Menyehatkan Tenaga Kesehatan

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Januari 2017
Menyehatkan Tenaga Kesehatan

Kemarin saya berdebat. Lawan debat saya adalah kedua adik saya, dan suami saya. Adik saya yang pertama, bekerja di BPJS Kesehatan, adik saya yang kedua Bidan di Rumah Sakit Swasta dan suami saya, seorang Perawat yang bekerja di dinas Kesehatan. Tema debat saya melawan para tenaga kerja di bidang kesehatan itu adalah seputar sidak Gubernur di rumah sakit yang seketika viral di media.

Awalnya saya pikir, adegan menendang tempat sampah dan memukul meja pendaftaranlah yang akan tidak kalah menarik dari "aksi heroik" Sang Gubernur -disamping pembahasan sekitar dada bidang dan wajah aduhai Sang Gubernur yang juga tidak kalah serunya (haha). Tapi nyatanya, reaksi para tenaga kesehatan di media seolah dibenturkan dengan tanggapan publik perihal sidak di tengah malam buta itu, rupa-rupanya juga tidak kalah riuhnya.

Juga bagi ketiga tenaga kesehatan di lingkungan keluarga saya tadi.

Sejak menjadi bidan, adik saya semakin akrab bekerja dengan sistem shift, malam, pagi dan siang. Bekerja menembus hujan, di hari libur, bahkan di hari raya, dan membantu kejadian persalinan di tengah kantuk, sudah biasa dirasakan dalam kesehariannya. Suami saya mungkin lebih beruntung karena sebagai Perawat, ia justru ditempatkan di Dinas dan rutinnya berkenaan dengan pekerjaan yang sifatnya non teknis dan bukan pelayanan kesehatan. Tapi pengalamannya dulu ketika ditempatkan sebagai perawat di Puskesmas, banyak mengajarkannya betapa krusialnya peran seorang tenaga kesehatan.
Adik saya yang juga "kroco mumet" di BPJS Kesehatan, juga tidak kalah mumetnya. Sorotan banyak pihak soal ketidakadilan kebijakan sistem subsidi yang diberlakukan kantornya, menyeretnya pada kondisi terbiasa atas pandangan negatif, nyiyir dan komplen tidak masuk akal publik atau tenaga kesehatan lain, yang seolah lupa bahwa kesehatan adalah barang mahal yang merupakan hak azasi yang nisbi bagi setiap manusia.

Pilihan bekerja sebagai Tenaga Kesehatan, bagi adik, suami dan (mungkin) banyak orang adalah bukan sekadar memilih banyak pilihan lapangan kerja yang tersedia. Bukan karena hanya ada satu pilihan, namun ketika seseorang memilih sekolah dan berkarir di dunia pelayanan kesehatan, (sejatinya) adalah menghadirkan hati melayani di sana. Karena yang dihadapi nyawa, orang-orang yang berada dalam kondisi tidak selayaknya -sakit dan seringkali tidak punya pilihan untuk bertahan secara materi bahkan fisik.

"Kami tidak mungkin tidur nyenyak di tengah pasien yang menahan sakitnya", ujar adik saya di tengah perdebatan kemarin. "Tapi kami juga butuh tidur sebentar. Karena kami butuh juga sehat". Statemen terakhir disahut dengan anggukan pasti suami dan adik saya yang lain.

Dan saya paham. Dan mungkin orang-orang yang memiliki anggota keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatanlah, yang bisa sepenuhnya memahami statemen tadi, yang bukan hanya sekadar membiarkan logikanya terkurung dalam anggapan, semua bekerja punya risiko yang wajib sepenuhnya diterima dan bukan disesali.

Bekerja sebagai tenaga kesehatan, seringnya memang memiliki risiko besar bahkan bagi keselamatan dirinya sendiri. Suami saya bercerita tentang rentannya seorang tenaga kesehatan terpapar penyakit yang serupa dengan pasien yang tengah dirawatnya, atau bahkan lebih parah lagi. Adik saya juga pernah bercerita bagaimana berbahayanya seorang ibu yang akan bersalin, ketika berada tepat dalam kondisi pecah ketubannya sejenak sebelum anak dalam kandungannya dilahirkan, ada jutaan bakteri dan penyakit yang tidak terduga yang sewaktu-waktu mengancam kesehatan Sang Bidan yang menangani persalinan tersebut.
Dan sayangnya, risiko-risiko itu belum sepenuhnya diimbangi dengan jaminan kesehatan yang mereka dapatkan layaknya Tunjangan Bahaya Radiasi bagi Tenaga kerja Radiasi atau Tunjangan Bahaya Keselamatan dan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Kesehatan bagi para pegawai Lembaga Pemasyarakatan. Semua serba minimalis dan apa adanya-jika tidak boleh dikatakan belum selayaknya.

Mengukur baik buruknya sebuah pelayanan kesehatan, agaknya kurang tepat jika hanya mengandalkan sidak di tengah malam. Karena mengukur sebuah pelayanan kesehatan, adalah proses yang secara sistemik saling berhubungan yang dimulai sejak pada meja pendaftaran, pemberian layanan pemeriksaan, hingga pada layanan perawatan dan kuratif. Tidak bisa hanya dinilai pada satu aspek saja apalagi disertai dengan emosi dan kepala yang tidak dingin.

Mungkin seringnya kita harus menjadi seorang pasien terlebih dahulu, untuk merasakan apakah pelayanan kesehatan yang kita terima benar-benar dari hati dan menyehatkan. Karena tidak etis rasanya menuntut sebuah kesehatan bagi diri kita sendiri, apabila ternyata kita juga lupa berbuat sesuatu yang sebenarnya juga tidak kalah penting -menyehatkan setiap tenaga kesehatan yang melayani di luar sana.

  • view 322