Pak Anies (baswedan), Aku Padamu!

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
Pak Anies (baswedan), Aku Padamu!

Awalnya, pandangan saya belum beranjak dari layar komputer di hadapan saya sebelum seorang teman tergesa-gesa menggendong tasnya, berjalan cepat menuju buku kehadiran manual di ruangan tempat saya bekerja.
"Saya mengejar kereta, Bu. Saya mau pulang kampung", teman saya menjelaskan alasan tergesa-gesanya ketika salah satu atasan menanyakannya.
?
Lazim. Sebagian orang tergesa2 untuk kembali ke rumah, memyambut libur panjang. Dan sebagian lainnya, masih tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya sampai hampir larut malam. Tapi tujuannya sama, tergesa-gesa dengan kerinduan berkumpul dengan keluarga di libur panjang.
?
Dilema para pekerja (apalagi kaum urban yang bekerja), hari libur adalah hari yang dirindukan. Hari berkumpulnya semua anggota keluarga, tak masalah dia berkeluarga, belum berkeluarga, atau memilih tidak berkeluarga. Semua mencintai hari libur.
?
Rata2 pekerja indonesia menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja sekitar 7-8 jam, bahkan banyak juga yang jumlah jam kerjanya di atas angka rata-rata tadi. Nah, artinya, sebanyak itulah waktu kita hilang untuk keluarga. Bukan untuk disesali memang, karena bekerja itu pilihan, harus dijalani, dan disyukuri. Tapi bolehlah sedikit dikritisi.
?
Ada hal menarik yang sebenarnya bisa kita kritisi, tntang pertanyaan:
"seberapa besar andil lingkungan dan tempat kita bekerja membentuk kita, menjadi orang tua dan calin orang tua yang tersiapkan untuk menyiapkan generasi masa depan -anak-anak kita?"
?
Sebuah kelaziman ketika sesampainya di rumah selepas bekerja, kita kelelahan, memilih untuk beristirahat, sibuk membereskan urusan rumah tangga dan tetek bengeknya, sampai nyaris lupa rutinitas sekadar bertanya pada anak tentang rutinitasnya hari ini. Kelelahan fisik, terlebih lagi pikiran membuat kelaziman itu rentan terjadi dan seringkali kita sendiri permisif atas kelaziman tsb. Risiko, komitmen. Tapi (lagi-lagi) tetap masih bisa dikritisi.
?
Rutinitas kadangkala membuat kita miskin pengetahuan dan informasi di luar khususnya yang kaitannya di luar bidang dan lingkungan kerja kita. Seringkali mengikis keilmuan kita terkait hal lain di luar bidang pekerjaan, termasuk kaitannya tentang "ilmu keluarga dan kerumah tanggaan", ilmu yang tidak hanya dapat dipelajari melalui praktik dan pengalaman di lapangan, tapi juga akan semakin sempurna jika dipenuhi dengan sumber lain seperti buku, diskusi, dsb. Padahal, untuk membiasakan membaca saja, mata dan tubuh kita protesnya bukan main. Kemudian kita terjebak menjadi orang tua dan calon orang tua yang tidak tersiapkan untuk menyiapkan generasi kita ke depan. Lantas apa yang harus disiapkan lagi?
?
Nah, pernahkah kita berpikir, tempat kita bekerja, pada dasarnya juga memiliki tanggung jawab moral mengisi "kekosongan dan kemiskinan" para pekerjanya dalam hal keterampilan dan pengetahuan dalam berkeluarga, tidak melulu kemampuan klerikal, analisis atau yang sifatnya intelegensia dalam bekerja. Karena sejatinya, manusia itu pekerja juga buat keluarga, amanahnya.
?
Nah, untuk kasus ini, saya berpikir sudah saatnya setiap instansi pekerjaan menyiapkan mekanisme pengembangan keterampilan pegawai tidak hanya terkait bidang pekerjaan dan keterampilan yang mendukung berjalannya organisasi, tapi juga keterampilan dan pengetahuan dalam berkeluarga, misalnya dalam bentuk workshop, bimtek, pelatihan keterampilan ke rumah tanggaan. Karena produktivitas pekerja, sedikit banyak terpengaruh langsung dengan kondisi domestik di rumah tangga pekerja tsb. Anggaplah ini sumbangan pemikiran yang pertama.
?
Yang berikutnua terkait dengan fasilitas kantor yang memadai, kaitannya dengan hak dasar anak dan orang tua. Sebagai orang tua yang bekerja, saya menyambut baik usulan pemerintah untuk menyediakan ruang laktasi di kantor, bukan sekadar ruang kosong, tapi juga ruang laktasi yang berstandar dan memiliki fasilitas memadai bagi setiap ibu menyusui. Karena nutrisi adalah fondasi penting membentuk generasi baru yang cerdas dan sehat walau asi bukanlah satu-satunya sumber nutrisi. Anggap ini rekomendasi ke dua.
?
Yang berikutnya adalah ketersediaan daycare/tempat penitipan anak yang bisa tetap mendekatkan anak dengan orang tuanya yang bekerja. Bukan satu penitipan anak di setiap tempat kerja, tapi bisa dibuatkan dengan sistem wilayah dengan cara berkoordinasi antar kantor dan kantor lain untuk menyediakan daycare terdekat. Dengan begitu, bounding antara orang tua dan anak bisa tetap efektif terbentuk.
?
Sebelum mengakhiri pekerjaan hari ini, sebuah berita di Portal kantor saya bekerja menarik untuk dibaca.
?
"Kemdikbud Rintis Program Pendidikan Keluarga di 5000 lembaga formal dan informal".
?
Dan saya lega. Setidaknya, pucuk pimpinan di tempat saya bekerja peduli terhadap kualitas orang tua yang nyatanya belum benar-benar tersiapkan untuk menyiapkan anak-anaknya. Tinggal poin lain yang baiknya bisa dipenuhi, direncanakan, kemudian di implementasikan secara berkesinambungan.
?
Saya lega. Setidaknya pucuk pimpinan tempat saya bekerja menyadari bahwa ada harga yang harus dibayar oleh setiap lembaga tempat bekerja para orang tua yang meninggalkan anak-anaknya berhari-hari. Bukan sekadar materi, tapi ilmu, kepedulian dan kesempatan untuk memperkaya diri menyiapkan diri menjadi orang tua yang tersiapkan.
?
Saya juga lega, pucuk pimpinan tempat saya bekerja juga mungkin sadar, berapa banyak anak yang kehilangan masa emasnya bersama orang tuanya, atau harus dewasa dengan orang tua yang bercerai, dan mencari jati diri sendirian tanpa pendampingan.
?
Dan saya paham, kenapa Presiden memilih mempertahankan Anda, sampai detik ini.
?
"Aku Padamu, Pak Anies. Sungguh. Silahkan dilanjutkan" :)

  • view 116