Saya, Anda dan Kutu Beras

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
Saya, Anda dan Kutu Beras

Malam kemarin kami bertiga -saya, suami saya dan anak saya- memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran ayam cepat saji. Pilihan jatuh ke restoran ayam cepat saji, karena restoran padang cepat saji sudah terlalu mainstream untuk suami saya yang makan siangnya lebih banyak ditemani warung nasi padang ketimbang ditemani saya. Sedangkan kedai sate cepat saji terlalu mainstream untuk anak saya yang terlalu banyak melahap makanan khas orang dewasa.
?
Tiga paket ayam, nasi putih dan minuman sudah tersaji di hadapan kami. Ya tiga. Kami memang selalu (harus) memesan tiga porsi makanan. Anak saya, walaupun namanya masih anak dan balita, tapi tidak sebalita porsi makannya yang semakin hari beranjak dewasa dan hampir menyalip porsi makan saya, ibunya.
?
Suapan pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya membawa saya pada sebuah debat kusir dalam kepala saya.
?
Seharusnya dari dulu saya sadar bahwa makanan itu sifatnya komplementer dan substitusi. Makanan yang satu dapat melengkapi sekaligus menggantikan kandungan dalam makanan yang lain. Tidak ada makanan yang sifatnya primer, utama dan tidak bisa tergantikan. Karena nyatanya, saya dan banyak orang terjebak pada sifat nasi yang "diprimerkan", utama, wajib dan sulit tergantikan.
?
Bukan berita baru, indonesia sebagai negara agraris, justru sedang antri menunggu giliran menjadi negara dengan krisis pangan, karena pangan (hampir selalu) diidentikan dengan beras dan nasi. Konon, sawah-sawah di indonesia bukannya sekadar tidak produktif lagi, tapi juga kemampuannya sudah tidak dapat lagi mengakomodir semua mulut dan perut orang Indonesia.
?
Saya ingat dulu, buku-buku sekolah selalu memuat, makanan utama masyarakat timur Indonesia adalah sagu dan jagung, membuat saya penasaran seperti apa bentuk sagu yang menjadi makanan pokok itu. Tapi kebijakan membuat "budaya makan sagu" tidak lagi memasyarakat seperti dulu. Sagu sudah tergantikan dengan nasi. Apalagi singkong dan jagung yang banyak dipilih sebagai cemilan dan bukan lagi makanan utama. Sagu di Papua misalnya, lebih banyak dijadikan hidangan khas acara adat atau menjamu tamu dari luar papua. Dari kajian budaya, sejujurnya saya tidak paham tentang fenomena ini. Tapi secara psikologis perkembangan anak, mungkin sedikit banyak saya bisa memahami fenomena ini.
?
Saya pribadi, mengakui belum bisa memberikan pembiasaan kepada anak saya terkait dengan makanan utama selain nasi. Roti, gandum, sereal, kentang dan sebagainya belum dijadikan sebagai substitusi dan komplementer makanan yang optimal dalam pola pemberian asupan kepaada anak saya. Proporsi pemberiannya juga tidak berimbang menyebabkan kedudukan nasi sebagai makanan utama tidak dapat tergantikan. Padahal, kandungan beberapa makanan substitusi nasi tersebut jauh lebih baik dari nasi. Makanan selain nasi hanya dianggap pelengkap dan sifatnya tidak mengenyangkan.
?
Pola asupan makanan yang saya berikan memang masih jauh dari sempurna. Roti pun anak saya tidak begitu suka, apalagi kentang, sereal, dan sejenisnya. Ketergantungan kami akan nasi masih tinggi. Bisa dibayangkan, bila setengah dari keluarga indonesia seperti kami, bangaimana indonesia tidak menjadi negara agraris yang krisis beras.
?
Pada beberapa kasus, saya dan (mungkin banyak) orang indonesia merasa, nasi memang makanan terbaik. Ketika seorang anak kakak ipar saya sejak kecil tidak menyukai nasi dan lebih memilih roti, sebisa mungkin kami mengarahkan anak tersebut untuk tetap dapat mencoba merasakan makan nasi, walaupun perut dan mulutnya tetap menolak. Cerita yang sama ketika dulu seorang teman saya tidak menyukai nasi. Saya dan bebetapa teman menyebutnya aneh dan merepotkan.
?
Fenomena krisis beras mengajarkan saya khususnya (dan orang-orang yang masih berpikiran seperti saya) untuk mulai mengubah cara pandang dan pola pemberian asupan kepada anak-anak saya berikutnya. Prinsip bisnis restoran ayam cepat saji seharusnya dapat mejadi salah satu inspirasi. Restoran ayam cepat saji selalu menawarkan nasi, burger, kentang, spagheti dan beberapa pilihan makanan mengenyangkan berkandungan karbohidrat. Tujuannya, variasi pilihan konsumen akan karbohidrat dan tidak melulu pada nasi. Walau kenyataannya, masih saja banyak orang yang memilih membeli paket nasi ayam dengan kentang goreng dan "appetizer" berupa burger atau spaghetti.
?
"Belum makan nasi belum kenyang". Prinsip ini seringkali masih dipegang saya (dan saya yakin banyak orang indonesia). Sehingga, baik secara sadar atau tidak, saya atau anda "sudah berbuat dzolim" pada si kutu beras, karena tidak sedikitpun membiarkan kutu beras ikut menikmati beras yang kita punya, karena belum juga si kutu beras makan, beras sudah habis oleh saya dan anda makan.
?
Tiba-tiba, kejadian bulan ramadhan kemarin teringat di kepala saya. Ketika hampir lebih dari setengah hari di bulan ramadhan kemarin, saya dan suami memilih takjil berupa lontong dan gorengan, dengan dilanjutkan makanan utama berupa nasi dan lauk pauknya. Dan malam kemarin, dengan lahapnya anak saya menghabiskan satu porsi nasi ayamnya tanpa bersisa.

  • view 118