratusan tahun dari jaman sekarang. Persoalannya, kondisi jaman sekarang dengan jaman dulu, jelas jauh berbeda, untuk itulah kemungkinan-kemungkinan lain yang mengarah terciptanya suatu sayembara tersebut, hanya bersifat dugaan atau perkiraan, dan tentunya yang namanya dugaan atau perkiraan belum dapat dipastikan kebenarannya.

 

Mengkritisi sayembara berhadiah manusia, walaupun pada hakekatnya Dyah Ayu Puspasari adalah seorang putri raja dan itu merupakan hak preogratif dari sosok Prabu Airlangga, dari kacamata jaman sekarang kuranglah tepat. Apapun model sayembara itu, manusia tidak sepatutnya menjadi bonus atau hadiah, apapun alasannya, manusia tidak boleh dijadikan objek suatu hadiah atau bonus. Karena sayembara berhadiah manusia, sangatlah bertentangan dengan unsur kemanusiaan. Mungkin, pada masa itu atau jaman dulu, hal tersebut sangat wajar, tetapi pola pikir manusia terus berkembang seiring dengan pemahaman arti kemanusiaan itu sendiri dalam menghargai konsep kehidupan. Secara global, konsep kehidupan ada manusia, ada binatang, ada tumbuhan dan ada alam, semua saling berkaitan dan tidak bisa saling lepas. Manusia butuh binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, sedangkan alam untuk menyangga kehidupannya selama ia berada di dunia. Sama halnya binatang dan tumbuhan, juga membutuhkan alam untuk menopang kehidupannya. Dalam rangking konsep kehidupan, manusia berada di posisi teratas diatas binatang dan tumbuhan, inilah dasar unsur kemanusiaan itu, bahwa manusia harus dihargai dan dihormati kehidupannya.

 

Merujuk dari koneksi antara sayembara dengan kedudukan Prabu Airlangga, sangat mustahil bilamana Dyah Ayu Puspasari menjadi wanita biasa yang tidak memiliki kedudukan strategis, apabila berhasil dipersunting siapapun yang menjadi pemenang sayembara tersebut. Bagi Prabu Airlangga, sudah pasti tidak mungkin semudah itu melepaskan putrinya untuk dinikahi tanpa alasan yang pasti, dalam artian, hanya sekedar menjadi istri orang lain. Salah satu pilihan yang mutlak dan absolut ialah Dyah Ayu Puspasari harus menjadi seorang permaisuri, bagaimanapun juga ia adalah sosok keturunan raja yang berkuasa di masa itu.

 

Kedudukan strategis lintas kerajaan pada jaman itu, sangat dibutuhkan untuk memperluas kekuasaan suatu kerajaan, yaitu lewat suatu ikatan, salah satunya adalah pernikahan lintas kerajaan. Anggap saja suatu kerajaan A melakukan hubungan lebih erat lagi dengan kerajaan B ,melalui pernikahan putra atau putri mereka, secara otomatis kedua kerajaan memiliki hubungan lebih dekat dan jauh lebih dekat ketimbang hanya sekedar hubungan diplomatik saja. Perang pada jaman itu adalah solusi bagi pencapaian suatu kerajaan memperluas kekuasaannya, tetapi perang bukan solusi utama, masih ada solusi lain yang tidak menimbulkan pertumpahan darah di kedua belah pihak, yaitu pernikahan. Inilah yang diharapkan kerajaan-kerajaan di masa itu dan tetap eksis. Ancaman dari kerajaan lain sudah pasti ada, tetapi kerajaan yang memiliki luas wilayah yang lebih besar, tentunya memiliki prajurit yang juga lebih besar, ini hitung-hitungan logika dimasa itu.

 

Dengan asumsi kerajaan A yang memiliki luas 300 km persegi ditambah kerajaan B yang memiliki luas 500 km persegi, secara otomatis, kedua kerajaan bila disatukan memiliki luas 800 km persegi (asumsi). Demikian jumlah prajuritnya, bila kerajaan A memilki jumlah penduduk 30.000 jiwa (asumsi) dan 10%nya adalah prajurit, maka jumlah prajuritnya ada 3.000 orang (asumsi), sedangkan kerajaan B memiliki jumlah penduduk 50.000 jiwa (asumsi) dan 10%nya adalah prajurit, maka jumlah prajuritnya ada 5.000 orang (asumsi), bila kedua prajurit kerajaan A dan B ditambahkan, maka jumlahnya mencapai 8.000 orang (asumsi). Jumlah yang sangat besar pada jaman itu. Bagi kerajaan-kerajaan disekitarnya, tentu akan berpikir jauh, untuk menyerang atau berperang dengan salah satu kerajaan tersebut. Anggaplah kerajaan C yang memiliki prajurit sebanyak 2.000 orang (asumsi), tentu akan berpikir 2 kali untuk menyerang kerajaan A atau B yang bilamana digabungkan prajuritnya mencapai 8.000 orang. Inilah salah satu dampak positif dari pernikahan kedua kerajaan, sekaligus menghilangkan jatuhnya korban jiwa apabila melebarkan kekuasaan dengan jalur perang.

 

Kedudukan sebagai permaisuri sangatlah strategis di masa itu, karena umumnya, seorang permaisuri juga bisa mengontrol atau mengendalikan suatu kerajaan, meskipun masih ada orang-orang kepercayaan atau bawahan seorang raja. Andaikata suatu ketika raja wafat dan permaisuri masih hidup, maka permaisurilah yang mengontrol atau mengendalikan secara keseluruhan suatu kerajaan, tetapi dengan catatan, tidak ada satupun putra dari raja yang memenuhi persyaratan dan ketentuan. Pada jaman dulu, persyaratan dan ketentuan tidaklah rumit, putra dari raja yang wafat tersebut sudah layak atau tidak untuk diangkat menjadi raja, dilihat dari faktor kelayakan usia. Apalagi dimasa itu, tidak ada pasal atau ayat maupun undang-undang berdasarkan mengingat, menimbang, memutuskan dan menetapkan, yang mengikat mengenai posisi pengganti seorang raja, melainkan kearifan internal kerajaan.

 

Kembali pada sayembara yang dicetuskan Prabu Airlangga. Sayembara ini sebenarnya cukup simple bila terdengar ditelinga orang jaman sekarang, tetapi untuk jaman dimana Prabu Airlangga hidup, tentu tidak sama. Prabu Airlangga mengumumkan sayembara “Barangsiapa yang mampu menarik busur Kyai Garuda Reksa dan mengangkat gong Kyai Sekadelima, dialah yang berhak menjadi calon menantunya, sekaligus menjadi suami dari Dyah Ayu Puspasari.”

 

Busur Kyai Garuda Reksa dan gong Kyai Sekadelima, bukanlah benda biasa, tetapi benda ini memiliki sesuatu yang diluar logika, nalar dan akal sehat, yang jelas benda ini berbeda dengan benda-benda sejenisnya. Tidak sembarangan orang bisa melakukannya, untuk itulah Prabu Airlangga membuat sayembara dengan prasyarat dan ketentuan menarik busur Kyai Garuda Reksa dan mengangkat gong Kyai Sekadelima. Andaikata hanya benda biasa pada umumnya, tentu sayembara itu tidaklah istimewa, apalagi ada hadiah utamanya putri dari Prabu Airlangga. Sangat beralasan bila orang jaman sekarang menganggap remeh dengan sayembara model seperti ini, karena pemikirannya jelas berbeda dengan pemikiran orang-orang jaman tersebut. Dalam berbagai literasi, konon busur Kyai Garuda Reksa dan gong Kyai Sekadelima, mau bekerjasama dengan orang yang menggunakannya, dengan catatan memiliki tingkat supranatural atau kesaktian level tinggi, jadi kalau sekedar pemula atau asal-asalan, tentu tidak mungkin bisa menggunakannya.

 

Bila sayembara tersebut diadakan di era millennium saat ini, tentu banyak yang beranggapan, sayembara ini kurang berbobot, karena sepintas sangat mudah menurut pandangan orang jaman sekarang. Pandangan yang berbeda antara orang yang hidup dijaman dulu dengan jaman sekarang, semua ada dasarnya, salah satunya perbedaan pola pikir. Perbedaan tersebut tidak lepas dari perubahan jaman yang terus menerus berubah serta berkembang pesat, dan perbedaan itu semua berada pada titik yang sempurna, karena sesuai dengan masanya masing-masing.

 

Sama halnya dengan orang jaman sekarang, menggunakan computer PC atau computer laptop semudah membalik telapak tangan, bahkan anak strata SDpun bisa menggunakannya, hal ini bisa dimaklumi karena dari masa ke masa, tingkat intelektual terus berkembang. Tetapi kemungkinan tidak untuk orang-orang di jaman dulu, melihat computer PC atau computer laptop saja sudah bingung apalagi menggunakannya.

 

Sebaliknya, orang jaman dulu membuat candi adalah hal yang biasa menurut mereka, tetapi tidak menurut orang jaman sekarang. Bagaimana mungkin orang bisa menyusun ratusan bahkan ribuan batu dengan ukuran berbeda-beda dan besar bisa membentuk suatu bangunan yang megah. Adakalanya ada sepintas pemikiran terkagum-kagum atas hasil maha karya orang-orang jaman dulu. Di masa pembuatan candi-candi, tidak ada namanya mesin bor, tidak ada namanya traktor, tidak namanya excavator, adanya hanya peralatan tradisional yang umum pada masa itu. Sangat sulit dan “super berat” apabila di jaman sekarang, orang membuat candi dengan peralatan tradisional. Jangankan membuat candi, untuk memindahkan atau meletakkan batu yang berukuran besar dengan hanya menggunakan peralatan tradisional, tidak terbayangkan dalam pikiran, harus bagaimana melakukannya. Belum lagi bagaimana caranya membuat ukir-ukiran dari bebatuan yang bertumpuk rapi dengan berbagai variasi bentuk, hanya permodalan peralatan tradisional.

 

Sosok Lembu Suro, masih misteri, siapa dia sebenarnya dan dari mana asalnya. Tidak ada literasi yang menjelaskan disertai bukti perihal bidodatanya. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena peristiwa itu terjadi di masa lalu, yang notabene belum ada pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk), KK (Kartu keluarga) dan Akte Kelahiran, selain itu Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil juga belum ada.

 

Permusuhan abadi antara Lembu Suro dengan Putri Dyah Ayu Puspasari Cs, sangat erat kaitannya dengan suatu “request” yang “super berat” bila dilakoni orang-orang masa kini, yaitu membuat sumur raksasa dipuncak tertinggi di wilayah kekuasaan Prabu Brawijaya, dan konon tempat itulah yang kini dinamai Gunung Kelud. Perlu diingat, request ini terjadi di jaman yang ratusan tahun jaraknya dengan jaman sekarang, dijaman itu tidak ada yang namanya mesin berteknologi canggih, yang ada hanya peralatan tradisional. Apalagi bila mengacu pada literasi, Lembu Suro sama sekali tidak menggunakan pacul atau cangkul maupun sekop, tetapi menggunakan kedua tangannya.   

 

Request ini sangat unik dan menarik, bila dicerna secara logika, nalar dan akal sehat. Pembuatan sumur diatas bukit menurut versi literasi lama, sangatlah percuma dan sia-sia manfaatnya, karena di masa itu ,kawasan perbukitan jarang dihuni penduduk dan mayoritas hanya didiami para pertapa yang ingin menjauh dari dunia keramaian. Bukit sendiri sangatlah erat kaitannya dengan hutan dan keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Yang namanya hutan, apalagi dimasa lalu, jauh dari sentuhan manusia, serta dipenuhi binatang buas dan populasinya di masa itu jauh lebih banyak dibanding masa sekarang. Ular berukuran raksasa dan harimau yang masih begitu banyak berkeliaran, menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang ingin bermukim di perbukitan. Hutan adalah habitat utama dari segala jenis binatang buas dan ditempat ini juga rantai makanan tak pernah putus ditengah jalan. Binatang-binatang tersebut mustahil turun atau keluar dari hutan, kalaupun ada yang turun atau keluar dari hutan, itupun karena tersesat. Binatang-binatang yang sudah nyaman tinggal dihutan, enggan untuk meninggakan hutan, karena segala kebutuhan mereka ,sudah terpenuhi di hutan tersebut.

 

Dari kacamata umum, menggunakan pacul atau cangkul maupun sekop untuk menggali lobang, jauh lebih cepat ketimbang menggunakan kedua tangan. Pada umumnya, tanah yang digali semakin dalam akan semakin keras dan perlu energy lebih untuk bisa menghasilkan lobang yang dalam.

 

Kalau kita setarakan kekuatan Lembu Suro dibanding 10 unit excavator, dapat disimpulkan, bahwa kekuatan Lembu Suro mungkin bisa disamakan setara dengan 100 unit excavator ,atau bahkan bisa sampai 1.000 unit excavator. Perlu diketahui, Lembu Suro menggali lobang yang sangat dalam hingga membentuk kawah, hanya dalam tempo 1 hari dan menurut versi lainnya hanya dilakukan semalam saja. Yang jelas, Lembu Suro memiliki kekuatan super diatas kemampuan manusia rata-rata, karena kemampuannya sangat luar biasa dibanding mesin-mesin excavator sekalipun.

 

Gunung Kelud masih menyimpan misteri lain, selain kasus percintaan sekaligus pengkhianatan antara Lembu Suro dengan Putri Dyah Ayu Puspasari, yaitu “Keris Mpu Gandring”. Konon, entah itu benar atau tidak, dikarenakan bukti otentiknya belum ditemui, Keris Mpu Gandring yang memiliki aura supranatural yang luar biasa dan telah memakan korban 7 turunan, dikabarkan juga ditanam atau dilempar dikawah Gunung Kelud. Keris Mpu Gandring tidak hanya membunuh 7 turunan, bahkan si pembuatnya, juga terbunuh oleh keris yang dianggap “super magic”, karena melewati hingga beberapa generasi.

 

Tidak hanya Mpu Gandring yang menjadi korban keganasan keris tersebut, Ken Arok, Kebo Ijo dan Anusapati juga telah terdaftar sebagai korban keris pembunuh 7 turunan ini. Atas saran Mahesa Suro, Raja Hayam Wuruk yang memerintah Kerajaan Majapahit kala itu, memerintahkan untuk membuang keris tersebut dikawah Gunung Kelud dan pada akhirnya ,Mahesa Suro sendiri yang melaksanakan titah sang raja.

 

Berdasarkan surat perintah Raja Hayam Wuruk dan surat ketetapan para mahapatih Kerajaan Majapahit, Mahesa Suro menempuh jarak puluhan kilometer dengan jalan kaki, karena Keris Mpu Gandring tidak diperbolehkan dibawa dengan menaiki kuda. Kalaupun toh ada taxi, bus, gojek atau kendaraan travel sekalipun, tetap saja harus dilakukan dengan jalan kaki.

 

Tergila-gilanya Lembu Suro kepada Dyah Ayu Puspasari adalah awal dari percintaan berubah menjadi permusuhan abadi. Keinginan yang sangat agresif dari Lembu Suro ,menjadikan logika, nalar dan akal sehatnya sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya. Buat apa membuat sumur dipuncak bukit. Kalau ditilik dari fungsinya, pada umumnya sumur digunakan untuk menampung air yang bisa dimanfaatkan dalam kebutuhan sehari-hari. Tetapi, request dari Dyah Ayu Puspasari tidak seperti itu ,dalam artian fungsi sumur kelak apabila sudah rampung dikerjakan, nantinya akan digunakan mandi mereka berdua, bila secara sah dan resmi sudah dinyatakan sebagai pasangan suami istri berdasarkan tradisi masa itu. Sumur raksasa dengan kedalaman melebihi batas kewajaran, seharusnya ada dalam pikiran jernih ,untuk apa harus dibuat, walaupun alasannya cukup sederhana, yaitu untuk mandi. Ukuran sumur yang abnormal seperti ini, sudah sewajarnya sebagai manusia pada umumnya, mencurigai maksud dan tujuan yang sebenarnya. Karena ditinjau dari ukuran yang luar biasa besar dan dalam, sangat mustahil, hanya sekedar untuk mandi. Kecurigaan dengan berbagai alas an tertentu, sudah menjadi dasar bagi manusia saat berinteraksi dengan manusia disekitarnya, dan tentunya kecurigaan itu ada batasnya, tidak lantas semua langsung ketok palu dicurigai, karena yang namanya kecurigaan identik dengan sesuatu yang negatif.

 

Suatu misal, ada “order” dari seseorang untuk pengembangan lahan tepat ditengah hutan dan lokasinya sangat jauh dari pemukiman penduduk. Selain itu, permasalahan utama akses menuju lokasi melalui jalur transportasi darat juga sangat minim dan hanya bisa ditembus dengan jalan kaki. Pemikiran kita pasti terlintas ada 2 hal yang membuat ada kecurigaan dibalik order tersebut, yaitu jauhnya lokasi lahan yang akan dikembangkan dengan pemukiman penduduk dan akses jalan yang tidak bisa dilalui jenis kendaraan apapun. Dalam dunia bisnis jenis apapun, masalah transportasi darat adalah paling pokok, karena dengan adanya akses yang mudah dan sangat relatif efisien waktu, secara otomatis hasil dari pengembangan lahan tersebut dapat dijual dengan mudah, ini hitung-hitungan matematika yang paling simple. Demikian juga kebutuhan akan tenaga kerja yang murah dan mudah direkrut, yaitu penduduk setempat untuk dipekerjakan di lahan yang sudah dikembangkan tersebut. Tetapi, order tersebut bertolakbelakang dari pemikiran tersebut, karena lokasi lahan dengan pemukiman penduduk sangatlah jauh.

 

Inilah indikasi dari kecurigaan bahwa order ini ada sesuatu yang tidak beres, karena sudah melawan hukum matematika yang paling praktis dan mudah dipahami. Bisa jadi tanaman yang akan dikembangkan diatas lahan tersebut sangatlah bersifat rahasia dan sensitif untuk diketahui publik. Dari sisi ekonomis, masalah transportasi sebagai sarana pengangkut hasil bumi diabaikan dalam order ini, demikian juga masalah tenaga kerja. Kecurigaan atas order ini sangatlah wajar, bukan sekedar tuduhan tanpa alasan, melainkan ada dasar yang menguatkannya. Jadi sangat beralasan kalau kita tidak meneken kontrak atas order tersebut, karena ada banyak dugaan yang berdasar kalau lahan tersebut dikembangkan secara tidak wajar, dalam artian tanaman yang ada dilahan tersebut.

 

Dibalik request yang terlihat sangat tidak masuk akal ini, nampaknya sangat diabaikan oleh Lembu Suro, buktinya ia tetap menerima request itu sebagai tantangan untuk berhasil menikahi Dyah Ayu Puspasari. Lain Lembu Suro lain juga Dyah Ayu Puspasari, karena request ini mengacu pada ketidaksukaannya terhadap Lembu Suro. Request yang tidak masuk akal ini dibuat memang bertujuan negatif dan ada niat mencelakai Lembu Suro. Tapi apa daya, Lembu Suro sudah kepincut dan sudah sumpah mati akan tetap menerima proyek pembuatan sumur raksasa diatas bukit.

 

Request ini sebenarnya tidak akan terjadi apabila sayembara yang sebelumnya diberlakukan, dinyatakan sah oleh pihak kerajaan ,dalam hal ini Prabu Airlangga selaku pencetus sayembara. Tetapi karena ketidakpuasan akan hasil pemenangnya, ada salah satu request lagi untuk dilakoni si pemenang agar benar-benar sah. Walaupun dalam dunia nyata, dalam penyelenggaraan kegiatan yang berhadiah spektakuler sekalipun, kalau sudah ada yang dinyatakan ada pemenangnya, maka selesai sudah acara tersebut. Tetapi ini berbeda, karena ada ketidakpuasan sepihak dari Dyah Ayu Puspasari, maka perlu lagi ada tambahan prasyarat dan ketentuan bagi pemenang.

 

Dyah Ayu Puspasari merequest pembuatan sumur raksasa diatas bukit yang masih berada di wilayah kekuasaan kerajaannya, dan apabila sumur tersebut bisa diselesaikan dalam sehari saja, maka secara sah tanpa menunggu hasil voting, Lembu Suro dinyatakan resmi sebagai suaminya. Lembu Suro langsung menyetujui request tersebut tanpa harus berpikir panjang dan ia langsung berangkat menuju bukit yang dimaksud.

 

Sebenarnya, request ini sendiri adalah Planning A dari Dyah Ayu Puspasari, karena dilihat dari pengetahuan umum, membuat sumur raksasa dalam tempo 1 hari sangatlah mustahil dilakukan, apalagi lokasinya diatas puncak bukit, ditambah pada waktu itu belum ada alat berat sejenis excavator. Bukan itu saja, konon Lembu Suro berangkat menuju lokasi yang dimaksud, tanpa terlebih dahulu pergi membeli pacul atau cangkul maupun sekop yang berkualitas dan berkuantitas untuk membantunya menyelesaikan request tersebut, tetapi hanya dengan tangan kosong alias tanpa peralatan.

 

Disisi lain, Planning B juga disiapkan, tentunya untuk yang satu ini sangat mustahil kalau Prabu Airlangga tidak terlibat didalamnya, karena rencana yang satu ini mengerahkan ribuan prajuritnya untuk pergi kepuncak bukit. Kendali dan kontrol pengerahan pasukan tidak semudah itu, haruslah atas persetujuan raja, bahkan mahapatih yang berstatus senior diantara patih-patih lainnya, juga tidak dapat seenaknya mengerahkan pasukan, apalagi jumlahnya mencapai ribuan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan atau mengontrol suatu kerajaan selain raja adalah permaisuri, itupun kalau rajanya sudah dinyatakan wafat. Sedangkan putra putri raja sekalipun, sama sekali tidak memiliki kewenangan apapun dalam pembinaan keprajuritan maupun perekrutannya, apalagi sampai pengerahan prajurit yang jumlahnya ribuan ke suatu tempat yang jauh dari lingkup istana. Bahkan putra putri raja di masa itu, juga tidak berhak ikut campur masalah kepangkatan prajurit dan yang berhak menentukan adalah mahapatih, itupun berdasarkan tandatangan dan stempel raja. Demikian juga perihal prajurit yang diorbitkan untuk menduduki posisi tertentu dan strategis, walaupun seorang mahapatih sudah mengesahkannya, masih harus melewati rekomendasi seorang raja.

 

Disinilah peran Prabu Airlangga juga harus dipertanggungjawabkan atas tragedi “Nightmare On The Kelud”. Karena ,berdasarkan berbagai literasi, kejadian tragis dikuburnya hidup-hidup Lembu Suro terjadi pada pagi saat ayam berkokok, tanda matahari akan segera terbit, sedangkan pergerakan pasukan dari istana menuju bukit, dilakukan malam hari, usai salah satu intelejen kerajaan mengabarkan bahwa Lembu Suro hampir 50% bakal menyelesaikan request pembuatan sumur raksasa.

 

Bila kisah Lembu Suro dikoneksikan dengan keberadaan Prabu Airlangga yang memerintah Kerajaan Kahuripan, maka bisa diasumsikan kalaupun toh memang benar Lembu Suro pernah hidup dan eksis dimasa itu, maka sudah dipastikan keberadaannya ada jaman tersebut. Prabu Airlangga sendiri memiliki gelar “Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatungga Dewa”. Dalam literatur yang ditulis Mpu Kanwa lewat “Kakawin Arjunawiwaha”,begitu jelas gambaran era Kerajaan Kahuripan disektor “Poleksosbudhankamnas", bagaimana kekuatan ekonomi ditopang produktifitas pertanian dan perdagangan lintas sungai, sedangkan kekuatan politik didukung sepenuhnya loyalitas dari wilayah-wilayah dibawah kekuasaannya, dan kekuatan pertahanan didukung keberadaan ribuan prajurit yang sebagian besar adalah loyalis dari wilayah-wilayah dibawah Kerajaan Kahuripan. Di masa itu, jumlah ribuan prajurit bisa disejajarkan dengan puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tentara, karena memang perbandingan jumlah penduduk jaman tersebut dengan jaman sekarang jauh berbeda. Besarnya jumlah prajurit yang dimiliki Kerajaan Kahuripan inilah, yang menjadikannya disegani kawan maupun lawan.

 

Masih dalam “Kakawin Arjunawiwaha”, tertulis disitu pada akhirnya Kerajaan Kahuripan terpecah menjadi 2 ,akibat kekosongan pewaris tahta, dalam hal ini Putri Dyah Ayu Puspasari yang pada akhirnya memilih hidup sebagai pertapa suci dan berubah namanya menjadi “Dewi Kilisuci”. Dewi Kilisuci sendiri bukanlah nama, sebagaimana ada dalam literasi lama, melainkan gelar yang disematkan dari orang-orang yang melihatnya atau secara kebetulan melewati tempat perenungan hidupnya.

 

Dalam tulisan Mpu Kanwa tersebut, dituliskan bahwa Prabu Airlangga lahir tahun 990 M (penyesuaian tahun saka) dari pasangan Raja Udayana dan ibunya Mahendradatta yang berkuasa di Kerajaan Bedahulu. Ditilik dari garis keturunan orangtuanya, Raja Udayana berasal dari Wangsa Warmadewa, sedangkan ibunya Mahendradatta berasl dari Wangsa Isyana. Airlangga memiliki 2 saudara, yaitu Raja Marakata dan Raja Anak Wungsu. Garis keturunan Prabu Airlangga tersebut juga dikuatkan dalam berbagai prasasti yang menyatakan dirinya adalah keturunan dari Mpu Sindok yang merupakan Wangsa Isyana.

 

Perjalanan hidup dari sosok dimasa mudanya, Prabu Airlangga menikah dengan Putri Dharmawangsa Teguh dari Kerajaan Medang, tetapi nasib buruk menimpanya ketika tradisi pernikahan berlangsung. Raja Wurawuri dari Kerajaan Lwaram yang merupakan kerajaan dibawah kendali Kerajaan Sriwijaya, menyerang saat tradisi pernikahan berlangsung di Kerajaan Medang. Bukti peristiwa tersebut diabadikan lewat Prasasti Pucangan dan disitu tercantum tahun 928 saka atau tahun 1006 M. Dalam serangan tersebut, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Prabu Airlangga berhasil meloloskan diri di hutan Wonogiri bersama Mpu Narotama.

 

Request dijalankan dengan sempurna, Lembu Suro berhasil membuat sumur raksasa hanya dalam tempo 1 hari. Kalaupun ada di masa itu Museum Rekor Dunia atau Museum Rekor Indonesia, tentunya Lembu Suro berhak menyandang gelar sebagai pemecah rekor membuat sumur diatas bukit dengan cara manual. Sayangnya ,dimasa itu kedua badan yang kredibel untuk mencatat rekor-rekor dalam catatan dari masa ke masa, belum ada atau belum berdiri.

 

Planning A gagal, karena Lembu Suro berhasil menyelesaikan pembuatan sumur raksasa, yang menurut Dyah Ayu Puspasari adalah “Mission Imposible” akan bisa sempurna diwujudkan, namun ternyata pemikiran itu salah besar. Maka Planning B siap-siap dijalankan, yaitu mengubur hidup-hidup Lembu Suro di sumur yang digalinya sendiri. Disinilah kemungkinan asal dari peribahasa “Gali Lobang Tutup Lobang” itu muncul. Pasukan yang jumlahnya ribuan juga sudah siap siaga untuk menjalankan instruksi langsung dari Dyah Ayu Puspasari untuk mengubur hidup-hidup Lembu Suro. Dengan kekuatan ribuan prajurit, bebatuan yang juga berasal dari hasil Lembu Suro membuat sumur raksasa tersebut, dilempar kembali kelobang yang berukuran jumbo itu. Terkuburlah Lembu Suro dan sebelum dirinya lenyap dari pandangan, sumpah turun temurun dikumandangkan.

 

Sebelum pasca terjadinya “Mission Imposible” yang dicetuskan Dyah Ayu Puspasari dan kemungkinan besar Prabu Airlangga juga terlibat didalamnya, sayembara yang secara resmi dipublikasikan secara umum, digelar di halaman istana. Satu persatu peserta sayembara mendaftaran dirinya dan mayoritas mereka adalah bangsawan atau memiliki hubungan erat dengan kekuasaan kerajaan lain. Sayembara ini dipublikasikan secara umum tidaklah sama dengan kondisi saat ini yang serba instant. Cukup dengan mempromosikan lewat media televisi, radio, koran atau online dan yang paling anyar melalui media sosial (medsos). 

 

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan, akhirnya terpecahlan kerajaan tersebut menjadi 2 kekuasaan.

 

  • view 82