Patah Hati Terbaik_Ku

diyan syukur
Karya diyan syukur Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Oktober 2017
Patah Hati Terbaik_Ku

patah hati mungkin itu adalah kalimat yang tak asing ditelinga, yaah siapa yang tak tahu apa itu patah hati entah itu karena dikecewakan seseorang, diputuskan pacar, cinta tak terbalas dan bla bla bla

banyak sekali penyebab patah hati, dan ini adalah kisahku, patah hati terbaik dalam hidupku

siapa sih yang tak pernah jatuh hati ?? aku sering jatuh hati maybe it's mean jatuh cinta, aku adalah orang yang sangat mudah jatuh cinta meski pada dasarnya aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta.

seolah mengobral cinta, aku pacaran dengan ini dan itu, tapi... seminggu dua minggu, rasa bosan itu mulai muncul dan aku jatuh cinta lagi dan lagi dengan orang yang berbeda, sejujurnya aku tak benar-benar jatuh cinta tapi karena dia adalah kekasihku maka aku menyebutnya cinta. aku hanya sekedar suka dan kagum. sampai akhirnya aku dipertemukan dengan dia...

aku mengenalnya dari seorang teman, aku mengenalnya ketika aku terpuruk jauh kedalam lubang patah hati, jatuh kedalam dasar lautan setelah lelah dihempaskan ombak lautan kesana dan kemari, ini benar-benar menyakitkan dikala itu hatiku sedang dipatahkan oleh seorang laki-laki bajingan, dia benar-benar mempermainkanku, aahhh bukan, aku sendirilah yang masuk kedalam permainannya, aku tak cukup lihai dalam bermain namun aku memaksakan diri untuk masuk kedalam permainan itu, aku fikir setelah belajar sehari dua hari aku mampu menguasainya, ternyata tidak, aku bermain dengan pemain handal tentu saja aku bisa saja kalah hanya dalam kedipan mata, dia cukup baik, dia memberiku peluang untuk bertahan lebih lama namun kemudian ketika ia sudah mulai bosan ia memilih untuk menghempaskanku hingga semua tulang-tulangku remuk olehnya. ia, dia menemukan lawan yang menurutnya tepat untuk bermain dan aku tak pernah menyadari itu bahwa dia telah memulai permainan itu dengan wanita lain di tempatnya yang berbeda.

ketika aku terpuruk dia datang padaku, aku menyebutnya malaikat, ia dia seperti malaikat bagiku, dia mengulurkan tangannya untukku ketika tak seorangpun menoleh padaku, ketika semua orang serasa enggan melihatku, hari itu, hari dimana kita bertemu untuk pertama kalinya, senyumnya seolah mencairkan hatiku yang membeku, meluluhlantakkan kesakitan-kesakitan yang aku alami lalu melemparkan jauh dan jauh hingga hilang dari pandanganku, hingga tak lagi terasa sakit karena kehilangan sang pemain handal itu, iya dia membangunkanku, membuatku bangkit kembali disaat aku tak lagi percaya cinta.

hari itu bukan hari Valentine, bukan hari ibu, bukan pula hari ulang Tahunku, dan hari itu bukan hari yang special tapi dia, ia dia membuatnya menjadi special, dia kerumah membawa setangkai mawar putih, aduhaaiii siapa yang tak terlena dengan lelaki ini, dia tampan, baik, sopan, dan sangat menghargai perempuan dan lagi dia juga romantis itulah yang tergambar dalam fikiranku, sungguh dia mengajarkanku banyak hal, menjadikanku lebih baik dan baik lagi, sayang hubungan kami tidak lebih dari sebatas "teman/sahabat" kita berdua dekat, dekat banget dan semua itu bermula dari hari itu, siapapun yang melihat kita, mereka akan mengatakan kita adalah sepasang kekasih dan memang seperti itulah yang terlihat, sayangnya yang terlihat sangatlah berbeda dengan faktanya. 

semuanya mengalir begitu saja, sekali lagi hubungan kita sangatlah dekat, tapi kami bukan pasangan layaknya orang pacaran, kami hanya dekat. waktu berlalu begitu saja tanpa pamit atau tanpa permisi, dia berlalu begitu saja semaunya, dan aku ingin menjadi seperti apapun yang dia mau, ia, seperti inginnya, mulai dari cewe yang gak manja, gak cengeng, gak suka umbar aurat, tidak lagi keluar malam, membatasi pergaulan, membiasakan diri ikut-ikut kajian islami, mengaji, shalat 5 waktu, shlat malam, shalat sunah, berhijab dan lain-lain. dan semua itu untuk dia, it's means supaya dia melihatku sebagai perempuan soleha, perempuan baik-baik dan supaya dia tambah srek sama aku. 

aku berubah untuk dia, karena dia, dia merubahku, benar-benar merubah hidupku, sayangnya Ouupzzsss aku fikir dia seperti itu karena memiliki perasaan yang sama denganku, ia, aku selalu berfikir seperti itu dari semua perlakuan dia padaku, dari caranya berusaha merubahku, dari perhatian-perhatian dia, dari caranya memperlakukan aku. tapi aku salah, jauh dari dugaanku, setelah mengenal dia sekian lama, setelah merasa nyaman dan cocok sekali dengan dia, tibalah dimana aku mengungkapkan perasaan aku padanya, kita dekat sangat dekat, selalu dengan terang-terangan aku menyampaikan padanya kalau aku suka dia dan dia juga meresponnya dengan sangat baik, ia dia juga suka padaku. 

hari itu setelah aku fikirkan matang-matang aku memberanikan diri untuk menyampaikan padanya via chat

"kia dah kenal lama yah ka"

"ia dek, alhamdulillah sudah sangat lama menurut kakak"

"sudah saling tau dong yah"

"iya dek, sudah, kenapa kok tiba-tiba nanyanya gitu”

“maaf ka, kalau aku lancang ngerasa nyaman aja ma kakak, sekali lagi maaf ka, butuh waktu lama buat ngumpulin nyali untuk ngomong ini, tapi aku berfikir positif aja, udah kenal kakak lama, udah tau juga kakak gimana, yaah harapan aku sih kakak juga sama dengan aku, aku sayang sama kakak, kakak tau itu kan ? sayangnya sayangnya aku bukan sebagai teman ke temannya ka, atau adek ke kakaknya, tapi sayangnya aku ke kakak beda layaknya sayang seseorang kepada lawan jenisnya, menurut kakak gimana ?

“mau kakak jawab bagaimana yah dek ? jujur yah, aku Cuma nganggap adek itu adek aku, enggak lebih, sungguh aku hanya ingin kamu menjadi lebih baik lagi dek, dan kalaupun pada akhirnya sikap kakak ke kamu membuat kamu salah paham, maaf sungguh kakak benar-benar minta maaf, kakak sedikitpun enggak punya niat nyakitin adek, satu hal, kakak suka dengan perubahan kamu selama ini dan kakak sayang banget sama kamu tapi sayang itu bukan sayangnya seseorang kepada lawan jenisnya, maaf dek”

“jadi selama ini kakak ?”\

“maaf dek”

“kakak gak pernah sayang sama aku yah ?”

“aduh gimana yah dek? Kakak bingung, gini yah dek kalau jodoh, kita juga akan sama-sama dalam ikatan yang baik kok dek, kamu taukan kakak enggak mau punya pacar, kalau suka in shaa Allah kakak akan langsung lamar”

“yaudah,  lamar aja ka”

“aduhh enggak segampang itu dek, maaf lagi, kakak masih ingin selesaikan kuliah, kerja dan setelah itu baru punya rencana mau nikah, kamu yang sabar yah ?”

“kakak minta aku nunggu ? kalau kaka minta nunggu aku mau kok, yang penting jelas aja”

“aduh gimana yah dek, gini deh, kamu shalat malam, berdoa sama Allah semoga kita jodoh”

“aku gak mau nunggu kakak sampe bertahun-tahun kakak sukses dan lupa kalau aku nunggu kakak”

“berdoa dek, ikhtiar, jangan lupa minta kedia jodoh terbaik untuk kita semua”

“kakak gimana perasaannya ke aku?”

“kak?”

“kak?”

“titt”

Aku salah yah ? dia gak suka aku... berharap itu manis apalagi ketika harapan-harapan itu dapat lampu hijau dari doi. Tapi ketika harapan itu tak sesuai dengan kenyataan, disaat itu hati akan mulai terpuruk “aku tahu bagaimana akhirnya, tapi hatiku seolah tak ingin berhenti berharap, terlebih setelah percakapan kami via chat kemarin itu responnya baik, gak ada yang berubah, dia tetap sama, lantas kenapa aku harus berhenti coba, yaudahlah, aku sudah siap kehilangan ketika sewaktu-waktu dia tiba-tiba berubah, atau menggandeng perempuan lain, in shaa Allah aku sudah ikhlas, dia yang mengajarkan aku soal itu, meskipun dia sendiri mengatakan untuk tidak boleh berharap lebih kepada seorang ummat, tapi hatiku,,, aku hanya menginginkan inginnya hatiku, aku menikmatinya entah sampai kapan yang jelas aku bahagia”kalimat itu terucap begitu saja kepada sahabatku, aahhh aku benar-benar menikmatinya, disetiap harinya, setiap minggu, bulan dan tahun, waktu berlalu begitu saja dan semuanya masih sama, sampai akhirnya semua berubah. Tiba-tiba bagai disambar petir pesan singkat melayang masuk di smartphoneku, dari nomor yang biasanya menyapa selamat pagi, mengingatkan waktu shlat, membangunkanku shalat malam, memintaku untuk mengaji, tidur lebih awal dan banyak lagi sapaan-sapaan lainnya, tapi kali ini bukan sapaan seperti biasanya malah ucapan maaf.

“assalamualaikum dek, maaf yah jangan hubungi aku lagi, bukan memutus tali silaturrahmi, tapi ada baiknya kita jaga jarak agar kamu berhenti berharap, sungguh dek ini menyiksa aku disetiap harinya, maaf sekali lagi dek, berhenti sampai disini yah, kakak pamit”

Dan setelah itu semuanya benar-benar berubah, dia tak lagi ada seperti biasanya, dan semuanya berbuah begitu saja, waktu kebersamaan kami berlalu seperti hujan kemarin hilang tanpa jejak, entah kemana perginya, bicara itu gampang, sangat gampang, masih ingat waktu aku berkata hanya ingin menikmati pengharapanku meski tahu akhirnya akan bagaimana ? masih ingat ketika aku mengatakan bahwa aku mengikuti inginnya hatinya hati dan in shaa Allah aku ikhlas ? faktanya gaakkkkk 3 tahun kami kenal dan semuanya berlalu begitu manis, 3 tahun aku menanam pengharapan lalu kemudian yang aku tuai adalah patah hati terberat dalam hidupku dan kemudian aku mengingat kalimat yang dia pernah lontarkan untuk aku berdoa, ikhtiar dan minta padanya, aku melakukan itu lagi dan lagi.

Satu, dua, dan tiga bulan berlalu perlahan aku bisa mengikhlaskan semuanya dan aku mulai bisa menerima bahwa dia mungkin bukan jodohku, yang aku percayai adalah jika dia jodohku maka sejauh apapun dia pergi dia akan tetap kembali dan bahwa sekuat apapun aku bertahan jika dia bukan untukku dia akan tetap pergi juga pada akhirnya dan semenjak kejadian itu aku tak lagi ingin berharap terlalu banyak kepada manusia, benar dia mengajarkanku banyak hal, aku bersyukur telah mengenalnya dan aku bersyukur telah dibuat patah olehnya bahwa menggantungkan harapan padanya itu adalah salah besar, hari itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 24 seseorang datang kerumah menemui orang tuaku meminta izin untuk meminangku, semua keputusan aku serahkan kepada orang tua karena setelah mengenal laki-laki ini aku tak ingin memiliki hubungan special lagi dengan seorang pria manapun, bagiku laki-laki yang serius adalah laki-laki yang menemui orang tua meminta izin pada mereka untuk meminang bukan meminta untuk memacari, lantas ketika laki-laki itu datang kerumah aku Cuma terpikir satu hal bahwa dia adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku.

Hingga tibalah hari yang telah ditentukan dimana akad akan dilaksanakan dan resepsi pernikahan yang terbilang mewah akan segera berlangsung sesuai adat bahwa calon mempelai perempuan tidak boleh bertemu dengan calon mempelai laki-laki sebelum akad selesai yang berarti kami akan saling berjumpa dipelaminan nanti. Hatiku berdebar-debar ada rasa takut, sakit dan kesyukuran disana, aku masih sangat ingat ketika ia seolah memintaku untuk menunggu hingga pernah sekali aku berkata padanya,

“kak bisakah kakak memperjelas hubungan kita bagaimana ? kita sudah kenal cukup lama, dan aku tidak ingin sia-sia menunggu, bagaimana nanti jika ada yang datang ingin meminangku apa yang harus aku sampaikan kepada orang tua jika kakak sendiri tidak ingin memperjelas hubungan kita bagaimana ?”

“jika kelak nanti datang seseorang berniat meminangnu, apa yang akan kamu lakukan?”

“sebelum aku menerimanya akan kutanyakan dulu pada kakak, haruskah aku menunggu kakak atau aku terima saja lamaran orang itu”

“terima saja dek”

“loh kok ?? jadi selama ini ??”

“jangan tanyakan ke kakak, salah jika adeek bertanya ke aku, shalat istiqoroh dek, minta petunjuknya, jodoh atau di bukan”

Laki-laki inilah jawaban dari shalat istiqorohku, aku menangis namun tersenyum aku memeluk mamah dan papah meminta restunya kemudian mereka membisikiku kiat-kiat menjadi istri, aku semakin menangis mengingat semua mimpi yang pernah aku bangun, ikhlasku pantaskah kusebut ikhlas jika masih kurasakan perihnya hati ini, namun semakin kuingat semakin pula aku menjadi kuat, ia,,, dia mengajarkanku banyak hal.

Dan tibalah saat dimana aku dan suami aku bertemu untuk pertama kalinya dan alangkah kagetnya aku ketika kalimat yang pernah aku ucapkan 4 bulan yang lalu seolah menjadi kenyataannya, ketika itu aku menunduk dan tak berani menatap wajah suamiku, hingga akhirnya seseoarng menyebut namu dengan lembutnya

“nasya ?”

Aku gemetar, tak kuasa menahan tangisku, aku masih tak sanggup menatap wajah suamiku, aku dibayang-banyangi oleh ketakutan, dan harapan-harapanku dimasa lalu, aku tertunduk dan semakin tertunduk aku takut suamiku menatapku seolah aku tidak menerimanya, seolah aku tak ikhlas ingin di persuntingnya, seolah aku menikah dengannya karena paksaan orang tua, sungguh aku tidak ingin ia melihatku seperti itu, lalu kemudian ia memengang tanganku dan bebisik

“kuatlah, semuanya akan baik-baik saja, maaf aku membuatmu menunggu lama, maaf telah mengecewakanmu, maaf telah kupatahkan hati setelah kamu memabangun mimpi yang indah dimasa depan, maaf telah kubuat remuk hatimu dengan harapan-harapan yang kuberikan lalu kutinggalkanmu pergi, tak ada niatku untuk mematahkan hatimu, aku hanya ingin kamu berhenti menggantungkan harapanmu kepadaku, Nasya ikhlaskah kamu menerimaku sebagai suamimu ? bukan sebagai kakakmu ? ikhlaskah kamu menerimaku dalam hidupmu ? ikhlaskah kamu menerimaku sebagai laki-lakimu, menjadi imammu, menjadi temanmu menuju jannah-Nya ? ikhlaskah kamu melayaniku dan melahirkan anak-anakku, ikhlaskan kamu berpisah dengan orang tuamu dan ikut bersamaku untuk tinggal digubuk kita ? ikhlaskah kamu...” belum selesai ia mengatakan semua yang ingin ia sampaikan kuangkat kepalaku perlahan kutatapi wajahnya, sungguh aku tak percaya bahwa laki-laki tinggi dan penuh kehangatan diawajahnya ini adalah suamiku, bahwa dia laki-laki yang telah banyak mengajariku adalah suamiku, bahwa dia yang tengah aku belajar untuk ikhlaskan adalah suamiku, tak peduli dengan banyaknya tamu undangan, tak peduli dengan siapapun yang hadir disana tubuhku yang kecil ini kemudian memelukya menangis dan menangis lagi sampai hampir semua yang hadir disana ikut menangis terharu melihatku, cinta sejatiku telah memberiku patah hati terbaik, tak kutanyakan kenapa dia tiba-tiba pergi dan menghilang sebulan setelah aku meminta kejelasan hubungan kami, tiga bulan bukan waktu yang singkat, bagiku menghilangnya adalah patah hati terbaikku dimana semakin aku terpuruk karena harapan-harapanku yang tidak sesuai kenyataan membuatku kembali terbangun oleh setiap kata yang pernah keluar dari mulutnya, dan satu hal yang menjadi keyakinanku yang juga aku dapat darinya, jangan menggantungkan harapan kebahagiaanmu kepada manusia karena sebaik-baiknya tempat untuk berharap dan meninta adalah kepada Tuhanmu, dan lagi jodoh itu sudah diatur oleh-Nya, jika dia jodohmu sejauh apapun dia akan tetap kembali padamu tak peduli sekeras apapun kamu menolaknya, bahwa jika dia bukan jodohmu tak peduli sekeras apapun kamu bertahan dia akan tetap pergi juga.

 

Salam manis dari aku Nasya dan suamiku Andra

 

  • view 63