Kang Emil

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Maret 2016
Kang Emil

Saya teringat, pada satu ketika ada seorang anak kecil yang duduk di seberang saya dalam sebuah perjalanan saya dengan KRL siang itu. Sang anak -umurnya saya taksir sekitar 4 atau 5 tahun, menarik beberapa orang yang duduk di sebelahnya untuk bertanya. Setelah nama, tujuan perjalanan, kemudian cita2. Pertanyaan sederhana, umum bagi sebuah perkenalan.
"Mau jadi Presiden, Tante", jawab anak itu polos dengan aksen khas bocah balita.

Dalam kajian psikologi, secara alamiah manusia memiliki kecenderungan untuk dapat bersikap dominan dan mendominasi. Kebutuhan Dominan, yaitu kebutuhan untuk lebih, unggul dan di atas orang lain. Sifat dasar dan naluriah ini yang kemudian mendorong manusia memiliki kecenderungan untuk merasa tertarik pada posisi ordinat, pemimpin, berada di atas dan memiliki kuasa atas orang lain.

Berbicara tentang pemimpin dan memimpin, tidak terlepas dari proses politik dan politis, tepat digambarkan bagi sistem pemerintahan di Indonesia. Setiap pemimpin, adalah hasil dari ujung dari proses politik yang telah berjalan dan dijalankan.
"When the processing of politic finish, the birocration is begin", mengutip pernyataan Woodrow Wilson dalam kajiannya.
Dalam tataran praktis, hampir dipastikan setiap pemimpin (dalam pemerintahan yang demokratis), adalah hasil dari proses politik dan sedikit banyak membawa nilai-nilai dan kepentingan politik di dalamnya, baik dari level Ketua RT sampai dengan level pemimpin negara.
Bahkan, pemimpin dalam keluarga, pada hakikatnya juga merupakan hasil dari "proses politik", ada proses pertimbangan baik buruk, tawar menawar atas kepantasan dan kelayakan, dan prosedur demokratis lain yang tak hanya melibatkan sang calon istri, tapi seringkali pertimbangan kepentingan dan masukan seluruh keluarga besar dalam proses penentuan dan pemilihan seseorang menjadi "calon kepala rumah tangga".

Nah, masalahnya kemudian adalah, seringkali kita terjebak pada sifat terbiasa mudah tergiring pada sosok pemimpin yang dinilai "potensial" di level permukaan, tanpa merasa perlu melakukan filter, seleksi dan pengidentifikasian orang-orang yang dinilai potensial, siap dan dapat tersiapkan untuk layak berkompetisi dalam sebuah sistem meritokrasi. Orang-orang ini kemudian dikelompokkan dan dipetakan dalam proses yang bisa dinamakan sebagai "Talent Pool", yang mana orang-orang dalam talent pool ini, memiliki kualifikasi dan kriteria tertentu sebagai seorang pemimpin, yang tidak hanya mahir dalam pengambilan kebijakan/keputusan pemerintahan, tapi juga mahir dalam mengelola masyarakat dengan beragam permasalahan, tantangan, kelebihan dan potensi diwilayah yang akan dipimpinnya kelak.

Presiden Indonesia saat ini pernah cukup lama duduk dalam sistem Talent Pool tadi, dan membuktikan bahwa seorang "nobody", tidak mustahil seketika menjadi "somebody and everybody know" melalui suara rakyat yang terpusat pada kelompok orang2 dalam Talent Pool tadi.

Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Basuki T. Purnama dan Ridwan Kamil, menjadi beberapa nama kepala daerah yang masih menjabat sekaligus dinilai masih layak menempati posisi-posisi dalam talent pool tadi, walaupun sesungguhnya banyak nama lain yang dinilai juga pantas namun sayangnya tidak terlalu ramai dan dikenal masyarakat layaknya La Tinro La Tunrung (Bupati Enrekang), Amran Nur (Walikota Sawahlunto), atau Abdul Kholiq Arif (Bupati Wonosobo) yang juga memiliki keunggulan dan inovasi segar dalam mengelola masyarakat dan potensi daerahnya masing2.

Seorang pemimpin dilahirkan untuk suatu daerah, maka selalu ada pemimpin terbaik bagi setiap daerah, dan prosesnya belum tentu berulang pada pemimpin-pemimpin lain yang kemudian berkuasa di daerah tersebut. Karena pendekatan yang diambil setiap pemimpin tidak lantas cocok dan tepat jika diberlakukan di daerah lainnya, terlepas ada atau tidak mnya faktor x, y dan z yang juga ikut andil menentukan keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin.

Kang Emil bukanlah Koh Ahok. Begitupun dengan Jakarta, bukanlah Bandung, dengan heterogenitas masyarakat dan potensi masalah sosial, lingkungan, pemerintahan dan fisik perkotaan yang berada dalam level yang juga berbeda. Tapi Kang Emil bukan berarti tak bisa secemerlang Koh Ahok, atau sebaliknya. Jakarta bukan berarti tak bisa menjadi seperti Bandung, pun kebalikannya.
Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan tidak ada yang tahu persis, pemimpin yang mana yang dapat membolak balikan keadaan sebuah daerah dengan segala unsur di dalamnya.

Mana tau, sebenarnya masih banyak nama lain dalam Talent Pool tadi , yang lebih tepat, lebih potensial, lebih terampil, lebih layak dan dilebihkan Tuhan karena dilahirkan untuk Jakarta. Ataupun.. mana tau ini hanya masalah waktu..

Yah, siapa tahu.

?

?

(foto diambil dari megapolitan.kompas.com)

  • view 100