Rokok dan Orang Utan

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Maret 2018
Rokok dan Orang Utan

Akhirnya setelah ramai di berbagai laman media online, berita tentang orang utan di Kebun Binatang Bandung (KBB) yg tertangkap sedang menghisap rokok yg diberikan oleh salah seorang pengunjung, pagi ini ikut ramai di beberapa berita televisi. Akram sempat bertanya pada saya, ketika ia mulai bermain dengan legonya sambil menemani saya menonton.

"Kocak, bu. Kaya Opa, ngerokok", ujarnya polos yg membuat saya tertawa seketika.
Pemandangan sehari2 Akram selepas sekolah yg melihat Opanya merokok, membuat korelasi yg kuat antara rokok, Opa, dan Asap.

Sejujurnya, saya bukanlah orang yg tidak menyenangi perokok. Walau suami saya seumur hidupnya tidak pernah merasakan rokok, Bapak dan ayah mertua saya adalah perokok. Bapak saya bahkan sempat berada pada level adiksi tingkat sedang dengan kebiasaan merokoknya, membuat saya, ibu dan adik2 perempuan saya mengultimatum Bapak untuk menghentikan kebiasaan merokok, atau tidak dapat menggendong cucu2nya. Akhirnya, bapak (berhasil) mengurangi kebiasaan merokoknya, yg dulu bisa sekitar 2-3 bungkus rokok dalam satu hari, kini (hanya) 1-2 bungkus untuk beberapa hari.

Perbincangan kami di suatu siang mengalir di seputaran rokok. Bapak saya pernah suatu ketika marah besar, ketika mencium bau asap rokok dari seragan adik laki2 saya ketika pulang sekolah. Bapak kemudian menggeledah tas sekolah adik saya, dan berharap menemukan bungkus rokok di dalamnya, yg nyatanya tidak pernah Bapak temukan di sana.

Marahnya Bapak ketika itu, ditanggapi berbeda oleh kami, yg kemudian berubah menjadi gelak tawa. Seorang perokok, melarang orang lain untuk merokok. Seorang perokok, menasihati orang lain tentang bahaya rokok. Dan seorang perokok, berharap anak laki2nya tidak menjadi seorang perokok. Bapak meringis, menyadari sesuatu yg salah darinya.

Belajar dari pengalaman Bapak, merokok (bagi para perokok) memiliki nilai dan hasrat filosofis sendiri yg (mungkin seringnya) tidak dimengerti oleh orang yg bukan perokok. Apalagi berharap diterima dan dimaklumi. Ibu bercerita, rokok menjadi simultan untuk bapak ketika beban pekerjaan tidak hanya bertumpuk di kepalanya, tapi juga meja kerjanya. Sampai ketika itu, saat dimana teknologi belum menerjang dan berkembang, sundutan rokoklah yg menemani bapak mengoreksi lembar jawaban ujian mahasiswanya. Bapak membolongi plastik jilid sesuai pola kunci jawaban yg kemudian ia tempelkan ke lembar jawaban mahasiswanya. Sederhana yg memorable bagi saya sekeluarga.

Maka saya hanya membatin kagum pada Bapak, yg pernah mengakui bahwa menjadi perokok adalah dosa masa lalunya yg ia haramkan diulang oleh generasi keturunannya. Bapak pernah lupa, bahwa generasi di bawahnya, hidup dan mendewasa oleh karena lingkungan dan teladan orang tuanya. Dan Bapak sadar itu dengan nyata.

Narasi pembaca berita yg saya sempat saya tonton tadi pagi, banyak mengingatkan saya pada Bapak. Katanya, kasus orang utan yg kedapatan merokok di KBB tersebut terjadi juga karena terbiasanya para hewan di kebun binatang tersebut melihat para pengunjung yg merokok di hadapan mereka. Saya tersadar, kalau saja hewan memiliki kemampuan replikasi terhadap sesuatu yg dihadapkan pada keseharian hidupnya, apalagi manusia yg dari sudut pandang apapun, memiliki derajat dan kemampuan di atasnya.

Pembiasaan, seringnya saya lupa, bahwa ia akan lahir dari proses pengulangan yg terinternalisasi secara bertahap dari keseharian yg dijalani. Pembiasaan yg berawal dari rutinitas yg dipaksakan, dibiarkan berkembang,dan kemudian bertransformasi menjadi kebutuhan. Dan teladan, menjadi kunci penting bagi sebuah proses pembiasaan. Anak adalah replikasi orang tuanya. Masyarakat adalah replikasi lingkungannya.

Saya berusaha membuat jarak yg lebih lebar dengan laki2 di sebelah saya di dalam gerbong kereta yg penuh sesak pagi ini. Aroma asap rokok dan tembakau menyeruak hebat dari jaketnya, menembus masker yg sedang saya kenakan. Saya menahan napas, pasrah, dan berharap jarak intim di antara kami tidak pernah terbangun lama. Jarak yg seolah tidak ada ruang lagi antara: baju saya baju anda, kulit saya kulit anda, aroma saya aroma anda.

Saya pening!

  • view 57