Gulung Tikar

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Gulung Tikar

Tadi malam, saya menemukan pesan di handphone suami saya dari seorang teman.
"Bang, ada lowongan ga di kantor? Saya baru aja kena PHK", isi dari pesan teman tersebut.
"Maaf, belum ada. Ga coba di perusahaan lain?", respon suami saya melalui pesan singkatnya. Kemudian berhenti. Tidak ada lagi jawaban atas pertanyaan suami saya tersebut.
?
Saya yang membacanya, tiba-tiba miris. Prihatin. Tapi apa mau dikata, tak ada kekuatan melakukan apa-apa. Pada hakikatnya, semua orang yang bekerja adalah buruh, orang bayaran, dan terikat aturan.
Saya dan suami seorang PNS, abdi negara. Dan kami juga buruh, orang bayaran pemerintah. Kami diikat beragam aturan yang bersifat prosedural dan birokratis. Rule driven, istilah ilmu pemerintahannya. Istilah kenyamaan dan jaminan kerja hingga hari tua, sesungguhnya tidak pernah melekat pada kami dan golongan PNS lainnya. Negara bisa saja kolaps, krisis kemudian memilih gulung tikar, dan bahkan wacana pensiun dini bagi para abdi negara yg dinilai tidak lagi produktif, sesungguhnya adalah bentukan dari sistem pemerintahan yang mulai berjalan menuju krisis, kolaps karena beban operasional belanja pegawai yang dinilai tidak lagi efektif dibandingkan dengan kinerja aparatur di dalamnya.
?
Pun sama halnya bagi saya dengan para pengusaha, yang pada dasarnya sama dengan buruh, orang bayaran, dan para konsumen pengguna jasa atau produk usahanya, adalah yang memiliki kuasa atas keberlangsungan hidup para pengusaha. Silahkan dibayangkan, jika ekonomi benar-benar ambruk, bagaimanakah pola konsumsi para konsumen yg praktis berimbas pada perkembangan dunia usaha.
?
Setelah tutupnya jaringan usaha Ford Motor Indonesia termasuk di dalamnya aktivitas dealership dan impor atas produk kendaraan Ford, dunia usaha Indonesia harus dihadapkan lagi pada kenyataan, berhenti beroperasinya PT. Panasonic Lighting dan PT Toshiba di Cikarang Bekasi di awal tahun 2016 ini. Tidak hanya dunia otomotif, dunia bidang usaha lainnya juga sama rentannya terhadap krisis. Publik pasti belum lupa dengan tutupnya gerai-gerai Disctara di Indonesia yang dalam beberapa tahun yang lalu berkembang pesat sebagai platform penjualan produk-produk audio dan visual berbentuk kaset, vcd ataupub dvd. Semua jatuh, karena salah satunya alasan fundamental yang gagal ditepis oleh kekuatan ekonomi yang pada awalnya dinilai digdaya dan berjaya.
?
Setiap orang pada dasarnya memiliki cikal bakat menjadi ahli ekonomi walau levelnya berbeda di setiap orang. Dan membaca kondisi ekonomi serta dunia usaha di indonesia saat ini, adalah layaknya menonton film kartun yang tidak perlu ilmu njelimet untuk memahami maksud di setiap adegannya. Analisis sederhananya, salah satunya adanya ketidakpuassn dunia usaha atas respon yang diberikan pemerintah terkait dengan paket paket kebijakan ekonomi indonesia yg lantas menurunkan daya beli masyarakat akan produk-produk tertentu. Kemampuan daya beli yang menurun akan lantas berpengaruh pada perkembangan ekonomi indonesia secara nasional.
?
Selain itu, pola dan paradigma berpikir masyarakat yang mulai mengalami banyak pergeseran juga bisa menjadi salah satu alasan perubahan pola konsumsi seseorang akan sesuatu.
Disctara, nyatanya bukan satu-satunya korban atas pergeseran pola pikir masyarakat yang berimbas pada konsumsi masyarakat tersebut atas sesuatu. Kejatuhan banyak toko buku konvensional di Indonesia menjadi salah satu kenyataan yang tergambar semakin nyata dalam dunia publikasi Indonesia. Dan banyak kejatuhan lain, yang pada akhirnya membuka mata kita bahwa setiap perubahan paradigma dalam masyarakat, akan memberikan dampak ekonomi yang tidak kalah besar.
?
Maka, dalam menyikapi fenomena "gulung tikar berjamaah" ini, bukan perihal alasan mengapa krisis ini perlahan tapi pasti terjadi, tapi bagaimana solusi efektif dalam meredam dampak atas krisis tersebut, sambil menata kembali paradigma berpikir kita sebagai pribadi yang merupakan bagian dari masyarakat, untuk tidak melulu bicara tentang untung rugi secara ekonomi apalagi politis.

  • view 133

  • Diyan Nur Rakhmah
    Diyan Nur Rakhmah
    1 tahun yang lalu.
    Yap.. karena kita terlalu banyak berbicara alasan "kenapa sesuatu bisa terjadi", bukan "solusi atas masalah yang terjadi".

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Solusi yang patut untuk coba diterapkan...^_

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Seandainya setiap orang peduli akan nasib orang lain dengan ditanamkannya nilai kebersamaan. Apakah tidak mungkin bahwa perekonomian pun akan merata !