JESSICA

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
JESSICA

Klimaks.
Bak membaca serial detektif, emosi dan ketegangan pembaca berada pada titik puncak ketika alur cerita bertutur tentang detik-detik terungkapnya pelaku dalam sebuah kasus kejahatan. Berbagai analisis dan prediksi bermunculan, seiring dengan banyak bermunculannya para ahli yang saling berlomba untuk memberikan analisis guna mengungkap dalang di balik kasus tersebut.
?
Dan antiklimaks, ketika orang yang disangkakan sebagai tersangka, terkuak, sesuai banyak prediksi dan ternyata, kerumitan kasus tersebut tidak setinggi ekspektasi para ahli dan penonton yang sudah terlanjur asyik mengikuti halaman demi halaman kasus layaknya membaca buku-buku serial misteri.
?
Jessica, salah satunya. Kasus yang seketika populer di media-media indonesia, seketika pula berada pada titik antiklimaksnya.
Dan agaknya, "mengecewakan" bagi beberapa orang, yaitu mereka yang telah berekspektasi terlalu tinggi atas kasus ini. Publik terlanjur berandai-andai bahwa kasus ini layaknya salah satu kasus rumit layaknya serial komik Detective Conan, dengan senjata pembunuh berupa racun sianida dan melibatkan sekelompok jaringan dan sindikat gelap dengan kode2 rahasia yang hanya dimengerti oleh agen2 rahasia negara.
?
Tapi, nyatanya kasus Jessica ini tidak serumit yang dibayangkan dan dianalisis banyak ahli. Sederhana, mudah diprediksi. Bahkan anak-anak SMA penggemar serial Detektif Conan ciptaan Aoyamo Gosho sedari awal kemunculan kasus Jesicca ini juga sudah lebih akurat dalam memprediksi ujung dari kasus kopi bercampur sianida ini.
?
Setidaknya, begitulah kenyataan yang saat ini tergambar dan mengemuka nyaris terang di hadapan publik. Gambaran yang entah benar atau tidak ingin diciptakan, bahwa kasus ini adalah kejadian pembunuhan berencana yang umum, normal, dan dilakukan juga oleh orang biasa dan ternyata bukan bagian dari Kelompok Berjubah Hitam atau sindikat rahasia lainnya.
?
Kasus ini unik bagi saya. Bukan hanya perihal substansi kasus atau metode pembunuhan yang dilakukan, tapi juga metode pemberitaan yang menurut hemat saya luar biasa dalam mengkonstruksi pola pikir dan emosi publik. Padahal kenyataan yang saat ini tergambar adalah peristiwa kriminal biasa tanpa ledakan2 klimaks yang pada awal kemunculan kasus ini seolah terkonstruksi sempurna oleh media di kepala para penonton dan pembaca.
?
Kasus ini layaknya kasus kriminal biasa, dimana yang menjadi korban adalah orang biasa, dengan dugaan tersangka yang juga berasal dari kalangan biasa, dengan metode pembunuhan yang tidak terlalu luar biasa, dan mungkin nanti juga dengan motif pembunuhan yang juga sederhana tanpa kejutan.
?
Semakin uniknya kasus ini, ketika ternyata pengungkapan terduga tersangka nyatanya tidak lantas membuat kasus ini berakhir pada tahap antiklimaks.
?
Publik diberikan "mainan" baru dengan analisis baru yang justru lahir setelah kursi pesakitan sudah diduduki oleh sang terduga tersangka, apakah terduga tersangka itu memang benar-benar dalang di balik peristiwa yang terjadi atau justru sang tersangka juga merupakan korban lain dari permainan kasus besar yang melibatkan juga banyak orang besar dengan jumlah kerumitan yang juga tidak sedikit.
?
Yang pasti, untuk kesekian kalinya saya menarik kembali tikar, menggelarnya di depan televisi. Kemudian kembali mengikuti episode kasus Jesicca yang tengah memasuki babak terbarunya dengan sekantung pop corn dan cokelat panas.
?
Enggan lagi berekspektasi dan berandai-andai.

  • view 130