LABIRIN

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
LABIRIN

Alkisah ada seorang manusia berkepala banteng yang dalam mitologi Yunani bernama Minotaur, yang dikutuk oleh dewa dan bertahun tahun lamanya disembunyikan pada sebuah labirin besar dan berliku. Di setiap tahun, Minotaur meminta korban 7 orang manusia baik perempuan maupun laki2 untuk kemudian dibiarkan di dalam labirin, dan seluruhnya tewas ditangan Minotaur karena terjebak tidak dapat menemukan jalan keluar dari labirin.
?
Suatu ketika, munculah Thesus -seorang pahlawan Yunani yang menyamar menjadi salah satu korban dan berhasil masuk ke dalam labirin, dan akhirnya dapat menbunuh Minotaur. Thesus juga berhasil keluar kembali dari labirin berkat uluran benang yang diurainya ketika memasuki labirin, membuat jejak yang kemudian menuntunnya keluar dari jebakan labirin raksasa tersebut.
?
Labirin identik dengan lika liku, kerumitan, dan tanpa harapan akan bermuara kemana jalan keluarnya. Berkaca pada kasus mitologi yunani tadi, hampir semua orang yang terjebak di dalam labirin, tersesat, dan bahkan habis hidupnya di dalam labirin.
?
Begitupun dengan hidup. Seringkali kita merasa terjebak pada sebuah labirin, kerumitan yang entah sulit ditelusuri jalan keluarnya. Memori kita seperti dihapus untuk menelusuri atau sekadar menerka nerka ke arah mana kita harus melangkah demi mendapatkan solusi atas kerumitan hidup tersebut.
?
Ibarat labirin raksasa, semakin kita berusaha melangkah mencari jalan keluar, semakin kita sadari bahwa kita semakin tersesat di dalam kerumitan masalah tersebut. Dan kita sendirian, tanpa ada orang lain yang menunjukan jalan atau setidaknya memberi masukan arahan kemana seharusnya kita melangkah. Semakin ditapaki jalannya, semakin tersesat jauh.
?
Maka cara Thesus -Sang Pahlawan Yunani, mungkin bolehlah kita adaptasi.
?
Pada setiap langkah, sudah selayaknya kita membuat jejak, peta jalan yang akan dan telah kita lalui, dengan apapun bentuk dan medianya. Karena memori dalam kepala kita, terbatas kemampuannya. Sedangkan kemampuan hati kita, juga terbatas untuk tetap bersabar menghadapi kerumitan hidup yang semakin hari terasa semakin meningkat.
?
Pada setiap keputusan hidup, ada peta jalan yang sudah kita siapkan terlebih dulu sebelum kita putuskan untuk mengambil langkah demi langkah ke depan. Tentang apa tujuan hidup kita, apa visi kita, dan mau ke mana nanti kita. Ibarat benang yang dijadikan penunjuk arah Thesus, kita juga wajib mengukur atau setidaknya memprediksi panjang benang yang kita butuhkan selama menapaki perjalanan hidup ke depan. Seberapa jauh kemampuan kita dan kapabilitas fisik serta ketahanan batin kita menjalani hidup beserta dengan kerumitan yang akan kita temui dalam perjalanan.
?
Manusia seringkali terjebak dalam labirin hidupnya sendiri, memaksa mencari jalan keluarnya sendiri, dan dia lupa padahal ada sebuah menara tinggi yang dapat melihat labirin yang kita jalani dari atas. Dan menara itu adalah orang lain. Kita butuh orang lain untuk memberikan masukan arahan kemana kita harus melangkah ketika sudah terjebak jauh dalam kerumitan yang seperti tidak ada ujungnya. Walau sejatinya, kita sendiri yang menjalani jalan itu, dan memiliki otoritas penuh atas diri kita sendiri, mau mengikuti arahan dan masukan orang lain, atau bertahan dengan keyakinan hati dan naluri kita sebagai manusia yang mandiri.
?
Pada satu ketika, saat kita merasa semakin terjebak dan tersesat jauh dalam kerumitan hidup, hanya ada tiga pilihan yang bisa kita jalani: berhenti kemudian menelusuri kembali jejak benang yang sudah kita urai, kembali ke titik awal kita melangkah dan mengulangi lagi langkah hidup kita dari awal; atau berhenti sejenak, kemudian meminta bantuan petunjuk arah dari orang lain di menara; atau justru berhenti sejenak dan memilih bertahan sendirian dalam kerumitan jalan ke depan padahal kita tidak yakin atas langkah lain ke depan.
?
Semua pilihan hidup kita yang miliki, dan otoritas penuh diri kita untuk menjalani. Ada konsekuensi atas tiga pilihan tadi, dan konsekuensi itu hanya diri kita sendiri yang akan menanggungnya.
?
Memang hanya saja setiap orang memaang perlu menakar kemampuan dan waktu yang dimiliki dalam hidupnya untuk mengambil keputusan terbaik ketika harus terjebak dalam labirin kehidupannya. Jangan sampai, belum juga mengambil keputusan, waktunya sudah habis, dan terlanjur bertemu dengan Minotaur -monster yang tanpa ampun menghabiskan seluruh sisa perjalanan hidup kita.

  • view 202