Otokritik: (Mungkinkah) Sebuah Konspirasi?

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
Otokritik: (Mungkinkah) Sebuah Konspirasi?

Pernah satu ketika seorang teman bercerita pada saya, dia merasa depresi dengan pekerjaannya. Kalut. Hampir putus asa, karena ada hal fundamental yang tidak sesuai harapannya, harapan orang-orang di atasnya, harapan kemajuan organisasinya.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya, bahwa seketika dia balik bertanya pada dirinya sendiri, tentang siapa dia? Ibarat laut, dia hanya seperti buih, kecil, tidak seberapa. Dan banyak buih-buih seperti dia, merasa tidak berguna.
?
Tiba-tiba, saya teringat ketika Otto Scharmer memberikan seminar singkat di kantor saya dengan memperkenalkan ide gagasan dalam bukunya : "Theory U: Leading from The Future as it Emerges". Scharmer menjelaskan tentang pentingnya organisasi
pembelajar yaitu organisasi yang memiliki kemampuan andal dalam hal pengambilan keputusan berdasarkan pada situasi yang tengah dihadapi. Dalam buku tersebut dijabarkan bahwa kegagalan kita sebagai bagian dari organisasi dalam menganalisis, menilai dan mengambil keputusan adalah karena seringkali kita terbentur pada pola pikir yang sempit , yang dalam bahasa Scarmer disebut sebagai blind spot pemikiran kita.
?
"Theory U" ditawarkan Scharmer untuk mengatasi kegagalan tersebut dimana kita diajak untuk mengubah fokus yang selama ini kita gunakan dalam memandang berbagai macam hal. Seringkali, kita hanya memandang hasil akhir sesuatu yang hanya bersifat terlihat di permukaan, padajal pada stiap keadaan ada cerita dan proses di dalamnya. Singkat kata, Scharmer menggiring setiap orang untuk dapat ?menerima? dan ?menganalisis? situasi dengan pandangan yang lebih terbuka (open mind, open heart dan open will). yang menarik, pada paparannya Schrarmer menampilkan gambar sebuah teropong yang ujung moncongnya berbelok ke arah diri orang yang melihat dan memegang teropong tersebut. Ini yang s?ya korelasikan dengan sikap Otokritik.
?
Secara naluriah, manusia itu enggan berada pada situasi yang tidak menentu karena perubahan, keluar dari zona nyamannya apalagi jika kaitannya dengan kepentingan dan kenyamanan dirinya sendiri. Maka tidak aneh ketika tuntutan perubahan dialamatkan tajam pada dirinya, beragam penolakan pasti terjadi.
?
Seringkali kita mengeluh, atas keberadaan kita di beberapa tempat dan atas banyak hal seolah tidak terlalu optimal, sehingga keluaran yang kita hasilkan juga setengah-setengah, jauh dari optimal. Tapi, sikap otokritik meletakkan fondasi yang kuat, bahwa kita harus mengkoreksi diri sendiri atas apa yang selama ini kita lakukan dan capai sehingga seolah-olah lingkungan dan organisasi tempat kita berada menyia-nyiakan keberadaan kita.
?
Pada beberapa praktik, sikap otokritik dapat digambarkan pada kejadian-kejadian yang selama ini terjadi pada lingkungan kerja di mana kita berada.
Perubahan sistem penilaian kinerja, misalnya. Perubahan dari mekanisme dan format DP3 menjadi SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) pada awal kemunculannya dinilai merepotkan dengan item penilaian yang terlalu detail dan rinci. Belum selesai peralihan tersebut, peralihan sistem SKP secara manual ke sistem online juga dinilai beberapa pihak semakin rumit dengan kondisi jaringan dan kesiapan aplikasi yang nyata-nyata belum mumpuni. Pernah sesumbar terdengar bahwa berbagai perubahan dan mekanisme dan sistem penilaian kinerja PNS yang terjadi saat ini adalah bentuk konspirasi pihak tertentu yang tidak suka dengan kondisi kehidupan dan kesejahteraan pns yang "dinilai paling comfort diantara pilihan karir lainnya". Kebijakan "singkong" dan pelarangan kegiatan dan rapat di hotel serta pelarangan penggunaan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi dan sekarang berbagai sistem penilaian kinerja dan pelaporan harta kekayaan yang merepotkan, dinilai sebagai sinyalemen penjegalan pemerintah terhadap para pns di indonesia.
?
Saya PNS dan saya tidak mau menjadi PNS yang provokatif mengintimidasi dan menggeneralisir kondisi PNS di indonesia. Tapi, alangkah bijaknya jika kita -pns, non pns, pegawai, ataupun jobless- bisa membudayakan sikap otokritik tadi. Setiap kebijakan dan perubahan yang terjadi dan seolah dipaksa untuk diterima dan dilakukan, adalah sebuah impact dari apa yang pernah kita lakukan. Ada yang harus diperbaiki, dibuang, dipertahankan dan disempurnakan atas sikap hidup dan sikap kerja kita selama ini.
?
Sederhana, sesederhana teori sebab akibat.
?
Maka setiap perubahan harus terjadi demi perbaikan atas dasar kenyataan yang terjadi sebelum adanya perubahan. Dan perubahan yang paling menyakitkan dan memberatkan, mungkin perubahan dari dalam diri kita sendiri sebagai bagian dari organisasi dan lingkungan tempat kita berada.
?
Otokritik menggambarkan "koreksilah diri kita sendiri sebelum anda mengkoreksi orang lain dan menyalahkan keadaan". Sederhana, tapi eksekusinya seringkali menyakitkan.
?
Menteri saya, Anies Baswedan, mengajarkan banyak hal atas sikap orokritik tadi, yang konteksnya pada instansi tempat saya bekerja.
?
Ruang sidang utama dan graha utama di kantor kami hampir setiap hari tidak pernah sepi dari beragam kegiatan internal kementerian maupun komunitas. Jauh lebih semarak dibandingkan beberapa periode yang lalu.
Dari beragam kesemarakan itu, ada benang merah yang bisa saya pribadi simpulkan: kami diajak untuk belajar dan mengkoreksi diri dari banyak hal, meneladani bestpractice dari banyak orang, komunitas, lsm, balita, pelajar, guru, bahkan veteran. Dan semua demi perbaikan institusi kami, lingkungan kami, diri kami, dan masa depan dunia pendidikan kami.
?
Otokritik, mengajarkan banyak hal:tidak melulu tentang perubahan, perbaikan, tapi tentang diri kita dan kebesaran hati untuk tidak malu belajar dari orang lain.
?
Untuk pertama kalinya, saya menyarankan kepada teman yang saya kisahkan di awal tulisan ini, untuk mulai menjalankan sikap otokritiknya, bahwa koreksi diri mungkin lebih baik untuk mengetahui penyebab kenapa idealismenya selama ini seolah tidak dapat diterima dengan lapang oleh lingkungannya. Idealisma yang kaku untuk menerima pemikiran orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya.

  • view 128