Habibie Wanna Be

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Habibie Wanna Be

Salah satu kelemahan bangsa ini adalah sikap yang senang mengenang masa lalu. Gagal move on.

Melihat kenyataan itu, membuat saya teringat sesuatu. Suatu ketika, tetangga di kampung mertua saya bercerita, bahwa ia pernah memiliki sebidang tanah di Jakarta. Di Thamrin tepatnya saat ini. Ia mengenang bagaimana lebatnya kebun-kebun mangga yang dia miliki ketika itu di atas tanah yang kemudian dijual dan berdiri gedung2 pencakar langit di atasnya. Dia berujar, kalau saja tanah itu baru ia jual saat-saat ini, pasti ia mendadak kaya raya.

Kisah pembohongan publik yang dilakukan seorang kandidat Doktor Technische Universitet (TU) Delft, Belanda yang hari-hari ini ramai di media juga nyaris sama inti permasalahannya. Kegagalan move on, bangkit dari bayang-bayang masa lalu. Ironisnya, tidak hanya diidap masyarakat awam pada umumnya, tetapi juga media informasi bergengsi yang terjebak pada bayang-bayang kesuksesan tokoh di masa lalu, sehingga abai akan pentingnya cek dan recheck atas informasi yang masuk ke meja redaktur.

Bangsa ini seperti (terbiasa) dengan mudahnya terkesima pada sesuatu yang belum jelas asal usulnya, membanggakan dengan berlebihan yang baru terlintas di depan mata, walau seringnya jauh dari jangkauan tangan. Terjebak euforia, sekaligus terjebak nostalgia.

Bangga atas sebuah pencapaian sesungguhnya adalah bentuk dari rasa syukur, namun menutup mata atas pencapian lain yang mungkin lebih baik dan membanggakan, adalah kenaifan.

Kasus Sang (Kandidat) Doktor adalah contoh nyata. Betapa (seringkali), pendidikan di negeri luar, adalah lebih baik dari pendidikan di dalam negeri. Bahwa pendidikan di dalam negeri miskin fasilitas sekaligus kualitas. Bahwa pengalaman bekerja dan berkarya di luar negeri, dinilai bermanfaat lebih ketimbang berkarya di pelosok negeri. Kemudian terjebak, dengan harapan akan kelahiran kembali sosok yang dapat membanggakan negeri layaknya Habibie, karena habibie-habibie lain dinilai sulit lahir dari orang-orang yang kesehariaannya hanya berkutat di pelosok negeri -membangun desa, mengabdi tanpa sorotan kamera.

Mudahnya menjustifikasi dan menyematkan label "calon penerus bla bla bla"atau "the next bla bla bla", sesungguhnya memberikan bukti bahwa bangsa ini rindu sosok yang menginspirasi, membanggakan, karena nyatanya memang terlalu banyak sosok yang justru mengintimidasi, menurunkan motivasi diri.

Sikap terlalu cepat dan banyak berharap juga pernah terjadi di lini lain bangsa ini. Publik mungkin belum lupa, ketika seorang pemain bola nasional digadang-gadang bakal tumbuh sebagai pesepakbola hebat di Indonesia, hanya karena kiprahnya yang pernah menimba ilmu dan berkarier di Uruguay bersama Penarol pada 2008-2009 lalu.

Kala itu, sang atlet sempat dilirik dua klub Belanda, Heerenveen pada 2009-2010 dan pernah bermain untuk tim muda dari klub Belanda lainnya, Vitesse Arnhem, pada 2010-2011. Namun nyatanya, kini karier sepakbola sang atlet berubah 360 derajat ketika turun kasta bermain di liga antar kampung (Tarkam), dan mengubur mimpi dan harapannya menjadi pemain bola profesional yang mendunia. Juga mimpi dan harapan bangsa indonesia.

Bangsa ini agaknya semakin haus akan sosok membanggakan, pasca ditinggal beberapa sosok inspiratif lain di bidangnya layaknya WS Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Chrisye, Gus Dur, dan sosok inspiratif lainnya, sebelum sifat inspiratif dan rendah hati mereka, diregenerasi dengan sempurna oleh generasi lain di bawahnya.

Kasus Sang Doktor pada akhirnya mengajarkan bangsa ini, untuk dapat bangkit dari masa lalu, keluar dari bayang2 pihak lain, dan percaya akan kekuatan internal dengan apapun bentuk dan perannya. Semua memiliki kelebihan dan keunikan apabila diberikan penghargaan yang sama dan berimbang. Bangkit dari masa lalu, kejayaan bangsa terdahulu yang melenakan.

Karena derajat bangsa ini dinilai dari setiap ekspresi kejujuran yang tergambarkan -jujur mengakui kekurangan, jujur menghargai setiap bentuk kelebihan. Karena setiap orang memiliki potensi diri untuk menjadi inspirasi orang lain di sekelilingnya. Baik dengan atau tanpa label jabatan, pendidikan ataupun strata kehidupan.

Sumber Image: https://asiancorrespondent.com/2016/06/indonesia-bacharuddin-habibie-death-penalty/

  • view 82