Asisten Rumah Tangga

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Asisten Rumah Tangga

Teman sekantor di sebelah meja saya uring-uringan. Penyakit "pascalebarannya", kambuh, layaknya penyakit kronis yang bisa kapan saja mendadak terasa nyeri. Asisten Rumah Tangganya (ART), mendadak tidak kembali bekerja ke rumahnya pasca libur Lebaran kemarin. Alasannya menarik, ART yang bekerja dirumah Mbak ART teman saya itu, juga memilih untuk tidak kembali bekerja di rumahnya, sehingga anak Si Mbak ART teman saya tersebut, tidak ada yang menunggui. Saya terkikik mendengar cerita panjang lebar teman saya yang sedikit memusingkan.

Teman seberang meja saya berbeda lagi. Dari banyak cerita (yang diulang-ulangnya) di sela-sela waktu bekerja, agaknya dia menjadi salah satu wanita karir yang beruntung, karena tidak hanya memiliki Mbak layaknya ART di rumahnya, tapi juga sekaligus guru privat bagi anak semata wayangnya. Sang ART tidak hanya bertugas merapihkan rumah, memasak dan menjalankan pekerjaan rumah tangga lain, tapi juga mengasuh anak sekaligus tak jarang menemani sang anak belajar selepas sekolah. Bahkan, Si Mbak ART, sudah layaknya ibu bagi anaknya, karena kedekatan sang anak dengan Mbak ART nya, nyaris melebihi kedekatan dengan teman saya, ibu kandungnya. Untuk kasus ini, saya juga terkikik, mengikuti setiap cerita layaknya film televisi berjudul "Mbakku Sayang, Majikanku Malang".

Dan saya sendiri, memilih untuk tidak menggunakan jasa ART sejak hampir 3 tahun yang lalu. Bukan karena saya belagak ingin menjadi wanita super, sempurna -dengan peran ganda wanita pekerja dan ibu rumah tangga, tapi karena inilah adanya, pilihan saya hanya satu -hidup tanpa ART, karena belum ada ART yang kembali mau bekerja di rumah saya. Menyedihkan bagi sebagian orang, lelah bagi saya. Bukan lelah karena beban pekerjaan ganda yang harus setiap hari dijalankan, tapi lelah karena sulitnya mencari Mbak-mbak ART yang bersedia kembali bekerja di rumah saya.

Konon, dahulu, daerah-daerah wilayah Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat dan sekitarnya adalah wilayah pemasok para ART yang cukup berkualitas -rajin, jujur, istiqomah dalam belajar hal-hal baru terkait pekerjaan rumah yang dibebankan kepadanya, juga istiqomah untuk kembali bekerja ke rumah-rumah majikannya selepas libur Hari Raya.

Tapi waktu mengubah banyak hal, termasuk pola pikir dan pola hidup. Mencari Mbak yang bersedia bekerja sebagai ART, nyatanya tidak lagi semudah mengajak anak kita berangkat sekolah di pagi hari dengan (terkadang) iming-iming membelikan mainan di sore hari. Butuh perjuangan, belum lagi pertimbangan yang semakin merepotkan proses pemilihan ART yang berkualitas dan terpercaya sesuai kata hati kita sebagai ibu yang bekerja sepanjang hari yang butuh ketenangan meninggalkan suami, anak, rumah dan seisinya.

Kenyataan yang menunjukan bahwa trend bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga yang saat ini mulai menurun karena labeling lingkungan akan jenis pekerjaan seorang ART yang (mungkin) dinilai kurang terhormat dan membanggakan, agaknya menjadi salah satu alasan sulitnya mencari ART saat ini.

Membaca kenyataan yang saya alami dalam mencari Mbak ART yang bersedia bekerja di rumah saya, bagi saya pribadi sebenarnya memunculkan dua hal yang saling bertentangan. Di satu sisi, saya merasa kerepotan dengan sulitnya mencari Mbak ART yang bersedia bekerja bahkan dengan upah yang (lumayan) di atas rata-rata. Dan di sisi lain, kenyataan sulitnya mencari orang yang bersedia menjadi ART di Perkotaan adalah salah satu dampak positif dari program-program pemerintah (bersifat padat karya) yang menyasar pada komunitas pedesaan layaknya PNPM Mandiri Pedesaan, Program Pembangunan Infrastruktur Desa, atau program-program pembangunan lain yang berbasis potensi dan kearifan lokal. Saya bersyukur, berangsur-angsur para Mbak-mbak ART di desa-desa itu, tidak lagi memilih menggantungkan mimpinya hanya sebagai ART -bekerja ke luar desanya, dengan seringkali meninggalkan keluarganya, tapi dapat lebih berdaya di lingkungan tempat mereka tinggal, dengan harapan terbentuk kemandirian dengan memanfaatkan potensi daerah yang dimilikinya.

Dan saya tidak sendiri. Ada banyak wanita yang juga hidup layaknya menjalankan Teori Evolusi Darwin di luar sana. Di mana tantangan alam yang dihadapi, semakin hari seiring berjalannya waktu akan membentuk sistem pertahanan diri kita masing2. Pun sejatinya, tidak semua wanita (bersedia) memilih berperan ganda, menjadi sempurna dengan dua status kehidupannya -wanita bekerja dan ibu rumah tangga. Sama halnya tidak setiap wanita (bersedia) menjadi Asisten Rumah Tangga. Ada daftar prioritas hidup pada setiap wanita layaknya pria, tujuan dalam bekerja, pemilihan jenis bidang kerja, reward yang akan didapatkan dengan bekerja, modal sosial yang akan terbentuk melalui ekosistem bekerja, dan lain-lainnya.

Dan saya masih berharap, masih ada satu Mbak ART yang bersedia bekerja di rumah saya, dengan tetap memegang teguh kemandiriannya sebagai wanita pekerja sekaligus tulang punggung kemajuan desanya.

Semoga masih ada.

 

Gambar diambil dari : oketekno.com

  • view 224

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Iya bener nih..sekarang informasi dan teknologi sudah mendunia.. merubah zaman termasuk gaya hidup..mungkin itu sebabnya banyak yang segan menjadi ART. Tapi disisi lain sekarang juga mulai banyak tempat-tempat penitipan anak yang sampai sore.

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    1 tahun yang lalu.
    Belum baca sih. Cuman mau nanya itu serius ada sinetron Asisten Rumah Tangga? Lama gak nonton sinetron nih. Jadi kangen? siapa yang main? Nikita Willy?

    • Lihat 1 Respon