HUJAN

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Juni 2016
HUJAN

Sore ini saya memaksa diri untuk menembus hujan demi cepat sampai ke rumah, walau pada akhirnya, saya mendapati sebagian dari tubuh saya basah karena air hujan.
Dan seperti tak perlu lagi diprediksi (karena menjadi hampir pasti), sepanjang Jalan Sudirman lumpuh, tergenang tinggi karena limpasan air hujan yg kalau diibaratkan, sang air bingung harus mencari kemana, letak gorong-gorong yg bisa membawanya ke tempat yg lebih leluasa dibandingkan jalan raya.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat payung-payung beraneka warna berjajar rapi di sepanjang trotoar, dengan raut berbeda di setiap manusia di bawahnya. Ada yg santai menikmati dingin dan sejuknya air dari langit, ada yg berkali2 melihat jam di tangannya seolah tengah menghitung mundur waktu yg dimilikinya, ada juga yg berbincang dengan penghuni payung sekitarnya dengan nada suara meninggi mengalahkan suara deras air hujan, ada pula yang bersungut-sungut, cemberut seperti tengah memarahi hujan.

Darwis Tere Liye pernah menulis buku berjudul "Hujan", buku science fiction yg bercerita tentang ramuan kisah romantis dengan bumbu kisah ilmiah yang berpacu pada puluhan tahun ke depan kehidupan manusia dengan kecanggihan di luar logika manusia saat ini. Romantisme dan science yg kerap kali sulit didefinisikan nalar, namun berhasil diracik unik dengan jalan cerita yang menarik.

" Kenapa kita mengenang banyak hal saat Hujan turun? Karena kenangan seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa di tunggu, hingga selesai dengan sendirinya", menjadi salah satu kutipan menarik dari buku ini.

Dalam kacamata berbeda, hujan didefinisikan secara ilmiah melalui siklus bernama Siklus Hodrologi, yaitu sirkulasi air dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara terus menerus. Siklus hidrologi memegang peran penting bagi kelangsungan hidup organisme bumi. Melalui siklus ini, ketersediaan air di daratan bumi dapat tetap terjaga, mengingat teraturnya suhu lingkungan, cuaca dan ketersediaan unsur air di bumi. Proses terjadinya hujan dimulai dari tahap penguapan (evaporasi), kondensasi (perubahan uap air menjadi awan), presipitasi (mencairnya awan karena perbedaan suhu), hingga tahap infiltrasi (penyerapan air ke dalam tanah).
Ketersediaan air di bumi adalah tetap, dan berputar dengan siklus hidrologi tadi.

Siklus.
Hujan sejatinya mengajarkan banyak hal tentang siklus, peredaran atau sirkulasi, yg seluruhnya berjalan pada jalur yang telah diatur dan ditentukan. Alurnya bersifat relatif -relatif pendek, atau panjang, namun sifatnya hanya berputar, dan tidak menambah atau mengurangi sesuatu yg terlibat dalam siklus tersebut. Layaknya hujan yang tidak pernah mengurangi dan menambah debet air di bumi, pun sama halnya dengan siklus hidup, yang tidak juga menambah atau mengurangi esensi hidup bagi masing-masing orang.

Siklus hidup manusia juga bersifat relatif, relatif baik atau buruk, relatif bermanfaat atau tidak, atau relatif menyenangkan atau membosankan. Namun tujuannya sama, bahwa setiap siklus adalah menciptakan keteraturan dan keseimbangan.

Hujan mengajarkan kita tentang daur teratur yang sifatnya berputar, berkesinambungan, yg pada akhirnya akan kembali ke titik awal, air yg akan kembali menguap, dan berulang seterusnya.
Pun sama halnya dengan hidup.
Kejadian dan keadaan menyebalkan dalam hidup, misalnya, sebenarnya adalah bagian dari siklus tadi, yg pada satu waktu akan beralih pada tahap selanjutnya -makin menyebalkan atau justru berubah menyenangkan. Begitupun dengan keadaan dan kejadian baik,yg siklusnya tetap berjalan, bisa mengarah semakin baik, atau justru sebaliknya.

Belajar dari hujan adalah belajar untuk berpasrah diri, membiarkan siklus itu berjalan sesuai aturan, dan alur yg harus dijalani. Karena nantinya, siklus itu akan terus berputar, melalui tahap2 lain, dan pada akhirnya kembali ke titik awal siklus itu dimulai. Tujuannya (sekali lagi), adalah keseimbangan dan keyeraturan.

Dan sambil menunggu siklus itu berputar dengan sendirinya, ada banyak hal yg bisa dilakukan untuk membuat setiap tahap yg dilalui terasa selalu menyenangkan, ringan dan sesuai espektasi ke depan, layaknya kepadatan Jalan Sudirman sore ini. Kendaraan seperti tengah terparkir berjejer di sepanjang jalan, tanpa menyisakan ruang untuk menepi apalagi berputar arah, di bawah hujan yg belum juga berhenti.
Dan mereka sedang menunggu siklus itu berlalu, yg diyakini pasti akan segera berlalu. Menikmati hujan dengan bercengkrama, berselancar di dunia maya, meluruskan punggung di kursi kendaraan, atau sekadar memakan sebutir permen yang tersisa di laci dashboard.

Hujan ini pasti berlalu.

 

gambar diambil dari : http://m.solopos.com/2013/01/10/waspadai-hujan-malam-hari-366740

  • view 144