Reshuffle (Tulisan Lama yang Telat Saya Posting)

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Reshuffle (Tulisan Lama yang Telat Saya Posting)

Driver ojek online yang sore ini saya tumpangi bertanya.
"Menterinya di ganti ya, Mbak?".
Saya mengiyakan. Deru kendaraan di sekeliling saya memaksa saya tidak banyak menjawab.
"Kenapa Mbak?", pertanyaannya belum juga selesai ternyata.
"Menurut saya dia bagus, kok. Kok diganti ya? Padahal karena dia, anak saya kemarin yang baru masuk SMA, ga ada MOS (Masa Orientasi Siswa), jadi ga repot nyari barang-barang ga jelas".
Saya terdiam mendengarkan keluh kesah sang driver di sela deru kendaraan yang semakin ramai. Saya membatin, sang driver ternyata "barisan sakit hati" atas kenyataan Reshuffle kabinet yang hari ini ramai di banyak media dan perbincangan.

Hari ini, sejumlah Menteri lengser, beberapa dirotasi menempati jabatan baru, sebagian lain, wajah-wajah baru yang belum populer di lingkungan kementerian, dan beberapa pemain lama, yang kembali pulang ke rumahnya yang dulu. Di lingkungan terdekat saya bekerja, tanggapan yang muncul beragam, (yang boleh kalau bisa diperkirakan), sebagian besar tidak menyangka.
Pun mungkin sama halnya bagi sebagian publik di luar sana. Pesan singkat yang masuk ke hp saya dari beberapa teman bernada senada dengan pertanyaan sang driver tadi.
Dan ah, "remah-remah" kecil seperti saya, agaknya belum sepenuhnya mengerti jalan fikir sekelas Presiden yang kemudian diturunkan dalam kebijakan Reshuffle tadi siang.

Tapi yang jelas, ada beberapa hal yang saya pahami atas kejadian hari ini.
Pertama, memimpin adalah seni mengelaborasi intelektual, sifat kepantasan dan kemampuan mengelola banyak faktor -manusia, budaya, iklim bekerja.
Atasan saya pernah meyakinkan, bahwa organisasi ini (dan banyak organisasi lain), tidak pernah membutuhkan seorang pemimpin yang sekadar cerdas secara intelektual, tapi minim kepekaan terhadap perubahan dan dinamika ekosistem yang dipimpinnya. Orang-orang cerdas sudah cukup berhamburan, tapi orang-orang yang dilahirkan dan mendidik dirinya sendiri untuk peka terhadap lingkungan di dalam dan di luar dirinya, adalah kelangkaan.

Kedua, jika perubahan adalah tuntutan, maka proses berubah itu adalah nyawanya. Suka tidak suka, setuju atau tidak, saya pribadi harus mengakui bahwa, bangsa ini masih nyaman dengan perubahan-perubahan yang bersifat evolusi, bertahap dan persuasif. Banyak perubahan yang bersifat revolusioner, nyatanya tidak malah melahirkan kesadaran akan pentingnya perubahan tersebut. Dan berhenti pada kesan radikal, emosional, tanpa mempertimbangkan keseimbangan dan iklim kerja di tingkat akar rumput. Apalagi kemudian (seperti) menutup buku, melupakan mimpi dan cita-cita yang diwariskan oleh para pendahulu. Kemudian, membeli buku baru, mencatat ulang mimpi dan cita-cita  lain yang juga baru.

Ketiga, menjadi populer itu seringkali menemukan jalannya masing-masing. Ada orang yang populer atas apa yang dilakukannya, dikatakannya. Seringkali juga seseorang populer karena latar belakangnya dan dukungan pihak-pihak di sekelilingnya. Pun sama halnya dengan orang yang populer karena kebijakannya -dimana bentuk dari ejawantahan apa yang ada di dalam hati dna kepalanya, bahkan ada juga yang populer karena citra baik yang selama ini mencoba digambarkannya pada publik. Semua orang bwrhak menjadi populer, tapi sekali lagi, bahkan kebijakan (yang dianggap) populer pun tidak lantas menjamin keberterimaan lingkungan atas dirinya, selama ia bertahan untuk utopis, tidak populis.

Dan terakhir, mengoptimalkan potensi internal menjadi lebih berdaya dan memberikan posisi strategis dalam setiap proses perubahan yang dijalani adalah lebih pada memberikan kepercayaan dan keyakinan penuh pada internal, untuk menjadi lebih baik, demi kebaikan organisasi yang selama ini menjadi "rumah" dan "orang tua" bagi mereka. Bukan (melulu) memberikan porsi tidak seimbang antara internal dna eksternal organisasi.
Layaknya seorang ibu, yang memberikan maaf kepada anaknya yang pernah melakukan kesalahan, dengan cara dan jalan yang anak itu yakini dan gemari. Dan sang ibu tidak membiarkan dirinya dibisiki oleh orang lain di luar rumahnya, akan hukuman dan langkah perbaikan yang seharusnya diambil sang ibu pada anaknya. yang penting, si anak berubah lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahannya di kemudian hari, dengan caranya sendiri.

Berperan penuh dalam pendidikan adalah kewajiban penuh orang terdidik -mengutip pidato perpisahan Sang Menteri sore ini.
Dan bagi saya pribadi, berperan penting dalam perubahan, adalah kewajiban penuh orang-orang yang mau berubah.
Berubah menjadi lebih baik. Bukan hanya baik dari kaca mata eksternal, tapi juga bagi internal organisasi. Karena organisasi ini, bagian penting dalam kemajuan bangsa.

Selamat "menikmati" Menteri baru. Selamat bekerja kembali!

 

Senayan, 27 Juli 2016

***Tulisan lama yang telat saya Posting :))

 

Gambar diambil dari : www.ngablak.com

  • view 170