VOORIJDER

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
VOORIJDER

Taksi yang saya tumpangi seketika berjalan melambat ketika memasuki daerah Bendungan Hilir pagi tadi, padahal biasanya, melewati jalur cepat daerah ini, arus lalu lintas lancar jaya.
?
Sebuah voorijder berjalan cepat mensterilkan jalur, memberi jalan kepada si penyewa voorijder, "biasanya seorang pejabat", saya membatin sendiri. (Mungkin) kondisi mendesak memaksa "sang pejabat" memilih dikawal dengan voorijder, atau alasan keamanan, atau alasan ketepatan waktu, atau alasan kepentingan pekerjaaan, atau selalu banyak alasan lain bagi setiap kaum pejabat. Atau memang mereka butuh di prioritaskan dibading rakyat jelata semacam saya.
?
Prioritas.
Istilah itu mendadak terlintas dalam kepala saya, membawa saya pada sebuah renungan di pagi hari, di sela-sela melambatnya laju kendaraan yang saya naiki.
?
Saya ingat, pada setiap pergantian tahun, saya membuka sebuah buku catatan kecil yang di dalamnya berisi banyak resolusi setiap tahun yang sudah dan belum saya capai. Setiap awal tahun, saya mencoba menata ulang daftar prioritas hidup saya, rutinitas yang saya yakin banyak dilakukan juga oleh orang lain di luar sana.
?
Seringkali, kita menempatkan sesuatu yang kita anggap prioritas pada sebuah urutan tertentu, yang di setiap levelnya menandakan urgenitas sesuatu tersebut dibandingkan sesuatu yang lain.
?
Bagi sebagian orang, karir dan masa depan adalah prioritas hidup yang ditempatkan pada level kepentingan hidup tertinggi, kemudian urusan lain di level selanjutnya dan pada urusan tertentu, posisinya absurd, sulit didefinisikan tingkat urgensinya bagi kehidupannya.
Setiap detik, dia mencintai pekerjaannya, waktu-waktu tenggelam bersama rutinitas dan pekerjaan. Sampai dia tersadar, bahwa ia sudah terlalu lama bekerja, terlalu asyik dengan pekerjaan, terlalu jatuh cinta dengan karir yang dimiliki, dan seolah telah menggenggam semua mimpi dan cita-cita.
?
Bagi sebagian lain, keluarga adalah prioritas utama. Penting atau tidak urusan lainnya, keluarga adalah pilihan utama. Urusan lain adalah pelengkap dan penggembira. Mereka biasanya merasa begitu bahagia dgn keluarga yang dimilikinya, baginya bekerja hanya pelengkap, dan prinsip hidupnya "semua pekerjaan tidak harus diselesaikan hari ini, tapi keluarga, tidak bisa menunggu tanpa hari ini". Keluarga bagi golongan ini ibaratnya seperti bola kaca, yang kalau dilemparkan, akan pecah berserakan, hancur dan tidak bisa diselamatkan. Maka sekuat tenaga, mereka akan mengoptimalkan waktu yang dimiliki bersama keluarga, walau ancamannya pemotongan tunjangan kinerja karena selalu datang telat tapi pulang tepat waktu, atau cibiran lingkungan kerja bahwa dia tidak bekerja optimal.
?
Bagi sebagian lainnya, Tuhan adalah prioritas utama. Dia enggan menghambakan hal lain selain Tuhannya. Dia merasa haram meng illah kan selain Tuhannya. Prinsip hidupnya: "kalau panggilan atasan harus selalu dipenuhi, kenapa panggilan tuhan hanya untuk solat harus diabaikan, disisihkan sejenak dengam istilah :nanggung sebentar lagi?"
?
Hidup itu bagi setiap orang adalah proses menjalankan sesuatu berdasarkan pada level dan urutan prioritasnya. Tidak ada yang salah dan berhak menyalahkan, tidak ada yang benar dan berhak membenarkan. Ketika ada orang lain yang memilih asyik bekerja tanpa jeda apalagi menghadap tuhannya di sela-sela waktu bekerja, itu adalah pilihan hidupnya. Dia sedang menjalankan prioritas hidupnya. Begitupun dengan seseorang yang memilih meninggalkan pekerjaannya pada saat azan berkumandang (padahal pekerjaannya harus secepatnya dia selesaikan), itu juga pilihan, dan dia juga sedang menjalankan prioritas hidupnya.
?
Kadangkala, kita memang butuh voorijder untuk memuluskan prioritas hidup kita, menjamin semuanya berjalan sesuai urutan urgensinya. Tidak peduli cibiran orang, berapa materi yang harus dikorbankan, dan sering tak sadar menabrak prioritas hidup orang lain. Karena secara alamiah, manusia adalah makhluk selfish dan mudah amnesia.
?
Sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam saya sore ini.
?
"Ibu sudah sampai mana? Kemarin janji kan tidak pulang telat? Memang pekerjaan tidak bisa ditunda besok?"
?
Seketika saya terdiam. Saya merasa kehilangan catatan urutan prioritas hidup saya. Dan harus saya catat kembali dengan lebih rapi.

  • view 113