WNA

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
WNA

Sebelum gaduh soal status kewarganegaraan Sang Mantan Menteri, Indonesia sebenarnya sudah lama menghadapi masalah status kewarganegaraan yang dimiliki penduduknya, yang nyatanya, walau dalam skala jumlah marginal dibandingkan warga pribumi, namun belakangan (semakin) tidak lagi termarginalisasi dengan status kewarganegaraannya -bahkan tak jarang memiliki posisi mayor dalam perkembangan kehidupan sehari-hari bangsa kita.

Lihat saja wajah pertelevisian kita, wajah-wajah blasteran -campuran pribumi dan luar negeri, arahnya mulai mendominasi, dan nyatanya memiliki "tempat lebih" di industri hiburan tanah air. Selebritis berwajah indo seolah lebih mudah menarik perhatian para konsumen media dan hiburan, yang seringkali hanya berbekal kemampuan "mendadak artis", dengan wajah campuran nan aduhai, seketika menjadi lebih cepat tenar "mendadak selebritis". Berbeda dengan sebagian wajah Indonesia -pribumi dengan sawo matangnya, yang tak jarang harus menempuh perjalanan panjang menjadi tenar, keluar masuk ajang pencarian bakat, manajemen artis, casting, bahkan tak jarang rela bertahun-tahun masuk TV hanya sebagai objek bully dan hinaan. Kemudian baru sedikit dikenal, harus dikritik penontonnya karena dinilai tidak beretika dan berotak kosong.

Pun hampir sama halnya dengan profesi lain (yang tidak disangka) berkaitan erat dengan hingar bingar pertelevisian kita. Olahragawan misalnya kemudian. Saya tidak begitu paham tentang sepak bola, selain dari informasi suami saya yang gemar sepak bola. Tapi saya dan banyak orang pasti pernah tau para pesepakbola "selebritis", yang lama dibesarkan media justru dari dunia hiburan dan bukan dunia olahragawan. Sepak terjang mereka di dunia keartisan seringnya terdongkrak dengan karir mereka membangun "simbiosis mutualisme" dengan orang2 yang lebih dulu dikatakan sebagai "artis dan selebritis". Karir mereka di dunia sepak bola, bak tersepak angin, sepoi-sepoi, tenang tanpa eskalasi yang berarti.

Untuk diakui, produk luar seringkali lebih menarik bagi Bangsa ini, sehingga tak jarang dinilai lebih dibandingkan wajah negeri sendiri. Kalau nilai positif seringkali mendominasi penilaian publik terhadap hal2 berbau luar negeri sehingga dinilai lebih unggul dari apa yang bangsa ini miliki secara alami, maka sayangnya bangsa ini seringkali lebih senang mengkritisi "produk2 dalam negeri", yang sebenarnya tidak terlalu penting dan mendasar untuk dikritisi.

Banyak hal sebenarnya yang menurut saya menunjukan bahwa bangsa ini belum sepenuhnya dapat menerima potensi lokal yang dimilikinya atau berbesar hati belajar atas nilai positif bangsa lain untuk tetap mempertahankan keunggulan eksistensinya di rumah sendiri, Indonesia.
Seorang teman saya merasa lebih bangga menghabiskan uang gajinya untuk membeli barang-barang bermerk luar negeri (yang membuat bingung bahkan hanya untuk membaca merknya), dan diyakininya efektif menaikkan prestisenya di lingkungan sosialnya.

Pun sama halnya dengan orang-orang yang lebih memilih pendidikan di luar negeri karena dorongan gengsi dengan tanpa mempertimbangkan bahwa kualitas universitas yang dipilihnya, entah dan belum teruji, padahal banyak universitas lain di Indonesia yang kualitasnya jauh lebih baik dengan mengadopsi nilai-nilai baik universitas di luar negeri. yang penting luar negeri, karena luar negeri lebih dipertimbangkan dibandingkan pribumi.

Tidak semua Warga Negara Asing tidak mencintai Indonesia, tapi sayangnya tidak semua Warga Negara Indonesia juga sepenuh hati mencintai negaranya. Karena bangsa ini seringkali memarginalkan sendiri dirinya di rumahnya sendiri, rumah yang seharusnya dicintai dan dihargai untuk kemudian didukung dengan kontribusi yang produktif, berkualitas dan sejajar dengan kemajuan bangsa lain.
Dan melupakan untuk tetap menjadi Tuan di rumahnya sendiri. Tuan yang dihargai dan disegani tamu-tamunya.

 

 

Gambar diambil dari : www.republika.co.id

  • view 118