Mukidi dan Doyok Poskota

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Mukidi dan Doyok Poskota

Bagi saya, menyaksikan fenomena "Mukidi" layaknya membaca rubrik "Doyok" yang beberapa tahun ke belakang tidak kalah tenar melalui Poskotanya, "Koran Kuning" yang identik dengan berita kriminal dan menyasar golongan pembaca menengah ke bawah.

Kalau Doyok ketika itu lebih tenar di kalangan konsumen media dari kelas "lampu merah" dan hanya mendapatkan porsi rubrik yang terbatas di bagian lembar/halaman media massa, maka Mukidi agaknya lebih beruntung karena berada pada segmen lebih elit dan bergengsi melalui komunitas menengah ke atas dan memviral dalam forum dan ruang komunikasi yang menguasai dunia adidaya -dunia maya.

Doyok dan Mukidi, keduanya menarik terlepas dari jaman apa mereka hidup dan berkembang di tengah tatanan masyarakat yang kritis terhadap kenyataan -kenyataan hidup yang seringkali jauh dari espektasi, harapan akan kondisi ideal dan semestinya. Keduanya (Doyok dan Mukidi) sebagai tokoh yang sebenarnya fiktif, menjadi media yang dinilai nyata dan efektif menyentil banyak pihak agar merasa "miris", bahkan sakit hati dan kemudian terbangun kesadarannya akan banyak hal yang belum sesuai dan dilematis, tentang hidup dan kehidupan, pemerintah dan pemerintahan, kebiasaan dan keseharian, serta banyak isu lain yang selama ini belum direspon secara benar dan seharusnya.

Jauh sebelum Mukidi menjadi viral, Doyok sudah lebih dulu lahir dan mengajarkan bangsa ini untuk berani berpikir "out of the box", kritis dan gemar mengkritisi. Dan ketika Mukidi lahir di era keterbukaan, sikap kritis bangsa ini ikut menguat dalam upaya penyadaran pihak-pihak yang dinilai memiliki andil dan layak untuk dikritisi, bahwa ada banyak hal yang harus diperbaiki dari kenyataan bangsa ini.

Doyok dan Mukidi mengajarkan kita bahwa ada banyak media yang nyatanya dapat menjadi ruang penyampaian gagasan perubahan dan pesan-pesan perbaikan sebuah tatanan kehidupan agar menjadi lebih baik, dengan kemampuan delivery yang menarik, tidak melulu radikal, lugas dan reaktif.

Doyok dan Mukidi, sejatinya memberikan kenyataan bahwa ada banyak hal yang lucu dan aneh di negeri ini sehingga layak ditertawakan dan diparodikan dalam sosok Doyok dan Mukidi tadi. Kelucuan-kelucuan yang menunggu solusi, perubahan dan perbaikan, dari pihak-pihak yang dinilai punya andil dan kekuasaan agar menjadi lebih peka menyingkapi harapan dan masa depan masyarakat.

Karena dengan begitu, kelak anak-anak dan generasi kita ke depan, tidak perlu lagi menemukan fenomena "Doyok dan Mukidi", atau teman-teman lain sejenisnya demi hanya untuk menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini masih butuh banyak perbaikan dan kemajuan.

 

 

 

gambar diambil dari : https://www.nandaabiz.com/dari-mana-asalnya-cerita-mukidi/