Malaikat Surgaku Kelak

Dinda Permata
Karya Dinda Permata Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Malaikat Surgaku Kelak

 

Langit biru tua yang mulai cerah terpapar cahaya matahari pagi, tampak dari jendela kamarku yang terbuka lebar. Dari dalam, suara denting sendok yang menghantam dinding cangkir itu tak asing lagi di telingaku. Bersama aroma kopi yang tercium kuat melewati ventilasi kamarku yang dindingnya bersebelahan dengan dapur. Tak lama akan ada suara air keran cucian piring mengalir cukup deras seperti membilas sesuatu kemudian teriakan sedikit kencang “Ayooo sarapan dulu.....”. Itu Mama. Ada suara seorang laki-laki yang memberikan kajian ceramah pagi lewat televisi di seberang dapur yang volumenya agak keras. Bersamaan lantunan ayat suci Al-Quran Ayah yang duduk tenang di sofa depan televisi, khusyuk. Suara-suara itu berlomba-lomba memenuhi telingaku menjadi santapan setiap pagi yang menyenangkan, tak pernah absen satupun sebelum masing-masing berangkat ke sekolah dan kerja, bahkan di hari libur pun.

Ayah dan adikku, Nanda, memiliki bakat dan kesukaan yang sama dalam dunia makanan dan masak-memasak. Tak jarang akan ada resep kolaborasi karya mereka yang akan terhidang lezat di meja makan di akhir pekan atau di hari libur. Sesekali aku belajar dari mereka karena aku adalah gadis yang tak pandai memasak. Kata Ayah, “Kalau masak harus percaya diri! Nggak boleh takut dan ragu...” Pastikan bumbunya pas, mengira-ngira dengan perasaan tak boleh sembarangan. Jangan takut untuk belajar, mumpung masih muda. Bisa karena terbiasa. Kalau yang ini adalah quotes favorit dari Mama.

Beberapa bulan terakhir menciptakan makanan lezat menjadi hobi Ayah, tidak hanya itu, beliau juga menjualnya. Salah satunya adalah Surabi Kuah, jajanan khas Bandung yang beliau jual di kota kecil kami di sebelah utara Kalimantan, Tarakan. Berawal dari sebuah keisengan yang akhirnya dijual karena banyak peminatnya. Setiap siang sampai sore beliau habiskan waktu untuk membuat adonan, membakar, mengemas, kemudian menjualnya di depan rumah.

Sepulang dari perantauan di bulan Ramadhan, tak sabar kucicipi surabi buatan Ayah sebagai menu buka puasa . Lezat sekali! Senangnya, liburan ku habiskan dengan belajar membuat Surabi dan ikut menjualnya. Asyik, sekaligus belajar berbisnis! Ternyata berdagang itu tak mudah. Harus sabar, telaten, dan istiqomah menjaga citarasa dan pengemasan agar bersih dan aman dikonsumsi

Ada banyak sekali peringatan dan nasihat menyenangkan dari Ayah ketika membuat Surabi di dapur.

“resepnya bacakan sholawat nabi biar berkah....”

“takarannya jangan berubah-ubah! Nanti Allah marah...”

“permukaan bawahnya jangan gosong yaa, harus halus..”

“kalau jualan, diajak ngobrol pembelinya biar senang..”

“ngemasnya yang rapi ya...”

Ayah paling anti kalau pelanggannya sampai kecewa. Makanya harus telaten dan hati-hati. Segala rasa lelah berjam-jam menunggu Surabi matang, mengaduk santan, mengemas rapi, sampai menunggui pembeli datang, semua terbayarkan dengan melihat pelanggan yang konsisten membeli setiap hari, dan pastinya ketika Surabi laris manis. Alhamdulillah, betapa lega dan bersyukur apalagi di bulan Ramadhan. Kalau ada sisa, tak masalah, kami akan mengantarkannya ke masjid dekat rumah atau dimakan sendiri untuk berbuka puasa. Oh, begini ya rasanya berjualan. Segala hal yang Ayah ajarkan akan selalu berbuah indah dan bermanfaat. Ketelatenan, ikhlas, kesabaran, bersyukur, memahami orang, sampai berbisnis semua Ayah ajarkan secara tidak langsung. Dan aku selalu bangga dan bersyukur memiliki kesempatan seperti ini.

Waktu minum teh di sore hari, waktu yang paling tepat untuk bercengkerama, saling bertukar cerita, membuat daftar belanja untuk membuat Surabi, menegur kesalahan satu dari kami, candaan yang bikin tertawa terbahak-bahak bahkan sebuah permintaan maaf pun boleh jadi terungkap di waktu sore. Tepat pukul 4 sore, akan ada teko berisi teh hangat beserta gorengan atau roti yang menemani percakapan sore di meja bundar kami. Dengarkan-rasakan-solusi. Kutemukan sebuah sikap menyenangkan ini dalam pribadi mereka kesayanganku, kedua orang tuaku juga kedua saudara-saudariku. Cerita sebahagia apapun, segundah apapun, sekonyol apapun, setidak penting apapun itu tak akan pernah lewat begitu saja. Akan selalu ada tanggapan atau nasihat yang menyenangkan, melegakan, atau bahkan menyadarkan ketika terungkapkan. Tak perlu rahasia, bersama mereka mengungkapkan kebenaran, kerisauan, atau kesalahan akan berujung solusi yang sungguh menenangkan sekaligus aman. Dari sana aku paham, peduli dan berbagi bukanlah hal yang sepele. Begitu indah dan menjadikan bahagia sebuah rasa yang sangat sederhana untuk didapat.

Ketika azan Magrib berkumandang, barulah kami mengusaikan perbincangan dan beranjak dari kursi masing-masing bersiap sembahyang. Selepas solat, akan ada panggilan khas dari Mama. “Ayo ayo ngaji....” Mama, tak pernah lelah dan bosan mengucap kalimat itu seusai solat jamaah Magrib dan Shubuh di mushola kami yang ruangannya cukup luas. Kalau malas, biasanya habis salim mencium tangan, buru-buru lepas mukenah kemudian nyeletuk dengan berbagai alasan biar nggak ngaji. “Ada PR maaaa...” atau “belum mandi, mau mandi duluu...”

“Halah cuma selembar aja kok...” kata Mama sambil siap membuka Al-Quran di pangkuannya. Kadang Mama diam saja langsung membaca Al-Quran, tidak memaksa. Namun sering juga kami ditahan dengan gelitikannya di perut kami tiada ampun. Tidak lepas, sampai kami berkata memohon “Iyaa ma ampun ma, ngaji ma ngaji...”

Dari kecil sejak TK kami sudah sama-sama belajar ngaji setiap sore. Berguru dengan Nenek Timah, nenek kami sekaligus seorang guru ngaji yang sangat sabar dan telaten. Mulai dari  iqra’ sampai tamat Al-Quran pertama kalinya. Senangnya Masya Allah. Semakin besar semakin dewasa bersyukur mengaji menjadi kesadaran kami sendiri. Masing-masing sudah punya Al-Quran sendiri-sendiri. Senangnya, Ayah menjadi partner-ku untuk hafalan surah Al-Mulk.

Kini, masing-masing merantau jauh dari orang tua. Menempuh pendidikan masing-masing untuk cita-cita yang mulia. “Sekarang sudah merantau, pelajari banyak hal di luar sana. Kenali kampung orang. Biar banyak kenalan dimana-mana”  begitu kata Ayah waktu itu. Kami belajar mandiri, mengatasi masalah sendiri,  membaca segala hal dari sudut pandang sendiri, dan mempersiapkan segalanya sendiri.

“Yang penting belajar yang benar dan jangan lupa solatnya” nasihat Ayah yang tak pernah bosan diucapkannya kepada kami.

Semakin dewasa semakin paham, solat dan membaca Al-Quran akan mempermudah segalanya. Semakin dewasa semakin paham, betapa indah arti kebersamaan, kepedulian, kesabaran, berbagi, dan mengalah. Betapa indah sebuah kebaikan walau pahit dulu yang harus dirasa, demi Surga di akhir hayat. Betapa penting sebuah pelajaran dan pengalaman untuk diri sendiri dan dibagi ke orang lain. Berbagi menjadikan hidup bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.

Impianku, sehidup sesurga bersama orang-orang terkasihku. Impian paling indah dan mulia sebuah keluarga. Menjalani hidup yang indah dan berbuah surga. Akan ada banyak jalan untuk sampai sana, walau ada banyak sekali rintangan. Kata Mama, hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia jadi jalan agar dapat sehidup sesurga dengan orang-orang tersayang. Siapa yang tidak mau? Jikalaupun air mata harus sampai menetes, peluh tiada habisnya, serta segala pengorbanan besar demi mendapat ridho Surga-Nya.

 Tak ada usainya ku sematkan nama mereka dalam lantunan doa agar bersisian bahagia dalam pelukan-Nya di Surga abadi

 

 

 

 

  • view 196