Personal Branding

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Personal Branding

Instagram saya ramai sebulan belakangan ini. Akun mantan Menteri yang sejak setahun lalu saya follow, mendadak ramai, rajin update dan berbagi gambar, lengkap dengan caption ala-ala selebgram. Foto-foto artistik yang diambil dari beragam momen dan sudut pandang, seperti tengah memangkas jarak antara saya serta hampir 1 juta followers dengan keseharian Sang Mantan Menteri pasca "penurunan pangkatnya" kembali menjadi rakyat biasa, sama-sama rakyat jelata.

Sang Mantan Menteri dalam kacamata saya, layaknya sedang membuka lebar-lebar jendela kehidupannya, dan membiarkan kami, dan dunia, ikut merasakan kesehariannya saat ini, keluarga, idealisme, cita-cita, harapan, dan semua yang ada di dalam hati dan kepalanya dengan lebih dekat, akrab, dan lantas membiarkan kami membangun persepsi sendiri-sendiri.

Di timeline instagram saya, postingan Sang Mantan Menteri, "berkejar-kejaran" dengan postingan terbaru toko-toko online yang saya follow (), beberapa public figure (yang memang sudah lebih dulu besar karena dunia maya), dan Sang Mantan Ibu Negara. Yang terakhir ini, eksistensinya di dunia maya, nyatanya jauh lebih maju dibandingkan juniornya -Sang Mantan Menteri. Hobinya di dunia fotografi, sudah lebih dulu membawanya terkenal di luar bidang pemerintahan, melalui objek foto dengan sudut pandang "manis" dan humanis.

Caption foto yang dilengkapinya dengan versi Bahasa dan Inggris pun menegaskan bahwa, Sang Mantan Ibu Negara tak sekadar nyaman dengan hobinya, tapi juga mempersilahkan dunia belajar dari kesehariannya, dunia yang dilihat oleh mata kameranya -The World, Through My Eyes- mengutip caption instagram milik Nicholas Saputra.

Instagram layaknya Personal Branding, saya menyebutnya demikian, meminjam istilah marketing dan komunikasi politik, yang banyak berkorelasi dengan personal packaging dan upaya untuk "how to sell your self".
Personal branding merupakan intangible asset yang diyakini potensial di masa yang akan datang, apalagi bagi orang-orang yang memang punya harapan menjadi "besar" dan "membesarkan" mimpi-mimpinya menjadi nyata bagi khalayak. Bagi banyak orang, personal branding adalah upaya membentuk diri menjadi "remarkable people" -orang unik, luar biasa dan berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya.

Setiap orang sejatinya berhak menciptakan "personal branding" atas dirinya sendiri, pun sama halnya publik berhak menilai "branding" yang terbentuk tersebut.

Bagi orang yang berpikiran baik misalnya, personal branding adalah upaya terbaik untuk menjadi orang baik dan media memasyarakatkan banyak hal baik.

Sedangkan bagi orang yang berpikiran negatif, personal branding adalah pencitraan yang penuh intrik dan manipulatif.

Dan bagi orang yang berpikir rasional, personal branding adalah upaya menanamkan integritas dan karakter dari brand itu ke dalam diri seseorang.

Maka yang kemudian harus dipastikan adalah, bahwa personal branding harus muncul dari hati yang paling dalam, tulus, menjadi diri sendiri dan apa adanya, dengan memberikan bukti-bukti portfolio tentang branding yang akan kita bangun dan capai nantinya.

Bukan layaknya Selebgram, yang sekadar pandai bergaya di depan kamera, dengan barang-barang endorse titipan sponsor dengan tujuan kepentingan ekonomi semata. Pun sama halnya dengan personal branding yang diendorse label-label politik, dengan kepentingan kekuasaan semata.

Tidak berbeda.


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Yap, setiap hal mempunyai makna yang berbeda tergantung sudut pandang .. Saya menilai personal branding sebagai penanaman jati diri dan juga tujuan. Btw, follback dong kakakk *Kayak instagram wkwk