Perbincangan Senja

Dinda Permata
Karya Dinda Permata Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Perbincangan Senja

Aku mengobrol banyak sekali dengannya sejak pukul 3 sore tadi. Sambil sesekali meneguk teh tarik yang begitu nikmat dan paling favorit di kedai ini. Derai tawa antara kami pun keluar begitu saja disetiap pertukaran cerita kami. Entahlah orang-orang sekitar memperhatikan keseruan kami atau tidak, aku tidak peduli. Setelah cerita yang sangat panjang dan sambung menyambung, suasana menjadi hening sekilas. Ia meneguk sekali dua kali cangkir putih berisi Americano yang super duper pahit! Aku beranjak dari kursi. Ia menoleh sambil meletakkan cangkirnya, memandang ke arahku seolah bertanya “lho mau kemana?”, aku refleks menunjukkan telunjukku ke arah meja bar kedai. “Bentar kok!” ujarku sembari tersenyum padanya.

Aku menghampiri meja bar kemudian berbisik pada seorang waitress yang berjaga disitu. Waitress itu mengangguk-angguk cepat sambil tersenyum ramah. Sambil mengacungkan jempolnya ia menjawab, “Oke beres! Wait a minute sist...”

Aku kembali ke meja tempat kami berbincang hangat. Lalu, lagu yang kuminta pada abang waitress itu pun diputar. Mengalun sangat manis dan romantis pada suasana kedai, senja itu. Tembang lawas yang masih menjadi favorite di playlist laguku.

I just wanna hold you I  just wanna kiss you

I just wanna love you all my life

......

I want you here forever right here by my side

Ia melanjutkan cerita selanjutnya dengan suaranya yang agak berat, renyah, dan hangat. Sesekali berdeham sambil membetulkan kupluk merah di kepalanya. Kupandangi matanya yang berbinar-binar indah setiap bahasa yang keluar dari untaian ceritanya. Juga senyum yang selalu tersimpul manis ketika ia berbicara sedikit saja bahkan panjang lebar. Ah aku sungguh rindu sekali kehangatan seperti ini dengannya. Sesekali digenggamnya jemariku saat menceritakan betapa ia tersiksa dengan kerinduan yang teramat dalam padaku juga orang-orang terdekatnya ketika terkadang sepi menghujamnya di perantauannya di negeri sana.

Hari semakin petang. Langit benar-benar memudarkan biru langitnya, yang terlukis sekarang pegunungan nunjauh disana, bersanding dengan semburat kuning-ungu-oranye di ujung ufuk barat sana. Juga lampu-lampu jalan yang mulai menyala di sepanjang jalan. Indahnya!

“Randi ! View nya keren banget sih... Senja tiada duanya!” sahutku sambil memandangi ke luar jendela kedai. Randi tersenyum sambil mengeluarkan kamera SLR nya dari tas.

“Minggu depan ikut aku yuk! Ke suatu tempat keren. Kamu pasti suka, Rin!” ujarnya sambil memotret-motret senja dari dalam jendela kedai disebelah meja kami.

“Asyiiik! Wih kemana emang?” tanyaku dengan wajah sumringah.

“Not now. Surprise dong...” jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Begitulah Randi. Selalu penuh dengan kejutan, kocak, dan hal-hal yang manis.

Yang jelas aku sangat berterimakasih atas pertemuanku hari ini. Aku sangat bahagia. Aku sangat menikmati perbincangan senja hari ini. Izinkan kudekap hari-hari bersamanya lebih lama.

  • view 180