Jauh Dekat, Rp. 4000,-

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
Jauh Dekat, Rp. 4000,-

Jalan Sudirman sudah mulai beranjak padat ketika saya keluar dari kantor sore ini, dengan Kopaja lusuh yang membawa saya bergerak ke Stasiun Sudirman. "Jauh dekat, Rp. 4000,-", tercetak besar-besar di pintu kopaja lusuh itu, membawa ingatan saya pada sesuatu, beberapa tahun lalu.
?
"Hal apa yang paling dekat dan paling jauh dari hidup kita sebagai seorang manusia?"
Pertanyaan seorang ustad ketika suatu ketika saya mengikuti pesantren kilat di sekolah, berputar lagi di kepala saya.
Seketika maajid tempat kami sanlat hening, tidak ada jawaban.
?
"Yang paling dekat adalah kematian. Dan yang paling jauh adalah masa lalu", sang ustadz memecah kebuntuan dari pertanyaannya sendiri.
?
Kematian, sejauh apapun kita berlari dan menghindar, kematian tidak akan pernah pergi.
?
Perbincangan saya siang ini dengan seorang teman membawa beberapa pertanyaan yang menunggu saya jawab sendiri.
"Pernah berpikir, suatu saat kita meninggal, apa ada orang yang menangisi kita? Merasa kehilangan kita"
Saya terdiam. Sang teman pun ikut terdiam sejenak, meresapi kata-katanya sendiri.
"Saya hanya berharap, ketika saya pergi, mereka tidak hanya menangisi saya. Tapi juga merasa kehilangan saya. Karena itu artinya, hidup saya rahmatan lil alamin."
?
Saya masih terdiam lama. Perbincangan kami tentang kematian membawa saya pada keyakinan bahwa bukan umur panjang yang seharusnya kita minta pada setiap hati pengurangan umur di tanggal kelahiran kita. Tapi umur yang berkah dan bermanfaat untuk orang lain, selama apapun kita hidup.
?
Kalau kematian menjadi yang paling dekat dengan kita, maka masa lalu adalah yang paling jauh dari hidup kita. Mau diharapkan terulang seperti apapun, disesali semacam apapun, masa lalu tidak akan pernah kembali. Bahkan semakin menjauh dari hari ke hari. Maka istilah move on, menjadi sebuah keharusan, karena hidup itu tidak pernah diam di tempat, apalagi berlari mundur.
?
Saya teringat dengan filosofi "kaca spion". Kenapa kaca spion dibuat lebih kecil daripada kaca depan? Karena kita diharuskan lebih banyak melihat ke depan dengan berbagai sudut pandang, dan hanya sesekali melihat ke belakang. Picisan memang, tapi filosofis dan rasional.
?
Kesalahan di masa lalu boleh sesekali di lihat sebagai referensi kehidupan, tapi hidup harus tetap melangkah dan menatap ke depan. Bahkan ada hikmah terbaik dari setiap kejadian terburuk sekalipun.
?
Maka menjadi bermanfaat di masa sekarang adalah keharusan dalam hidup, terlepas seberapa buruk dan gagalnya kita di masa lalu. Karena kematian, tidak pernah memilih siapa yang akan dia datangi, tidak bisa di pause, atau di postpone apalagi di reject kedatangannya.

?

  • view 132