Sekolah Lagi

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 September 2016
Sekolah Lagi

Seorang teman saya memutuskan pindah antar unit kerja, setelah hampir 6 tahun bekerja di tempat yang sama. Kami bertemu dan berbincang lama, yang kemudian teman saya mengungkapkan alasan dibalik keputusannya pindah. Dirinya merasa tidak berkembang, bosan, dan mulai canggung dengan rutinitas dan zona nyamannya. Ada hal lain yang ingin dikejarnya di luar sana, di luar tempatnya bekerja selama 6 tahun belakangan ini.

"Saya mau sekolah", ungkapnya ketika itu. Dan sejujurnya, saya belum paham ketika itu karena tempat kami bekerja saat ini, pun sama halnya dengan atasan pengambil kebijakan di tempat kami bekerja, membuka kesempatan yang teramat luas bagi kami yang ingin bersekolah lagi ke jenjang lebih tinggi. Meningkatkan skill, pengetahuan, dan pola pikir dan jaringan kehidupan, maka kesempatan bersekolah lagi, harusnya bukan menjadi alasan teman saya memilih untuk pindah, meninggalkan karir dan jaringan pekerjaan yang selama ini dibangunnya di tempat kami bekerja bersama.

"Buat apa saya bersekolah di sini, kalau saya ga punya masa depan dengan pengembangan keilmuan dan passion saya dalam bekerja? Sekolah bisa di mana saja", argumennya kemudian, dan akhirnya berhasil menjawab semua prasangka negatif yang sempat terlintas tentangnya.

Teman saya yang lain, sudah seminggu ini sibuk menyiapkan berkas-berkas kepegawaian dan riwayat pendidikannya ketika sekolah melalui proses pemindaian berkas digital. Tawaran beasiswa dari sebuah lembaga non departmen, sudah diincarnya beberapa tahun ke belakang. Essay sepanjang 500 kata juga sudah dia persiapkan, kisi-kisi pertanyaan wawancara yang banyak beredar di internet juva sudah banyak dikumpulkannya, dilatihnya berulang-ulang, dan disimulasikan seolah-olah tengah berada di ruangan seleksi wawancara berlangsung. Jurusan dan universitas yang diambilnya juga unik, tidak linear dengan background pendidikan sebelumnya.

"yang penting saingan (beasiswa) ga banyak, saya lulus, kuliah, dan sejenak rehat dari kantor", argumennya ketika itu. Saya hanya tersenyum, mengangguk, tanpa banyak berkomentar.

Teman saya yang terakhir, punya cerita sendiri. Baru saja ia mengundurkan diri dari program kursus bahasa inggris yang diberikan padanya, dengan alasan selain sulitnya membagi waktu belajar dengan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda dan mengambil waktu kursusnya, juga karena dia merasa bahwa kursus itu tidak tepat sasaran diberikan kepadanya,
"Kursus itu, seharusnya buat teman-teman yang mau sekolah lagi. Butuh score yang tinggi. Saya buat apa? Saya belum mau sekolah lagi", katanya ketika itu. Baginya, belajar bukan harus dengan bersekolah, karena pekerjaannya selama ini, sudah cukup banyak memberikannya ilmu dan keterampilan baru dalam hidup, walau tak pernah ada gelar atas hal tersebut.
Dan akhir tahun ini, dia berjanji akan mengembalikan biaya kursus yang telah kantor bayarkan untuknya, sebagai pengembalian ganti rugi negara. Dan lagi, saya hanya mengangguk tanpa banyak berkomentar.

Sekolah, definisinya ternyata berbeda bagi setiap orang, yang bukan melulu perihal belajar dalam sebuah sistem pendidikan yang bersifat formal, taat asas, di dalam kelas, dsn diatur dalam jangka waktu tertentu.

Bagi teman saya yang pertama misalnya, sekolah adalah media pencapaian dan kepuasan diri akan pengembangan banyak hal dalam dirinya : ilmu, keterampilan, peluang dan cita-cita karir masa depan. Berbeda halnya dengan teman saya yang kedua, baginya sekolah bersifat universal, definisinya lebih luas dan bebas ditafsirkan. Sekolah hanya perihal salah satu media mendapatkan ilmu, bertemu orang baru, menghadapi tentangan dan tugas-tugas baru, tapi tidak melulu efektif meningkatkan skill untuk menghadapi dan menjalani hidup.

Dan bagi teman ketiga, sekolah adalah media keluar sejenak dari rutinitas, menyenangkan, menghilangkan lelah. Bertemu lingkungan dan orang-orang baru dalam kultur masyarakat akademisi, adalah upaya memupuk kembali semangat bekerja yang mulai menurun karena rutinitas dan tugas kantor yang berulang.

Pada setiap kepala, ada pandangan masing-masing dalam menilai apa dan untuk apa itu sekolah, urgensi dan manfaat sekolah bagi kehidupan. Serta perjuangan untuk sekadar kembali bersekolah, atau memilih sekolah yang tepat dan sesuai dengan kata hatinya.

Sekolah untuk kesekian kalinya, memiliki tantangan berbeda dengan sekolah untuk pertama kalinya. Pun sama halnya dengan harapan yang ditumbuhkan ketika memutuskan untuk bersekolah, juga jauh berbeda dengan harapan yang dibangun ketika sekolah dilakukan untuk pertama kalinya yang cenderung lurus, ideal dan apa adanya. Dan hak setiap orang terdidik untuk memilih sendiri harapannya ketika memutuskan untuk bersekolah lagi: untuk keilmuan, jabatan, pangkat, nama baik atau pelarian dari keseharian. Asal jangan salah pilih, karena orang terdidik, sejatinya tidak pernah memperalat pendidikan untuk tujuan yang tidak baik.

 

 

 

Gambar diambil dari : http://kilascirebon.com/tag/sekolah/

  • view 214