PNS dan Orang Titipan

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Oktober 2017
PNS dan Orang Titipan

Saya menjadi PNS setelah tahun kedua saya mengikuti seleksi penerimaan CPNS di tahun 2008 dan 2009, dan dari sekian banyak kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang saya ikuti. Tidak terhitung, sebagian terlupakan. Sungguh perjalanan itu melelahkan, dan nyaris membuat saya berpikir bahwa jalan hidup saya bukanlah di pemerintahan.

Menjadi seorang PNS, adalah jalan hidup, takdir Tuhan. Pun sama halnya profesi lainnya, dengan kelebihan dan kekurangan yang menyertainya. Tidak ada yang berbeda, karena jalan hidup setiap orang, bagi saya istimewa.

Setiap seleksi penerimaan CPNS, antusiasme pelamar menunjukan trend yang nyaris sama. Predikat seorang PNS masih menarik bagi sebagian orang, atau membuat penasaran sebagian lainnya.

Salah satu daya tarik status seorang PNS adalah jaminan hari tuanya, dengan beban kerja yang dapat dikatakan standar, santai dan bisa dikondisikan. Padahal BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta pun sudah menerapkan aturan serupa dengan jaminan hari tua pegawainya, bahkan lengkap dengan dana pensiun dan pesangonnya.

Kemudian berbicara tentang beban kerja, jangan lagi berbicara tentang PNS di era Paradigma "Old Public Management", yang menempatkan pegawai publik bukan sebagai pelayan publik. yang hanya datang, kerja dan menunggu jam pulang. Karena walaupun hal tersebut masih jamak terjadi, konsekuensi atas pekerjaan seorang PNS "delapan kosong empat" -jam delapan datang, kosong (tidak di ruangan) dan muncul lagi pukul empat menjelang waktu pulang, berdampak besar pada penilaian Kinerja Pegawai di setiap bulannya. Ketentuan kinerja ini yang dua tahun belakangan ini merasa menjadi beban pegawai, PNS yang enggan beranjak memperbaiki kinerjanya agar lebih produktif. Kenyataan ini yang salah satunya mendasari rasionalisasi birokrasi guna menciptakan birokrasi yang "ramping struktur namun kaya fungsi".

Banyak PNS yang saat ini memiliki jam kerja lebih dari 8 jam kerja setiap harinya, dituntut tetap bekerja di kantor (atau di rumah) pada hari sabtu dan minggu, atau menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam di luar kantor/di luar kota, dengan tidak melulu mendapatkan upah lemburan yang memadai dan setara dengan hilangnya waktu berkumpul dengan keluarga. Namun kemudian tetap distigmakan menghabiskan uang negara karena berfoya-foya di luar kota.

Saya percaya, tidak semua orang akan percaya bahwa dunia PNS saat ini adalah dunia yang telah banyak bertransformasi dengan beragam perubahan, gebrakan dan pembaruan, menuju bidang kerja yang lebih bermanfaat sebagai roda utama pergerakan pemerintahan pada sebuah negara. Bukan hanya berganti baju pada nomenklatur semacam Aparatur Sipil Negara, namun sesungguhnya, banyak hal fundamental yang berubah pesat di era reformasi birokrasi yang bukan lagi mengedepankan paradigma "New Public Management", namun lebih pada pencapaian birokrasi yang melayani dalam paradigma "New Public Services".

Berbagai kualitas layanan PNS memang masih menjadi sorotan, keluhan, umpatan bahkan cacian. Namun saya (yang juga) selaku pengguna layanan publik percaya, bahwa perubahan besar di tubuh bernama birokrasi yang tengah berjalan bertahap ini, melangkah pasti menuju perubahan dan perbaikan kualitas layanan -birokrasi yang tidak lagi birokratis, hierarki yang tidak lagi hierarkis.

Belum lagi stigma orang-orang titipan, yang agaknya masih enggan beranjak dengan sistem secanggih apapun yang diterapkan dalam rekrutmen PNS di Indonesia. Stigma yang menilai bahwa semua PNS adalah titipan manusia lain dan bukan Titipan Tuhan.

Cerita tentang PNS titipan, sesungguhnya adalah cerita kelam masa lalu yang sudah saatnya dimuseumkan. Percayalah bahwa hingga 10 tahun ke belakang, sistem penghitungan beban kerja dan sistem rekrutmen pegawai yang terpusat, berperan besar dalam menentukan jumlah dan kriteria pegawai yang dibutuhkan di masing-masing instansi pemerintah, walau perubahannya (lagi2) harus bertahap namun menuju titik perbaikan yang pasti. Maka kompetensi, jalan hidup dan takdir Tuhanlah yang menentukan seseorang bisa menjadi PNS atau tidak.

Saya meyakini, bahwa seharusnya, orang-orang terbaiklah yang menduduki jabatan abdi negara, karena bidang pekerjaan seorang abdi negara bersifat strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak layaknya kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan keterlibatan negara di dalamnya. PNS adalah negara. Maka apakah bangsa ini rela jika negaranya diurus oleh orang yang impoten dan tidak berintegritas? Sederhana.

Pesan singkat seorang teman 3 hari yang lalu mengingatkan saya akan banyak hal.

"Sampai siang ini, pelamar Balitbang (Kemendikbud) sudah 4800 orang, untuk mengisi 59 formasi", ujarnya ketika itu.
Banyak, dan ternyata, animo masyarakat pada jabatan PNS belum juga berkurang, sama ketika saya mengikuti seleksi di tahun 2009 lalu, dengan beragam orientasi dan tujuan, yang tulus ingin membangun negeri, terjebak sentimen masa lalu lembaga pemerintahan, atau sekadar proses pengundian nasib belaka.

Masih ada beberapa hari ke depan sebelum pendaftaran seleksi CPNS gelombang -gelombang ini dibuka. Dan masih ada waktu untuk kembali berpikir, orientasi apa yang akan dikejar dan diharapkan ketika menjadi seorang Abdi negara.

Bagi yang selalu berpikir tentang buruknya dunia pemerintahan dan segala elemennya, atau tidak yakin menjalani proses transformasi birokrasi yang tengah berjalan ini, silahkan urungkan niat untuk ikut dalam seleksi cpns ini. Banyak pekerjaan lain di luar sana yang mungkin lebih tepat dan memuaskan secara espektasi dan finansial.

Karena negara ini, tidak sekadar membutuhkan tenaga2 kompeten di bidangnya, tetapi juga sumber daya yang berintegritas, berpikiran positif, dan senantiasa rendah hati untuk selalu bersedia memperbaiki diri.



Sumber Image : http://news.rakyatku.com/read/50909/2017/05/31/inilah-cuti-lebaran-2017-untuk-pns

  • view 222