bola dan agama

muhammad wahyudi
Karya muhammad wahyudi Kategori Bola
dipublikasikan 01 Juni 2016
bola dan agama

Beragama Bola.

 

    Disepertiga malam yang di muliyakan oleh Tuhan, dan tak lupa juga di muliakan oleh duo suporter madrid layarkaca indonesia, yang khusuk dan tawaduk berdoa kepada Tuhan untuk sebuah kemenangan dan juga suporter Tetangga inisial FCB yang lebih khusuk lagi berharap agar real Madrid yang kalah, tentu sedikit meresahkan bagi saya, yang lebih khusuk lagi di sepertiga malam ini menikmati mimpi indah.

  Ya, memang bagi saya sepakbola hanya sebatas olahraga, taklebih. Bahkan jika dikaitkan dengan suporter bola, saya hanya suporter layarkaca yang nonton bola karena ajakan teman, gag ada film, atau gaya-gayaan. Apalagi jika di kaitkan dengan persepakbolaan indonesia, ah. Dagelan nok lapangan, tawuran nok dalanan, polisi melu iuran.

  Namun, saya mencoba menjadi pengamat dalam sepak bola, sebab paling enak ya jadi pengamat, pemerhati, toh bisanya cuma ngamati, kritik, lepas tangan deh. Ndak ada urusan, asal ngomong yang penting pedes, naikin reting, cari sensasi, kalo bisa ya sok suci. 

  Eh, curcol. Lanjutdeh. Dalam pengamatan ini, saya akan berusaha mengkomparasikan dengan tipe orang yang beragama, sebab ada kemiripan, eh banyak sih. 

 

Petama.

pelanggaran hanya milik lawan.

 

Maksudnya, semua pelanggaran dalam main bola jika dilakukan oleh lawan adalah sebuah pelanggaran mutlak, berbeda dengan jika pelanggaram dilakukan oleh kawan, maka itu hanya dianggap kesalahan dan bisa dimaapkan. Sama seperti orang beragama, kesalahan absolud bisa diartikan dengan "kafir", sebaik apapun yang dilakukan tetap saja dicap "Kafir", berbeda dengan kawan meskipun berlaku kotor atau gimana, paling mentok ya dikatakan berdosa, tp ada juga kok yang menjudge "kafir" kesesamanya hanya karena dianggap tak sama, heem ada, ada yang kayak gitu.

 

Kedua.

Kebenaran absolud ditanggan Wasit.

 

Seberapa salahpun seseorang, jika wasit memutuskan tidak bersalah tentu tidak akan salah, begitu juga sebaliknya, sebenar apapun menurut dia, jika menurut wasit adalah kesalahan maka itu adalah sebuah kesalahan. Begitu juga dalam beragama kebenaran absolut adalah milik Tuhan, dan tuhan tidak bisa di intervensi layaknya wasit bola, bahkan disogok. Peradilan tuhan murni subyektifitas Tuhan yang turun menjadi Obyektifitas mahluknya, emm..paham toh. Elehh..mblo, mahami kode mantan aja gag paham apalagi ginian mblo.. 

 

Ketiga.

Setiap kesalahan pasti ada hukuman.

 

Ya, memang umum adanya sebuah hukuman adalah konsekuensi dari sebuah kesalah, tujuanya sih baik, agar tidak mengulangi kesalahan itu kembali, tapi kadang ada yang menganggap hukuman adalah tujuan dari kesalahan, layaknya menganggap adanya aturan untuk dilanggar, eleh eleh..ini mah cacat mental. Analoginya gini, misalnya kamu cinta ama cewek dan kamu hanya memiliki dua kemungkinan untuk memilikinya, yakni memiliki dirinya meskipun tanpa cintanya. Atau melihat cintanya bahagia tapi dengan orang lain. Eh, kok pilihanya ndak enak semua ya.

Jika orang itu hanya sekedar ingin memiliki, tentu dia pilih yang pertama, yakni memiliki tanpa di cintai. Tapi jika orang ini bener-bener cinta, layaknya cinta sejati itu, kayak aku. Tentu akan memilih pilihan kedua, yakni yang penting dia bahagia dengan cintaku, meskipun dia hidup dengan orang lain. Eh, ini mah selingkuhan. Hihih.  Bukan itu, yo. Maksudnya dia lebih merelakan sang doi bahagia meskipun dengan orang lain. Eh, mblo, jangan sok paham deh, inget status. 

  Ya, orang yang egois pastinya yang penting dirinya bahagia, orang lain mah, apa!. Begitulah oranh yang menganggap tujuan kesalahan adalah hukuman, padahal bukan itu. Sama halnya orang yang menganggap tujuan dari cinta adalah memiliki, padahal bukan itu, tujuan dari cinta adalah kebahagiaan. 

 

Keempat.

Ada yang radikal ada yang moderat.

Sama halnya dengan suporterbola, suporter agama ada yang radikal ada juga yang moderat. Contoh paling dekat adalah radikalnya suporter bola Bonek dan Arema, thejack dan Bobotoh hampir sama dengan Radikalnya para pelaku teror atas nama Agama. Dalam hal memandang lawan atau musuh, mereka tak segan-segan menghilangkan nyawa lawanya, tak peduli background orang itu sama, selama atribut mereka berbeda, tentu adalah lawan. 

  Ada juga juga suporter yang moderat, biasanya di isi oleh para orang tua dan dewasa yang sudah banyak merasakan asin manisnya dunia, mereka hanya menganggap lawan ketika dilapangan, diluar itu mereka adalah kolega dan sahabat.

 

Kelima.

Hanya negara yang mampu menyatukan mereka.

 Jujur, bukan hanya di bola, dimana semua suporter menjadi saudara dan bersatu dalam sebuah term yang sama, yakni Timnas Indonesia. begitu juga yang selayaknya terjadi di indonesia, apapun agamanya minumnya teh botol, eh. Apapun Agamanya kita satu saudara dalam Negara, begitulah selayaknya. Sebab, Negara sudah menjadi Rumah bernaung kita, tempat kita Beragama dan Negara juga menjamin akan hal itu, jadi bagi yang ngaku beragama tapi menolak Negara, itu adalah hal yang tidak dapat dibenarkan, bahkan secara Agama. Sudah, ah. Itu bukan kapasitas saya, sudah banyak yang membahas itu, hanya saja sebagian masih ngotot aja.

 Ya, intinya nilai-nilai yang tercermin dalam sepak bola juga kita temui dalam beragama, jadi jangan salah jika banyak orang yang beragama layaknya suporterbola, sukanya sweeping syariah, konfoi berjamaah. Dan selayaknya kita rubah cara beragama kita dengan model Agama kelamin, sesuatu barang yang penting dimana jika dibutuhkan dia akan berada didepan, dan jika tidak dibutuhkan ia akan disembunyikan.

Dan selamat bagi Real Madrid, bersamaan tulisan ini, gelar Juara Champion telah berhasil diraih, sebab Keberuntung dan Do'a, lagi-lagi Agama. 

  • view 116